Percayalah Masih Ada Kesempatan dalam Kesempitan

Percayalah Masih Ada Kesempatan dalam Kesempitan

Percayalah Masih Ada Kesempatan dalam Kesempitan

Sebuah Memoar Meutya Hafid dalam Penyanderaan

Ketika berdinas atau bertugas ke luar kota, setiap pekerja dengan resiko tinggi, baik pekerja tambang, pekerja kilang minyak, PNS, apalagi wartawan, mengerti betul dengan resiko yang siap harus dihadapi nantinya. Mulai dari resiko jadwal penerbangan yang tertunda (nanti saya mau cerita tentang ini di lain waktu – spoiler), intensitas bertemu keluarga yang minim (hanya sebulan sekali, bahkan hingga setahun sekali), ancaman keselamatan jiwa, ancaman keselamatan tempat bekerja, hingga dirundung karena menulis atau berpendapat yang sama dengan pemerintah yang sah.

Namun siapa yang menyangka, kalau suatu waktu di tempat penugasan yang rawan konflik atau peperangan, kita akan berhadapan langsung (fis to fis, jika meminjam istilah Tukul Arwana) dengan segerombolan perompak, pemberontak, atau mujahidin. Mungkin sebagai tentara atau wartawan perang, hal ini sudah biasa. Buat saya yang hanya warga biasa remahan rempeyek, menyimak kisah penyanderaan dua wartawan Metro TV, Meutya Hafid dan Budiyanto ketika meliput di wilayah perang atau konflik, rasa-rasanya seperti menonton drama yang menegangkan. Visualisasi drama penyanderaan ini tentu lebih seru daripada menonton drama di televisi atau bioskop, karena disajikan dalam bentuk tulisan, melalui buku 168 Jam dalam Sandera, Memoar Jurnalis Indonesia yang Disandera di Irak. Memoar ini ditulis sendiri oleh salah satu wartawan Metro TV yang disandera, Meutya Hafid.

Memoar setebal 255 halaman ini dibagi menjadi 12 Bab. Jadi kira-kira, kalau menilik dari lamanya penyanderaan, yaitu 168 jam, maka setiap bab berisi kisah Meutya dan Budi selama 14 jam (Benar kan ya, hitung-hitungan Matematika saya? Kalau salah, harap maklum, karena semasa kecil enggak ikut les Sempoa, Aritmatika, atau Kumon. Berbie enggak sanggup bayar, kaakkk.. Cukuplah saya belajar dengan guru SD yang selalu saya banggakan di depan mereka… Nama beliau, Pak Gunawan, guru SDN 03 Pagi Meruya Selatan – eh, kembali ke laptop!). Pembabakan kisah penyanderaannya seperti ini: Bab 1 Jangan Berontak, Jangan Bergerak!; Bab 2 Aku Benar-benar Diculik; Bab 3 Gua Terpencil di Tengah Gurun; Bab 4 Selamat Jalan, Budi; Bab 5 Memelihara Harapan; Bab 6 Harapan yang Pupus; Bab 7 Hilangnya Kesabaran; Bab 8 Kabar Pembebasan; Bab 9 Pembebasan yang Berliku; Bab 10 Tegang Tiada Akhir; Bab 11 Aku Pulang; dan Bab 12 Kapan Harus Berhenti?

Nah, cukup terbayang kan, bagaimana naik-turunnya kisah (bukan kasih) kedua wartawan televisi berita ini selama disandera dalam penugasan peliputan jurnalistik mereka?

Kisah berawal dari penugasan Meutya Hafid ke Irak dalam pemilu, perayaan pesta demokrasi pertama mereka, setelah pemerintahan Saddam Hussein jatuh. Padahal sebelumnya, Meutya baru saja pulang dari liputan bencana tsunami di Aceh. Pemilihan Meutya didampingi oleh koordinator juru kamera, Budiyanto karena ia dianggap seorang wartawati yang tangguh, energinya tidak habis-habis, cara melobi juga bagus, sedangkan Budi dianggap sebagai sosok juru kamera yang sudah terbiasa dengan medan peliputan di Irak. Budi juga tidak lama selesai peliputan di Irak, ketika Saddam Hussein masih berkuasa.

