Cegah Stunting Itu Penting

Cegah Stunting Itu Penting

Suparti, dari Desa Kamolan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah mengaku memiliki anak stunting, meskipun tidak tahu apa tanda-tanda anak stunting. Ia merupakan salah satu peserta Forum Dialog Bantuan Sosial dalam Rangka Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, Kabupaten Blora, Jumat (13/9/2019).

“Tanda-tandanya apa?” tanya Bupati Blora, Djoko Nugroho,

“Gak tau,” kata Suparti, dari Desa Kamolan, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah.

“Setelah diberi bantuan, hasilnya bagimana?” tanya Bupati Blora.  

“Alhamdulillah sehat”, jawab Suparti.

Empat bulan sebelumnya, panjang badan anaknya Suparti 42 cm. Saat berdialog dengan Bupati Blora, panjangnya telah mencapai 54 cm, bertambah 14 cm dalam waktu 4 bulan setelah diberi bantuan sosial oleh pemerintah.

Selain Suparti, ada juga seorang ibu dari Keluarga Penerima Manfaat yang membawa anak ketiganya yang berusia 10 bulan. Anaknya yang berusia 13 tahun masih kelas 3 SD karena kurang bisa mengikuti pelajaran.

“Berarti ketahuannya stunting nambah,” lanjut Bupati Blora.

“Kabupaten Blora ini terdiri dari 16 kecamatan, 171 desa, dan 24 kelurahan. Jumlah penduduknya hampir 900ribu jiwa. Luas wilayah kurang lebih 180ribu hektar. Kemiskinan masih tinggi 11,9%, stunting juga cukup tinggi. Dengan bantuan dari pemerintah pusat, stunting dapat ditekan,” kata Bupati Blora.

“Penanganan stunting di Kabupaten Blora nomor 1. Karena banyak inovasi OPD maupun keroyokan yang kita laksanakan di Kabupaten Blora. Dan program kita jadi model di beberapa kabupaten kota lain. Misalnya kelor. Tanaman kelor yang mendunia. Banyak tamu asing yang datang menjalin kerja sama. Khasiatnya kelor nutrisinya itu luar biasa. Tidak hanya nutrisi tetapi juga obat-obatan. Ibu-ibu juga kita intervensi ke sana. Hanya sayang bagi orang Jawa di Blora, kelor itu tanaman yang keramat,” kata Bupati Blora.  

“Senang atau tidak menerima PKH dan BPNT? Diberi bantuan oleh pemerintah itu untuk anak-anaknya. Kalau hamil, dapat gizinya agar bayinya sehat. Jangan dibelikan pulsa. Sudah dikasih telur, jangan dijual untuk beli rokok buat bapak-bapaknya. Boleh atau tidak seperti itu?”

“Mboteeennn,” jawab ibu-ibu yang hadir, yang kompak menjawab tidak.

“Pak Jokowi, melalui kementerian sangat ingin rakyatnya semua sehat sehingga memberikan bantuan sosial untuk mengasuh anak supaya sehat dan pintar. Kalau sudah besar jadi orang kaya kan yang senang kalian semua. Awas ya kalau ketahuan saya dibelikan pulsa dan rokok. Saya hentikan (bantuan sosialnya),” katanya kemudian.  

Forum Dialog Bantuan Sosial dalam Rangka Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting di Kabupaten Blora

Selanjutnya, Bapak Wiryanta, Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, menyampaikan bahwa awal mewujudkan “SDM Unggul Indonesia Maju”, adalah dengan mencegah stunting dan kesadaran untuk KB.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir. Akan tetapi, kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.

Anak stunting bisa dikenali dengan ciri-ciri pertumbuhan tinggi badan lambat, pubertas terlambat, usia 8-10 tahun anak berubah pendiam tidak banyak eye contact, perhatian dan memori belajar menurun, masuk usia remaja wajah tampak seperti masih anak-anak, dan tumbuh gigi terlambat.

Dicky Nurwahyu Febrianto, Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Blora bilang bahwa penyebab stunting multidimensi. Intevensi yang paling menentukan adalah 1000 hari pertama kehidupan. Tidak hanya gizi buruk namun juga praktek pengasuhan yang buruk.

Pemanfaatan bantuan sosial yang dimaksud dalam konteks perbaikan gizi adalah pemanfaatan produk Bantuan Pangan Non Tunai berupa telur. Telur merupakan sumber protein hewani yang perlu dikonsumsi ibu hamil, bayi, dan balita agar terhindar dari defisiensi kalori dan protein yang dapat menyebabkan stunting. Selain asupan gizi, pemantauan tumbuh kembang anak melalui pemanfaatan berbagai fasilitas layanan kesehatan (faskes) juga perlu dilakukan secara rutin. Untuk itu Pemerintah, melalui Program Keluarga Harapan (PKH), menjadikan ini sebagai salah satu syarat bagi KPM PKH untuk mendapat bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH). Ibu hamil dari Keluarga Penerima Manfaat diwajibkan untuk memeriksakan kehamilan di fasilitas kesehatan sebanyak minimal empat kali selama masa kehamilan, melahirkan di fasilitas pelayanan kesehatan, serta pemeriksaan kesehatan ibu nifas empat kali selama 42 hari setelah melahirkan (Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 39 Tahun 2016).

Setiawan Kosasih, Korwil PKH Jawa Tengah III bilang bahwa penerima bantuan sosial ada yang tidak layak terima bantuan karena sudah mampu secara ekonomi. Ini menjadi tugas pendamping PKH mendatanya.

“Bagi KPM yang sudah mampu secara ekonomi, harap melapor sebelum didatangi petugas dan dicek kondisi rumahnya,” kata Setiawan Kosasih.

Berita mengenai forum dialog ini bisa dibaca juga di sini.

Lida Noor Meitania

Menyukai kuliner dan kucing. Murah senyum tapi jarang menyapa kalau tidak disapa lebih dahulu. Kalau ketemu di jalan, sapa ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.