Benarkah Jokowi Hapus Cuitan Twitternya?

Benarkah Jokowi Hapus Cuitan Twitternya?

Saya pikir kali ini akan jadi postingan tentang akun Presiden Indonesia yang gampang dibuat karena rencananya hanya berupa daftar akun saja. Dengan buka peramban web, berselancar sejenak, copas sana copas sini, saya perkirakan langsung tamat. Ternyata tidak. Mengumpulkan akun Twitter para Presiden Republik Indonesia menjadi sebuah perjalanan pribadi yang menarik.

Kenapa bisa begitu? Pertama, sejak 74 tahun republik ini berdiri, kita punya tujuh presiden. Temuan saya adalah hanya ada dua presiden Republik Indonesia yang punya akun Twitter dan dikelola secara layak. Ya, dua orang itu adalah SBY dan Jokowi.

Jenderal TNI (HOR.) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, M.A., GCB., AC.

Susilo Bambang Yudhoyono bergabung dalam dunia perkicauan sejak tanggal 27 Maret 2013, namun kicauan pertama dibuat dua minggu kemudian, pada tanggal 13 April 2013 pukul 7.25 WIB. Cuitan pertamanya adalah ini:

Halo Indonesia. Saya bergabung ke dunia twitter untuk ikut berbagi sapa, pandangan dan inspirasi. Salam kenal. *SBY*

Dikutip dari laman biodata Twitter-nya, akun @SBYudhoyono adalah akun resmi Presiden Ke-6 RI (2004-2014) Susilo Bambang Yudhoyono tapi dikelola oleh Staf Pribadi, plus keterangan ikonik, yakni “twit” dari Susilo Bambang Yudhoyono ditandai *SBY*. Akun ini sudah diverifikasi oleh Twitter sehingga mendapatkan tanda centang biru di samping kanan akun alias the so-called blue ribbon.

Selama enam tahun SBY berkicau, terdapat 4.841 kicauan, dengan jumlah follower mencapai 10.109.489 akun, dan hanya mengikuti 125 akun milik orang lain. Jumlah unggahan media mencapai 1.086 foto dan video. Kini, dia tidak terlalu aktif lagi dalam dunia kicauan yang saya akui memang melelahkan baik secara jasmani maupun rohani. Kudos to SBY!

Satu hal lagi yang menarik adalah aspek pengakuan warganet terhadap akun Twitter SBY, selain jumlah pengikut dan jangkauan (Reply, Retweet, dan Like), adalah hadirnya akun parodi. Bagi saya, SBY cukup beruntung karena dibuatkan akun parodi SBY dan yang paling kocak adalah @SBYeah. Setidaknya, sebagai pemerhati mode dan hair style, dua kicauan yang membuat saya tergelak saat itu adalah ini:

Masalah hari ini; BHD. Bad Hair Day.

dan ini:

Mau tahu rahasia rambut rapi yang membuat saya semakin nampak berwibawa? Pakailah GatSBY.

Oia, untuk menemukan kicauan perdana, baik punya diri sendiri maupun orang lain, kita bisa pakai formula pencarian from:username since:yyyy-mm-dd until:yyyy-mm-dd. Dalam kasus SBY, maka input di kotak pencarian adalah from:SBYudhoyono since:2013-03-01 until:2013-04-30. Voila!

Ir. H. Joko Widodo

Joko Widodo berkicau sejak tanggal 2 September 2011 pukul 22.21 WIB dengan akun @jokowi_do2 dan terjadi pengubahan Twitter handle menjadi @jokowi setelah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia ke-7. Menarik bahwa data cuitannya sejak 2011 hingga 2015 telah dihapus sehingga tangkapan pertama adalah tanggal 21 Juni 2015 pukul 4:22 WIB, yaitu:

Alhamdulillah bisa sahur bersama keluarga. Selamat berpuasa saudaraku semua. Ini tweet pertama saya sebagai presiden. -Jkw

Cuitan itu mendapatkan 6.500-an Reply, 12.000-an Retweet, dan 9.000-an Like. Saya sedikit kesulitan memastikan keterangan waktu karena data Twitter mengacu pada peladen di Amerika Serikat sehingga penanda waktu adalah 20 Juni 2015, tapi de facto, di Indonesia, cuitan pertama adalah 21 Juni 2015. Ga penting ya ahahahasu

Terkait data cuitan yang dihapus, saya duga Jokowi atau tim pengelola akun media sosialnya bersepakat bahwa jejak digital pada periode 2011 hingga 2015 tidak terdapat relevansi yang kuat sebagai presiden Indonesia setelah sebelumnya banyak peryataan yang dicuitkan sebagai gubernur DKI Jakarta. Memang ini keputusan politis dan saya anggap langkah yang tepat. Bahkan saya menganjurkan agar setiap tahun, arsip cuitan perlu dihapuskan.

