Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Judul buku ini terdengar nyeleneh, apalagi judul aslinya The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Justru inilah yang membuat saya tertarik untuk membacanya dan menulis resensi buku ini untuk pembaca setia Kantin.ID. Buku yang masuk dalam daftar buku Best Seller The New York Times dan Washington Post ini, ditulis oleh seorang narablog terkenal yang tinggal di New York, Amerika Serikat.

Di bab pertama buku ini, Mark Manson menceritakan Charles Bukowski, yang dulunya seorang pencandu alkohol yang senang main perempuan, pejudi kronis, kasar, kikir, tukang utang, dan penyair. Keinginannya menjadi seorang penulis, namun karyanya selalu ditolak oleh hampir setiap majalah, surat kabar, jurnal, agen, dan penerbit. Penolakan dan hinaan mendorongnya  depresi yang diperparah dengan alkohol. Sebagian besar gajinya sebagai penyortir surat di kantor pos, dihabiskan untuk minuman keras, narkoba, judi, dan pelacuran.

Mark Manson, penulis buku ini, melontarkan argumen bahwa manusia tak sempurna dan terbatas. Ia mengajak kita untuk mengerti batasan-batasan diri dan menerimanya, karena inilah sumber kekuatan yang paling nyata.

Sampai di usia 50 tahun, ada seorang editor sebuah penerbitan independen memberinya kesempatan. Buku perdananya yang diterbitkan, berjudul Post Office, menjadi awal karyanya yang lain 6 novel dan ratusan puisi, menjual 2 juta kopi. Keberhasilannya bukanlah hasil kegigihannya untuk menjadi seorang pemenang, namun dari kenyataan bahwa ia tahu kalau dirinya seorang pecundang, menerimanya, dan kemudian menulis secara jujur tentangnya. Ia hebat karena kemampuan sederhananya untuk jujur pada diri sendiri sepenuhnya dan setulusnya, terutama mengakui hal-hal paling buruk yang ada pada dirinya sekalipun.

Sedangkan budaya saat ini adalah obsesi untuk mewujudkan harapan-harapan positif yang mustahil diwujudkan, seperti menjadi lebih bahagia, menjadi lebih sehat, menjadi lebih baik, lebih pintar, lebih cepat, lebih kaya, lebih seksi, lebih populer, lebih produktif, lebih diinginkan.

Setiap iklan di TV ingin agar penontonnya percaya bahwa kunci suatu kehidupan yang baik adalah pekerjaan yang lebih baik, atau mobil yang lebih mewah, atau pacar yang lebih cantik, atau hot tub dengan kolam pompa untuk anak-anak. Bahwa jalan menuju kehidupan yang lebih baik adalah lebih, lebih, lebih banyak.

Mempedulikan banyak hal akan berakibat buruk untuk kesehatan mental, menjadikan orang terikat pada hal-hal yang dangkal dan palsu. Kunci untuk kehidupan yang baik bukan tentang memedulikan lebih banyak hal, tapi tentang memedulikan hal yang sederhana saja, apa yang benar, mendesak, dan penting.

Bagaimana menyikapi situasi seperti ini?

Seni untuk bersikap masa bodoh ada tiga. Seni Pertama: Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; Masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda. Seni Kedua: Untuk bisa mengatakan bodo “amat” pada kesulitan, pertama-tama harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan. Seni Ketiga: Entah disadari atau tidak, selalu memilih suatu hal untuk diperhatikan.

Intinya, buku ini akan membantu berpikir sedikit lebih jelas untuk memilih mana yang penting dalam kehidupan dan mana yang sebaliknya.

Buku ini tidak berbicara bagaimana cara meringankan masalah atau rasa sakit. Buku ini bukan pula panduan untuk mencapai suatu keagunan. Buku ini akan mengubah rasa sakit menjadi sebuah peranti, trauma menjadi kekuatan, dan masalah yang ada menjadi masalah yang lebih baik. Buku ini membuat pembacanya bergerak secara ringan tak peduli seberapa berat beban pembaca, beristirahat lebih mudah ditemani ketakutan terbesar, menertawakan air mata yang tumpah bercucuran. Buku ini tidak akan mengajari bagaimana cara mendapat atau mencapai sesuatu, namun lebih pada bagaimana cara berlapang dada dan membiarkan sesuatu pergi.

Buku ini juga akan mengajari untuk memejamkan mata dan percaya bahwa pembaca bisa menjatuhkan diri ke belakang dan tetap baik-baik saja. Buku akan mengajari untuk peduli lebih sedikit dan mengajari untuk “jangan berusaha”.

Buku ini kategori self improvement, rate usia pembaca yang direkomendasikan 17 tahun ke atas, dengan harga jual di Pulau Jawa Rp67.000,-. Tapi saya tidak beli. Buku ini dikasih Kaka Theo yang suka beli dan bagi-bagi buku. Terima kasih ya.

Lida Noor Meitania

Menyukai kuliner dan kucing. Murah senyum tapi jarang menyapa kalau tidak disapa lebih dahulu. Kalau ketemu di jalan, sapa ya.

One thought on “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.