Para peserta menuju ke Museum Rekor Indonesia dengan LRT.

Wisata Kota Difabel: Fasilitas Transportasi Apa Saja yang Perlu Dibenahi?

โ€œAnak saya paling senang kalau diajak jalan-jalan seperti ini. Apa yang saya lakukan sekarang tidak hanya untuk anak saya saja, tapi juga untuk membangun kesadaran/awareness public terhadap kesetaraan akses fasilitas umum bagi para penyandang disabilitas โ€, ucap Litawati.

Sama dengan seorang ibu lainnya, Litawati berjuang untuk kehidupan masa depan putranya yang sejak usia 3 tahun didiagnosis menderita Celebral Palsy. Lita tidak berjuang sendiri, bersama para ibu lainnya dan teman-teman penyandang disabilitas serta Koko Jali turut menyerukan pemenuhan kebutuhan hak dasar anak dan pemenuhan hak penyandang disabilitas, salah satunya dengan gerakan Wisata Kota Disabilitas, Jumat (21/02).


Wisata Kota Disabilitas diawali dengan sharing Atlet Disabilitas di Veldrom lalu naik LRT dan Bus Trans Jakarta menuju Museum Rekor Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh teman-teman dari beragam disabilitas: Tuna Netra, teman-teman Tuli, dan anak-anak Celebral Palsy.

Peserta Wisata Kota Difabel melakukan napak tilas Museum Rekor Indonesia.
Peserta Wisata Kota Difabel melakukan napak tilas Museum Rekor Indonesia.
Fotografer: Jillian Robertson


Sesampainya di Museum Rekor Indonesia, masing-masing peserta dari beragam penyandang disabilitas memberikan masukan dan saran terkait hambatan selama perjalanan menggunakan LRT dan Bus Trans Jakarta. Menurut teman-teman pengguna kursi roda untuk fasilitas LRT Jakarta salah satunya masih ada jarak antara peron dan kereta, usulannya perlu adanya ramp portable. Area khusus bagi pengguna kursi roda di dalam kereta hanya muat bagi satu pengguna kursi roda. Fasilitas lift bagi lansia dan disabilitas sudah memadai. Sementara untuk Bus Trans Jakarta masih belum inklusi bagi pengguna kursi roda. Tidak ada ruang untuk pengguna kursi roda di dalam bus dan ramp portable untuk kursi roda masuk ke dalam bus.


Untuk fasilitas LRT bagi teman-teman tuna netra dengan adanya guiding block dan pengeras suara sudah membantu. Untuk teman-teman tuli dengan adanya layar visual penanda tempat/lokasi sudah lumayan terfasilitasi. Sementara untuk halte trans Jakarta masih minim guiding block meskipun para petugasnya ramah membantu.


Indonesia yang inklusi dapat tercapai ketika masyarakat Indonesia beradab, setara, dan tanpa diskriminasi. Salah satunya yang perlu dibenahi adalah sarana infrastruktur transportasi yang masih jauh dari kata inklusi. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 98 tahun 2017 tentang Penyediaan Aksesibilitas Pada Pelayanan Jasa Transportasi Publik Bagi Pengguna Jasa Berkebutuhan Khusus, penyelenggara jasa transportasi publik harus menyediakan sarana dan prasarana layanan yang aksesibel bagi pengguna jasa disabilitas.

Para peserta menuju ke Museum Rekor Indonesia dengan LRT.
Para peserta menuju ke Museum Rekor Indonesia dengan LRT.
Fotografer: Jillian Robertson


Berikut aksesibilitas bagi disabilitas pada sarana transportasi paling sedikit meliputi:

  1. Alat bantu untuk naik turun dari dan ke sarana transportasi;
  2. Pintu yang aman dan mudah diakses;
  3. Informasi audio/visual tentang perjalanan yang mudah diakses;
  4. Tanda/petunjuk khusus pada area pelayanan di sarana transportasi yang mudah di akses;
  5. Tempat duduk prioritas dan toilet yang mudah diakses; dan
  6. Penyediaan fasilitas bantu yang mudah di akses, aman dan nyaman.

Aksesibilitas bagi pengguna jasa berkebutuhan khusus pada prasarana transportasi, meliputi:

  1. Ubin tekstur pemandu [guiding block) pada prasarana;
  2. Transportasi (pedestrian, loket,toilet dll);
  3. Tanda/petunjuk khusus pada area pelayanan yang mudah di akses (parkir, loket, toilet dll);
  4. Informasi visual/audio terkait informasi perjalanan;
  5. Pintu/gate aksesibel dengan dimensi yang sesuai dengan lebar kursi roda;
  6. Area menaikkan dan menurunkan penumpang (drop zone);
  7. Ramp dengan kemiringan yang sesuai;
  8. Akses untuk naik turun penumpang yang aksesibel pada bangunan bertingkat;
  9. Toilet yang aksesibel dengan dimensi pintu toilet yang sesuai dengan lebar kursi roda;
  10. Loket tiket/counter khusus ticketing yang mudah diakses;
  11. Ruang tunggu dengan kursi prioritas;
  12. Ruang menyusui/nursery room dilengkapi dengan fasilitas sofa, baby tafel setinggi pinggang wanita, penyejuk udara, wastafel, tempat sampah, dan dispenser air minum;
  13. Poliklinik;
  14. Ruang bermain anak;
  15. Tempat parkir;
  16. Akses bahaya kebakaran; dan
  17. Ketersediaan kursi roda yang siap pakai;

Sebagai renungan diakhir tulisan ini, penulis teringat dengan quotes salah satu tokoh aktivis disabilitas, Surya Sahetapy: โ€œDisabilitas bukan karena fisik saya atau saya tuli. Disabilitas terjadi karena lingkungan belum siap. Jadi, tugas kita bersama untuk mewujudkan lingkungan Indonesia agar menyesuaikan dengan kebutuhan teman-teman disabilitas semuaโ€.

One thought on “Wisata Kota Difabel: Fasilitas Transportasi Apa Saja yang Perlu Dibenahi?

  1. Dengan adanya perhatian dan edukasi semua pihak terutama dari stakeholder .. rasa2nya lambat laun masyarakat pun akan siap untuk saling membantu teman2 disabilitas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.