Cegah Perkawinan Anak, Cegah Stunting

Cegah Perkawinan Anak, Cegah Stunting

Tahun 2019, kembali ada perkawinan anak SD dan SMP di Desa Ngulak, Kecamatan Sanga Desa, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, yang sempat viral di media sosial. Laki-lakinya masih kelas 2 SMP sedangkan perempuannya masih kelas 6 SD. Perkawinan ini direstui orang tua mereka dengan alasan mereka sama-sama saling cinta serta agar tidak zina.

Ada lagi di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, anak perempuan berusia 14 tahun dan laki-lakinya berusia 16 tahun. Setelah berpacaran selama 3 tahun, keduanya mendapat restu menikah dari orang tua, alasan orang tua lagi-lagi “menghindari zina”.

Masalah perkawinan anak ini kompleks banget. Gak sesederhana “menghindari zina” karena suka-sukaan, cinta-cintaan, love melulu, tapi banyak faktor penyebabnya. Misalnya kemiskinan, geografis, kurangnya akses pendidikan, ketidaksetaraan gender, konflik sosial dan bencana, ketiadaan akses terhadap layanan dan informasi kesehatan reproduksi yang komprehensif, norma sosial yang menguatkan stereotype gender tertentu (misalnya perempuan seharusnya menikah muda), dan budaya (interpretasi agama dan tradisi lokal).

Indonesia merupakan negara ke-7 di dunia dan ke-2 di ASEAN dengan angka perkawinan anak tertinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2018, ada 11,2% perkawinan anak yang artinya 1 dari 9 anak perempuan menikah pada usia 20-24 tahun dan ada 20 provinsi dengan prevalensi perkawinan anak di atas angka nasional. Target pemerintah adalah menurunkan ke angka 8,74% (2024), hingga 6,94% (2030).

Dari Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak, tinggal di wilayah pedesaan merupakan faktor risiko perkawinan anak. Faktor risiko lainnya adalah paparan media melalui internet, jumlah anak dalam keluarga, pendidikan orang tua, dan status sosial-ekonomi.

Pada kondisi khusus seperti bencana alam dan krisis kemanusiaan, perkawinan anak meningkat tiga kali lipat. Alasannya, antara lain, orang tua ingin melepaskan beban ekonomi, faktor keamanan, dan ketakutan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan. Maupun karena orang tua yang meninggal dunia akibat bencana. Ini terjadi di Palu, Sigli, dan Donggala, di Sulawesi Tengah, maupun di Gunung Sinabung, Sumatera Utara.

Sebelum usia 19 tahun jangan dulu menikah deh. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menentukan batas usia minimal perkawinan adalah 19 tahun baik laki-laki dan perempuannya. Meskipun begitu, bukan jaminan juga perkawinan anak bisa dicegah. UU ini memperbolehkan pengajuan dispensasi perkawinan jika calon pengantin tidak memenuhi persyaratan usia minimal kawin. Selain itu, ada aja yang pernikahannya tidak dicatatkan karena batas usianya tidak memenuhi syarat.  

Alasan hakim mengabulkan dispensasi perkawinan yang diajukan adalah: pertama, anak-anak berisiko melanggar nilai sosial, budaya, dan agama; dan kedua, kedua pasangan saling mencintai. Isu lainnya adalah kehamilan tidak diinginkan dan hubungan seks pranikah.

Padahal perkawinan anak ini bikin rugi! Mengapa? Pertama, potensi kegagalan melanjutkan pendidikan. Perempuan yang menikah di bawah usia 18 tahun memiliki peluang empat kali lebih kecil untuk menyelesaikan pendidikan lebih tinggi dari SMA. Kedua, potensi meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian. Ketiga, potensi meningkatnya angka kematian ibu. Komplikasi saat kehamilan dan melahirkan merupakan penyebab kematian terbesar kedua bagi anak perempuan berusia 15-19 tahun, serta rentan mengalami kerusakan organ reproduksi. Keempat, potensi meningkatnya kematian bayi. Bayi yang lahir dari ibu berusia di bawah 20 tahun berpeluang meninggal sebelum usia 28 hari atau 1,5 kali lebih besar dibanding jika dilahirkan oleh ibu berusia 20-30 tahun. Kelima, potensi kerugian ekonomi. Perkawinan anak diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi setidaknya 1,7% dari pendapatan domestik bruto (PDB). Ngerti ora son?

Kalaupun anaknya mampu bertahan hidup nih ya gizinya buruk dan bisa stunting. Apaan tuh stunting? Stunting itu kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan (sejak dalam kandungan hingga usia 2 tahun). Dampaknya, berat badan lahir rendah, kecil, pendek, kurus, perkembangan kognitif dan motorik terlambat. Gangguan metabolik saat dewasa, berisiko terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, stroke, jantung. Waduh koq risikonya panjang banget ya.

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan perkawinan anak? Berikan anak pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual, konseling, yang komprehensif. Dukung kesetaraan gender dalam keluarga dan komunitas. Advokasi pihak yang rentan mengalami perkawinan anak, terutama teman sebaya. Serta laporkan jika menemukan perkawinan anak di lingkunganmu ke kpai.go.id/formulir.

Lida Noor Meitania

Menyukai kuliner dan kucing. Murah senyum tapi jarang menyapa kalau tidak disapa lebih dahulu. Kalau ketemu di jalan, sapa ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.