Berbagi di Tengah Pandemi Covid-19

Berbagi di Tengah Pandemi Covid-19

Sampai dengan tulisan ini dibuat, hari ini (27/3/2020), ada 187 negara/kawasan di dunia yang terjangkit Covid-19. Di Indonesia, Covid-19 telah berjangkit di 24 provinsi dari 34 provinsi. Sebanyak 790 orang positif terjangkit Covid-19, 31 orang sembuh, dan 58 orang meninggal dunia, data dari website covid19.go.id. Paling banyak di Jakarta sebanyak 472 orang, sesuai data dari corona.jakarta.go.id.
Presiden Joko Widodo menyatakan tidak ada lockdown, namun sesuai dengan anjuran World Health Organization (WHO) setiap orang diminta untuk beraktivitas di rumah saja, termasuk anak sekolah dan para pekerja.
Setiap pekerja yang bertemu orang lain dan menggunakan transportasi umum tentu saja terancam Covid-19. Dengan kebijakan work from home (WFH), diharapkan bisa membatasi penyebaran Covid-19. Tapi memang gak semua orang bisa WFH.
Tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat di rumah sakit rujukan Covid-19 tentu saja bekerja ekstra menangani pasien.
Gak hanya mereka, tenaga administasi, kebersihan, dan keamanan di rumah sakit juga penting.
Gimana dengan pencari rezeki lainnya yang mesti menafkahi keluarganya seperti tukang bakso, tukang bubur ayam, tukang sayur, yang dagangnya keliling dari rumah ke rumah? Abang pakeeeeetttt yang nganterin belanjaan online kita, abang ojol yang nganter gosend, gofood, grabfood, delivery?
Ini aksi saling membantu yang dilakukan oleh warga Jakarta dan daerah lainnya di tengah pandemi Covid-19 untuk memutus rantai penyebaran Covid-19:

Kesatu, donasi Alat Proteksi Diri (APD), seperti masker, sarung tangan, sepatu boot, google, baju hazmat, bagi tenaga kesehatan di rumah sakit rujukan Covid-19. Cepatnya penularan Covid-19 diperparah dengan Covidiot yang membeli serta memborong keperluan medis untuk dipakai pribadi di ruang publik, misalnya pergi ke pasar, ke supermarket, atau ke tempat publik lainnya. Bener juga kata Menteri Kesehatan, dr. Terawan Agus Putranto, di awal masuknya Covid-19 di Indonesia. Orang yang sehat ikut-ikutan beli barang medis akibatnya barang susah dicari dan harganya mahal kan. Meskipun sebagian orang gak terima karena ada pejabat publik terlalu blak-blakan bukannya menyediakan masker gratis, mengendalikan harga masker, apalagi waktu itu belum tahu kalau virusnya bisa melayang, lompat, dan bertahan di udara beberapa jam. Donasi APD ini bisa berupa bantu belikan, bantu uangnya aja seperti Sekolah Relawan, bahkan ada yayasannya perancang busana yang bantu jahit baju hazmat. Bener ya buat tenaga kesehatan lho bukan buat baju OOTD-nya Covidiot.

Kedua, menjadi relawan. Yang muda dan sehat, gak betah di rumah, dan senang kegiatan kemanusiaan bisa banget gabung jadi relawan antara lain di Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Kemendibud, rumah sakit, BUMN, Sekolah Relawan. Mahasiswa kedokteran bisa jadi relawan Kemendikbud, akan diberi pendidikan dan pelatihan, menjadi narahubung komunikasi, informasi, dan edukasi terkait Covid-19 serta dilatih triase dan penelusuran pasien Covid-19 juga pengujian pasien. Yang bukan mahasiswa kedokteran bisa jadi relawan penyaluran logistik atau disinfektan tempat publik. Selain itu, ada juga relawan layanan dukungan psikososial gratis.

Ketiga, produksi APD sendiri. Ada yang do-it-your-self (DIY) APD dari mika dan bando.

Keempat, donasi masker dan penyanitasi tangan (hand sanitizer) buatan rumahan buat ojol.

Kelima, berbagi makanan. Bisa dengan kirim makanan siap santap untuk para tenaga medis di rumah sakit atau dengan cara order Gofood/Grabfood untuk abang ojol.

Cuci tangan dengan sabun di air mengalir selama 20 detik

Keenam, berbagi air dan sabun cair di depan rumah. Sediakan saja sabun cuci tangan dan wadah air yang ada kerannya, isi air mentah. Supaya tukang sayur, tukang bubur ayam, tukang roti, abang pakeeeeetttt yang nganterin belanjaan online kita, abang ojol yang nganter gosend, gofood, grabfood, delivery bisa cuci tangan.

Ketujuh, bikin masker kain dan jual dengan harga terjangkau. Biasanya nih memang sebelum pandemi sudah punya usaha jualan kain online, kerajinan tangan (crafting), atau penjahit.

Kedelapan, jastip masker dan penyanitasi tangan dengan harga terjangkau. Ada teman yang buka jastip penyanitasi tangan buatan LIPI dengan harga sebotol 100 ml Rp27.000,-. Gak perlu curiga sama pedagang online bakal dikirim gak ya barangnya, asli alkohol gak ya, gak perlu ngantri di supermarket juga.

Jangan refil penyanitasi tangan di tempat umum seperti halte, stasiun, rumah sakit, maupun kantor sendiri ya. Jangan nyolong atau ngerampok masker di rumah sakit. Jangan nimbun masker dan penyanitasi tangan. Jangan jualan tapi barangnya gak sesuai, itu sama aja nipu. Jangan beli atau borong kebutuhan medis seperti masker medis, alkohol swap, sarung tangan medis, baju hazmat. Kalau tenaga medis gak kebagian padahal mesti melindungi diri selama merawat pasien kemudian sakit dan meninggal, lalu siapa yang akan merawat rakyat Indonesia yang sakit? Jangan egois di tengah pandemi Covid-19.

Bukan social distancing tapi physical distancing. Social distancing ya mungkin cocok di China, total lockdown diberlakukan di China, semua warganya di rumah aja. Tapi tidak di Indonesia.
Sebagian orang Indonesia memang ngeyel, ngableg, susah dikasih tahu. Diminta karantina mandiri di rumah masing-masing malah nantangin nyawa. Ya kali sekali ngumpul-ngumpul gak langsung mati. Nyebarin virusnya memang gak kelihatan. Apalagi carrier, mana tahu positif Covid-19 lha wong gak ada gejala sama sekali.

Tapi biar begitu, sebagian orang Indonesia lainnya mudah tergerak atas nama solidaritas, kemanusiaan dan senang berbagi. Jadi, aksi mana yang kamu pilih?

Lida Noor Meitania

Menyukai kuliner dan kucing. Murah senyum tapi jarang menyapa kalau tidak disapa lebih dahulu. Kalau ketemu di jalan, sapa ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.