Mencari Warteg di Kota Tegal

Mencari Warteg di Kota Tegal

Sepanjang hidup, saya sering makan di warteg atau warung tegal tapi belum pernah saya ke kota Tegal. Di daerah asal saya, Daerah Istimewa Yogyakarta, bertebaran warteg selain burjo Kuningan. Di Ibukota Jakarta apalagi, di mana-mana ada warteg. Nah, dua tahun yang lalu di bulan Maret, saya berkesempatan mengunjungi Tegal, ibukotanya warteg.

Catatan Wikipedia, Tegal berjarak sekitar 175 kilometer dari kota Semarang, pusatnya Provinsi Jawa Tengah. Di sekitarnya, ada kota-kota Brebes, Pemalang, dan lain-lain. Berdasar sensus penduduk tahun 2010, populasi Tegal mencapai 239.599 jiwa. Namun data terkini diestimasi 242.539 jiwa.

Kultur kuliner khas Tegal unik menurut saya. Kekuatan sebutan warteg — di berbagai belahan sudut negeri bahari yang dominan agraris ini — hanya berasosiasi dengan “warung Tegal”. Saking kuatnya, di Tegal sendiri, namanya bukan warung makan, namun tetap dipertahankan dengan sebutan warteg.

Menurut Okezone Files, keciri warteg adalah tiga menu sajian ini, yakni mirong udang (ini gorengan tipis tipis dengan topping udang), tempe goreng (ini juga sama tipis tipis tapi dari tempe), dan soto ayam. Katanya itu menu khas warteg asli orang Tegal.

Dialek Tegal pun menyegarkan khazanah berbahasa Indonesia atau bahasa daerah yang saya nikmati. Bahkan kultur Tegal sempat masuk ke dunia layar kaca melalui iklan yang ikonik saat itu. TVC permen Hexos episode Aslinya mana, mas? di YouTube.

Berangkat. Bekerja.

Bersama rombongan kecil dari kantor, saya naik kereta api malam dari stasiun Gambir menuju ke stasiun Tegal. Jarak yang ditempuh dari Jakarta ke Tegal sekitar 290 kilometer dalam kurun waktu empat jam. Perjalanan santai dan keretanya cukup lengang, mungkin karena bukan akhir pekan ya.

Tiba di Tegal hampir tengah malam dan kami menginap di sebuah hotel dengan balkon kamar menghadap kolam renang. Persiapan kegiatan dibereskan sebelum dini hari menjelang agar di pagi hari, tersedia tenaga untuk forum diskusi publik bersama masyarakat nelayan di Tegal dan sekitarnya.

Singkat cerita, kegiatan “dimaksud” berjalan lancar dan dinamis. Sangat dinamis bahkan. Maksudnya diskusi antara panelis dengan peserta berlangsung meriah dan penuh perdebatan. Foto berikut saya kira cukup mewakili lah ya. Peserta sampai naik ke podium panelis. Ahahaha

Kalau mau cari sendiri di YouTube, ada ko. Gunakan kata kunci “Menjaga Kelestarian Ekosistem Sumber Daya Ikan Laut” dan bakalan muncul empat video dari TATV Solo periode 11 – 12 April 2018. Seru!

Okay. Kerjaan selesai. Saatnya piknik.

Dengan dua sobat kantor, sebut saja Agus dan Hendra, saya menyambangi kawasan pelabuhan untuk berburu foto sekalian menguji gawai seluler Huawei VNS-L31 atau populer dengan nama P9 Lite. Basisnya Android versi 7.0 dengan EMUI versi 501, dapur pacu Kirin 650 didukung RAM 3GB. Dua tahun lalu itu, dan sekarang baterai hapenya sudah soak.

Siang hari, kami masuk ke dermaga Tambat Labuh, Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari. Aroma khas laut dan pelabuhan menyambut hidung dengan sengatan tajam. Saya butuh beberapa menit untuk menyesuaikan diri serta menyiapkan setting-an kamera ponsel karena langit sangat cerah dan matahari sedang asyik menyinari Tegal.

Perkiraan saya cukup tepat. Banyak bentuk kapal yang keren untuk belajar eksplorasi sudut. Lalu permainan warna yang dikombinasikan pada setiap lambung dan badan kapal nelayan. Berpadu dengan jemuran pakaian serta jaring ikan bergelantungan.

Berburu foto sebetulnya lebih asyik jika masyuk. Apalagi bisa mengambil aspek human interest yang diramu dengan obrolan bersama masyarakat nelayan dan pedagang ikan di area itu. Namun, waktu yang terbatas karena tiket kereta kembali ke Jakarta sudah dipatok sore hari, saya hanya berkeliling pelabuhan dan TPI Jongor saja.

Foto yang tersimpan hanya sedikit. Entah di kamera DSLR-nya Agus atau di ponselnya Hendra apakah masih ada. Dua tahun yang lalu soalnya.

Kamu asli Tegal? Atau pernah ke Tegal? Bagi kisah di kolom komentar yaaa ^^

Donum Theo

aseli Daerah Istimewa Yogyakarta yang ber-KTP Daerah Khusus Ibukota Jakarta; menyukai pare dalam sepiring siomay; boleh dibuatkan kopi tubruk tanpa gula;

2 thoughts on “Mencari Warteg di Kota Tegal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.