Ke Atambua, Jangan Lupa Ke Pos Lintas Batas Negara Motaain

Ke Atambua, Jangan Lupa Ke Pos Lintas Batas Negara Motaain

Akhir bulan Agustus kemarin, saya mendapat tugas ke Atambua, Ibukota Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ini adalah kedua kali saya ke Atambua. Pertama kali sekitar 8 tahun yang lalu, tahun 2011.  Pertama kali ke Atambua, saya bersama 5 orang lainnya termasuk pengemudi naik mobil kurang lebih 8 jam. Duduk di belakang, jalan berkelok-kelok lalu jackpot bikin tidak mau lagi ke Atambua. Tapi ke Atambua kali ini ternyata tidak bikin kapok. Begini ceritanya.

Untuk tiba di Atambua, hanya ada pesawat Wings Air dari Kupang. Pesawat ATR baling-baling yang kami tumpangi hanya menampung sekitar 40 orang saja. Selama terbang, bunyinya gedek gedek gedek dan setiap mau mendarat goyang-goyang aja seperti pasrah tertiup angin.

Perjalanan dari Kupang ke Atambua ditempuh sekitar 45 menit dengan kabin gratis 7 kg. Mbak counter check in minta tas saya ditimbang yang ternyata 9 kg sudah termasuk laptop, powerbank, air minum, kenangan masa lalu, dan beban hidup. Untungnya berat badan saya tidak ikut ditimbang.

PLBN Motaain

Tiba di Bandar Udara A.A. Bere Tallo, Atambua, langsung menuju ke Pos Perbatasan Lintas Negara Motaain (PLBN Motaain) di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, mengingat tutup jam 16.00 WITA.

Tiba di PLBN Motaain, kami meminta izin narsis ke prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang berjaga, supaya bisa meluncur ke Pos Perbatasan di Timor Leste demi konten di media sosial ala Kaka Lucky seperti di sini.

Pos Perbatasan (Posto Fronteirico Integrado) Republik Demokratik Timor Leste

Diantar seorang prajurit TNI, kami meninggalkan PLBN Motaain menuju Pos Perbatasan (Posto Fronteirico Integrado) Republik Indonesia – Republik Demokratik Timor Leste, untuk sekedar berfoto. Ternyata tidak hanya kami saja, ada lagi orang lain yang tidak punya tujuan ke Timor Leste selain berfoto di perbatasan. Untuk sekedar berfoto saja, kami tidak butuh paspor. Jika ingin silaturahmi ke rumah Om Raul Lemos di Dili, ibukota Timor Leste, harus bayar visa sebesar US Dollar 30.

“Selain PLBN Motaain, perbatasan RI dengan Timor Leste ada PLBN Motamasin di Kabupaten Malaka dan PLBN Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara. Di sini yang paling ramai, tidak ada hari libur,” kata Imul, prajurit Tentara Nasional Indonesia yang berjaga di PLBN Motaain.

Sebelum diresmikan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada Desember 2016, PLBN Motaain hanya berbentuk rumah-rumahan dengan bendera merah putih. Kini, bangunannya megah dengan arsitektur yang mengadopsi bentuk atap rumah adat Matabesi, yaitu rumah tradisional Belu.

Rumah Joni

Masih ingat dengan anak SMP dari Atambua yang viral karena inisiatifnya manjat manjat tiang bendera saat upacara 17 Agustusan tahun 2018? anak itu namanya Joni. Ia berinisiatif mengibarkan bendera merah putih saat talinya lepas. Setelah videonya viral di media sosial, banyak orang penting yang peduli dengan Joni. Salah satunya, rumah Joni di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, direnovasi jadi lebih bagus diantara rumah tetangga sekitarnya.

Saya dihampiri adik kecil, temannya Joni, setibanya di Rumah Joni.

“Joni tidak ada. Lagi sekolah,” kata adik kecil ini.

Ternyata, Joni menghadiri workshop pertukaran budaya pelajar Indonesia dan Timor Leste di Gedung Pos Lintas Batas Negara Motaain, kegiatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Yayasan Mekar Abadi.

Rumah Joni setelah direnovasi. Joni adalah anak SMP di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang viral manjat tiang bendera saat upacara 17 Agustusan 2018.

Fulan Fehan

Selain PLBN Motaain yang menjadi tempat wisata, ada beberapa wisata alam di Atambua yang juga menarik. Salah satunya Fulan Fehan, padang rumput sabana di lembah kaki Gunung Lakaan yang jaraknya sekitar 26 km dari Atambua.

“Kita mau ke mana, pak? Di mana tempat wisata alam di Atambua yang tidak perlu jalan kaki nanjak?” tanya saya pada pengemudi yang mengantar kami.

“Fulan Fehan saja kalau begitu,” jawabnya setelah menyebutkan beberapa lokasi wisata di Atambua.

“Apa itu?” tanya saya.

“Bukit teletubbies,” jawabnya lagi.

“Yang ada 6000 penari,” katanya kemudian karena saya masih diam tanda bingung.

Saya menggelengkan kepala.

“Gak tahu, pak. Ya nanti saya cari di Youtube,” jawab saya.

Ternyata di tahun 2017 pernah ada 6.000 penari membawakan tarian likurai di puncak bukit Fulan Fehan, yang terletak di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu. Acara ini memecahkan rekor MURI.

Tiba di Desa Dirun, kami cukup terguncang dalam arti sesungguhnya. Jalanannya di desa ini berbatu-batu dan nanjak terus ke atas bukit. Ngeri aja mobilnya terbalik.  

Setibanya kami di puncak bukit dengan hamparan rumput kering, ternyata kami dapat zonk karena musim kemarau. Mestinya padang rumput ini berwarna hijau dan indah sekali terhampar luas bagaikan lapangan golf yang berbukit-bukit dan luas. Sebelum keluar mobil, saya sempat berpikir bakal panas kalau keluar. Ternyata eng ing eng… anginnya kencang banget dan dingin.

Pengemudi yang mengantarkan kami, memasang lagu country di mobil. Seketika saya merasa berada di Texas, Amerika Serikat dan berkhayal ada koboi seperti di film Hollywood berbaju kotak-kotak dengan topi koboinya naik kuda melintas di depan mobil kami.

Apalagi dengan banyaknya kaktus yang tumbuh. Baru kali ini saya lihat kaktus di alam. Sebelumnya hanya tahu kaktus di pot kecil di pedagang tanaman atau yang dijual di hipermarket, yang saya beli untuk dipajang di balkon rumah dan di atas meja kerja, atau kaktus di Kebun Raya Bogor.  

Fulan Fehan

Itulah yang bisa saya kunjungi di Atambua, disela tugas menfasilitasi penyelenggaraan kegiatan Workshop Tanamkan Nilai Pancasila Melalui Unggah Konten Positif di Media Sosial, yang dilaksanakan di Gedung Batelalenok, Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu 28 Agustus 2019. Workshop ini kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Yayasan Mekar Abadi dan Pemerintah Kabupaten Belu. Beritanya bisa dibaca di sini.

Lida Noor Meitania

Menyukai kuliner dan kucing. Murah senyum tapi jarang menyapa kalau tidak disapa lebih dahulu. Kalau ketemu di jalan, sapa ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.