Komunikasi Bebas Konflik (Nigatena Hitoga Kini Naranakunaru Hon)

Komunikasi Bebas Konflik (Nigatena Hitoga Kini Naranakunaru Hon)

Buku berjudul “Komunikasi Bebas Konflik (Nigatena Hitoga Kini Naranakunaru Hon)” ini menarik dibaca karena Hiromi Yamasaki, penulisnya, tidak menggurui mana yang benar dan salah, karena pola komunikasi setiap orang berbeda. Pola komunikasi setiap orang berbeda dalam hal tindakan, pemikiran, dan emosinya. Pola komunikasi tidak dibedakan superior dan inferior. Jika kita tidak memahami pola yang berbeda, maka kita memaksakan pola diri kita kepada orang lain dan akhirnya menimbulkan konflik dengan orang lain.

Menurut Yamasaki, jika dalam satu kelompok orang terdiri dari 10 orang, tidak mungkin kita bisa cocok dengan kesepuluh orang tersebut. Umumnya, hanya 20% saja yang dirasa cocok, biasa saja 60%, dan tidak cocok sebanyak 20%. Jadi, pasti di mana pun kita berada, pasti akan menemukan orang yang dirasa sulit untuk dihadapi atau dirasa tidak cocok. Sama seperti apa yang dialami sehari-hari di tempat kerja?  Buku ini memang mendeskripsikan apa yang dilakukan oleh penulis selama menjadi coach komunikasi.

Selama kita bekerja tentu saja tidak bisa memilih atasan, rekan sejawat, atau bawahan. Jadi, apa yang bisa dilakukan dalam berkomunikasi bebas konflik? Langkah pertama dalam komunikasi bebas konflik dengan orang lain, bukan dengan mengubah orang lain melainkan mengenal diri sendiri. Dengan mengetahui pola diri sendiri, maka dapat memilih pola yang berbeda dari biasanya.

Setelah mengenal diri sendiri, selanjutnya Yamasaki menyampaikan hal-hal penting yang berguna untuk membuat pekerjaan dalam tim yang beranggotakan beberapa orang agar lebih baik dan lancar. Manusia memiliki keinginan untuk diakui eksistensinya. Mengakui eksistensi lawan merupakan hal penting dalam hubungan dengan orang lain. Caranya bisa dengan hal sederhana seperti mulai menyapa dan menyebutkan nama orang. Yang penting adalah bagaimana lawan bicara merasa tenang ketika berhubungan dengan anda.

Saat pekerjaan berjalan lancar, kita juga akan mendapat perhatian dan penghargaan dari orang-orang sekitar, sehingga secara psikologis kita jadi bersemangat dan bisa berusaha sesuai kemampuan. Tapi di saat pekerjaan tidak berjalan lancarlah, adanya pengakuan eksistensi menjadi penting.

Meskipun orang tidak berhasil mencapai angka capaian kinerja, tanpa melalaikan tugas dan terus berusaha maka perlu diperhatikan usahanya daripada hasilnya. Setiap orang pasti punya sesuatu yang cemerlang. Orang yang bisa menemukan dan memunculkannya akan bisa menjadi pemimpin yang baik.

Lalu ucapkan terima kasih, karena ucapan terima kasih membawa pengaruh. Meskipun ucapan terima kasihmemang hal yang lazim, tapi tidak banyak orang yang bisa mengucapkan dan menyampaikannya dengan baik. Contohnya, ucapan “berkat materi buatanmu yang mudah dipahami, presentasi jadi berjalan lancar” akan mudah membuat lawan bicara merasa dirinya berguna dibandingkan ucapan “terima kasih sudah menyiapkan materinya”.

Pada Bab Ketiga, Yamasaki memperkenalkan satu kasus kesuksesan dengan saling memanfaatkan kelebihan masing-masing orang dalam satu tim. Seorang karyawan laki-laki yang lebih muda bekerja dengan sangat unggul, ingin melakukan perubahan di tempatnya bekerja. Namun, karena kantornya kuat kecenderungannya untuk melakukan pekerjaan seperti sebelum-sebelumnya, ia selalu melawan dengan bicara blak-blakan, “Kenapa cara kerjanya seperti itu? Kalian kerja lihat ke mana sih?” Akibatnya, atasannya menganggap ia kurang ajar yang kemudian menjadi siklus perselisihan dengan orang-orang di sekitarnya.

Saat karyawan laki-laki itu bekerja sama dalam satu tim dengan karyawan perempuan yang tugasnya melakukan perencanaan dan mengelola acara, karyawan perempuan tersebut mulai mengakui dan mengatakan “luar biasa” dan “kau punya bakat”. Begitu juga dengan karyawan laki-laki tersebut, sedikit demi sedikit jadi berbalik mengutarakan kelebihan karyawan perempuan tadi dengan mengatakan “senior berbakat untuk ini”. Mereka berdua saling memahami kelebihan masing-masing dan dampak dari saling memperkuat ini jadi memberikan lebih banyak hasil. Mereka berdua satu tim dan bisa membuat beberapa rencana baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Selain mengakui kelebihan orang, mengakui kelemahan diri sendiri dan menerima bantuan dari orang lain akan mengurangi konflik. Bagaimana langkah lainnya untuk berhubungan dengan orang lain tanpa menggunakan energi konfrontasi? Buku setebal 145 halaman ini dibagi ke dalam enam bab yang enak dibaca.

Bahkan penulis buku ini juga memberikan contoh konflik komunikasi di tempat kerja dengan ilustrasi komik yang menarik seperti sedang membaca komik Jepang, menghibur dan tidak kaku. Meskipun buku ini membahas hal yang serius, penting, dan terjadi sehari-hari di kehidupan pekerjaan, Yamasaki mengemas dan menyampaikannya secara luwes dan tidak kaku. Di akhir setiap bab buku ini ada semacam kertas kerja untuk membantu pembaca mempraktekannya di lingkungan kerjanya.

Buku ini cocok untuk kita yang bekerja di Kementerian Komunikasi dan Informatika agar memudahkan berhubungan dengan orang-orang baik internal sivitas maupun ketika berhubungan dengan mitra kerja bahkan dengan masyarakat. Tidak hanya cocok dibaca oleh para pegawai, buku dengan rating buku 15+ ini juga cocok dibaca pelajar, mahasiswa, bahkan ibu rumah tangga. Saat ini, baca buku itu mudah. Saya pinjam secara daring melalui aplikasi Ruang Buku Kominfo dari Perpustakaan Kominfo. Buku setebal 150 halaman ini jika diunduh ada sebesar 36,8 MB. Sama dengan peminjaman buku langsung ke perpustakaan Kominfo, buku ini hanya ada dua eksemplar. Pinjam bukunya pun terbatas waktunya selama 14 hari. Jika sudah sampai batas waktu peminjaman buku, secara otomatis akan hilang dari aplikasi di perangkat kita. Jika ingin punya buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini secara fisik bisa diperoleh di toko buku kesayangan dengan harga sekitar Rp71.500,00 sampai dengan Rp78.000,00.  

Resensi buku ini telah dipublikasikan di majalah Kominfo Next edisi 30, Juni 2021. Unduh di https://komin.fo/KNEXTJuni2021

Lida Noor Meitania

Menyukai kuliner dan kucing. Murah senyum tapi jarang menyapa kalau tidak disapa lebih dahulu. Kalau ketemu di jalan, sapa ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.