Rekam jejak digital seseorang di media sosial tidaklah selalu membuat tersenyum dan dada menggembung penuh kebanggaan. Tidak. Justru era yang luar biasa gila sekarang menuntut tidak hanya warganet pada umumnya, melainkan juga politisi, aparat penegak hukum, pejabat publik, hingga artis untuk rajin menengok jejak digital di media sosial selama setahun belakangan atau sejak awal mulanya lantas di-ha-pus-kan. Saya ulangi ya, di – ha – pus – kan.

Bagi seorang Jokowi, ini langkah politis yang memang harus diambil dan sebaiknya dijadikan contoh bagi pejabat publik atau politikus lainnya. Cuitan selama menjadi Gubernur DKI Jakarta bisa menjadi materi dan narasi yang kontraproduktif atas posisi sebagai Kepala Pemerintahan Republik Indonesia. Karena rekam jejak digital yang terbongkar itu bikin perihhh, jenderal =))

Contohnya tentang biodata Joko Widodo di laman Twitter yang singkat saja. Dulu, keterangan yang dicantumkan adalah “Pengennya sederhana dalam kesederhanaan” dan sekarang menjadi “Akun Twitter resmi Presiden Republik Indonesia Joko Widodo” diikuti ikon Sang Saka Merah Putih lalu diberi tagar #MenujuIndonesiaMaju. Akun Jokowi juga telah diakui Twitter sebagai verified account dengan penanda centang biru disampingnya.

Sayang sekali, saya tidak berhasil menemukan metode penelusuran waktu pengesahan dari Twitter. Ini menarik karena aturan Twitter adalah jika sudah diverifikasi dan diubah username-nya maka pengguna akan kehilangan hak penggunaan the blue ribbon. Tapi maklum saja kalo centang biru akun @jokowi tetap dipertahankan. Lha wong Presidennnnnnn!

Selama delapan tahun ngetwit, selain salah satu cuitannya pernah dinobatkan sebagai Golden Tweet 2016 oleh Twitter Indonesia, Jokowi menorehkan prestasi sebagai salah satu pemimpin dunia dengan follower terbanyak, setelah Donald Trump, Paus Fransiskus, Narendra Modi, dan Recep Tayyip Erdogan.

Saat postingan ini ditayangkan, follower Jokowi mencapai 12.271.543 akun, dengan 2.049 cuitan, hanya 60 akun yang difolbek, dan jumlah unggahan media mencapai 1.732 foto dan video. Di Indonesia, Jokowi masih jauh tertinggal dari akun @AgnezMo (17 juta) tapi sudah melewati akun @LunaMaya26 (11 juta).

Oia, SBY pencet satu Like, dan Jokowi dua Like. Tengok sendiri apa yang mereka like >:D

Penelusuran saya menggunakan SocialBearing, menunjukkan data aktivitas akun Twitter @jokowi yang menarik. Berdasarkan total cuitan, Jokowi sudah ngetwit selama 1.578 hari, dengan impresi 24,682,122,902 (24 milyar lebih), 5 juta Retweet, 19 juta Like, dan membalas 35 kali. Lalu sempat meritwit sekali untuk akun @indtravel. Konon, ngetwitnya paling sering pakai hape Android.

Namun justru cuitan dengan ritwitan terbanyak adalah saat Jokowi pakai iPhone dan konon katanya itu diketik sendiri karena pada akhir postingan dibubuhi tanda tangan -Jkw:

Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Jerusalem sebagai ibu kota Israel. Pengakuan itu melanggar resolusi DK dan Majelis Umum PBB. Saya dan rakyat Indonesia tetap konsisten bersama rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan hak-haknya -Jkw

Kita sama-sama menjadi saksi, akun Twitter Jokowi tumbuh dan berkembang dalam dunia perkicauan yang sangat meriah, bahkan tren post-truth politics tidak cukup untuk mengganjar sosok pakdhe Jokowi dengan sekedar akun parodi, melainkan hoaks, kabar burung, hujatan kebencian, hingga obituari!

Para Presiden RI

O.K. Bagaimana dengan para presiden yang lain? Soekarno? Soeharto? Gus Dur? Habibie? Megawati? Nanti dulu lah, yang penting bagi saya sendiri adalah pengalaman menulis ini sedikit membuka mata bahwa kadar pengakuan kita sebagai bangsa Indonesia terhadap para presiden Republik Indonesia termasuk rendah.

Soekarno sebagai presiden pertama dan terhebat dalam sejarah republik, tidak mendapatkan apresiasi dari dunia perkicauan. Betapa banyak kutipan dan infografis yang dibuat tentang Soekarno tapi ga ada satu akunpun tentang Sang Proklamator yang layak untuk diperhitungkan.

Soeharto? Rezim selama 32 tahun lebih tapi tak satupun akun Twitter yang dialamatkan kepada Bapak Pembangunan ini yang sekali lagi layak diperhitungkan dalam jagad perkicauan!

Ini jelas menjadi tantangan berikutnya 😉

Donum Theo

aseli Daerah Istimewa Yogyakarta yang ber-KTP Daerah Khusus Ibukota Jakarta; menyukai pare dalam sepiring siomay; boleh dibuatkan kopi tubruk tanpa gula;

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.