Namun siapa dinyana, peliputan dadakan ini berbuah pengalaman yang tidak akan mereka lupakan sepanjang hidup. Sesampainya di Baghdad, Irak, tepatnya di POM bensin, rombongan Meutya, Budiyanto, dan pemandu bernama Ibrahim dihadang oleh anggota Mujahidin. Kelompok gerilyawan ini dalam istilah pemerintah Amerika Serikat, merupakan pemberontak dan terkenal sering meledakkan kawasan tertentu di Irak dengan menggunakan bom mobil. Setelah dari POM bensin, mereka digiring ke goa yang berada entah di gurun pasir sebelah mana. Mereka terus diselidiki mengenai afiliasi dengan Amerika Serikat. Sebelumnya, selama peliputan di Irak pun, keduanya harus mengatasi kecurigaan kelompok koalisi karena tidak sengaja melewati dan meliput pos rahasia mereka, sehingga dianggap mata-mata. Dalam duka peliputan yang berakhir dalam penyanderaan, mereka selalu ingat istilah, “Kalau takut risiko, pergi saja dari Irak!”

Tentunya kita sudah tahu bagaimana akhir drama penyanderaan ini, yang sangat menyita perhatian kita di tahun 2005. Namun drama ketegangan hingga penguakan sisi humanisme penyandera hanya dapat kita ikuti di buku ini. Pada akhirnya, wartawan yang tangguh juga manusia, yang pada titik tertentu bisa putus asa. Di sisi lain, sosok gerilyawan juga manusia yang sebenarnya hanya butuh pengakuan bahwa yang diperjuangkannya adalah demi kebaikan. Sisi inilah yang ternyata mampu menjadi senjata bagi keduanya untuk bertahan selamat dalam penyanderaan. Tidak luput juga berbagai upaya dari kantor berita yang menugaskan mereka hingga Presiden RI pada saat itu untuk membebaskan aset wartawan pemberaninya.

Saking serunya kisah ini, saya jadi terbayang apakah memungkinkan memoar ini diangkat menjadi film komersil, bukan hanya film dokumenter?

Keunggulan

Kegamblangan kisah dalam memoar ini ditulis sesuai permintaan pemimpin gerilyawan Mujahidin, Rois dalam pembebasan keduanya, “Tolong ceritakan (kejadian selama penyanderaan ini) apa adanya, tidak dilebihkan, tidak dikurangkan.”

Memoar ini dilengkapi dengan kisah penyanderaan dari sudut pandang lainnya. Seperti layaknya laporan jurnalistik, memoar ini berusaha menampilkan dua sisi, bahkan tiga sisi cerita, yaitu dari sisi Pemimpin Redaksi Metro TV tahun 2004 – 2005, Don Bosco Selamun dan Juru Bicara Departemen Luar Negeri pada saat itu, Marty M. Natalegawa. Saya sih, paling suka bagaimana Pak Marty (idolaque) berkisah betapa ia berulang kali berjanji akan melakukan semampu apapun umtuk membawa keduanya pulang ke Indonesia. Baginya, failure is not an option. (aaahhh..idolaqueee)

Selain itu, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono juga memberikan pengantar pada buku ini. Tentunya ini menjadi pertanda betapa seriusnya penanganan penyanderaan kedua wartawan tersebut.

Berdasarkan kisah ini, saya jadi semakin mengerti lika-liku diplomasi yang harus ditempuh dalam penanganan kasus-kasus WNI di luar negeri. Angkat topi untuk semua jajaran pemerintah yang selalu membela warganya yang dirudung musibah di negeri orang.

Kelemahan

Buku ini nyaris tanpa kekurangan, karena ceritanya gamblang, dilihat dari berbagai sisi. Bahkan mengajarkan cara bertawakal dan pantang menyerah dalam kondisi terpojok atau sesempit apapun. Selalu masih ada kesempatan di dalam kesempitan sesempit apapun.

Tentang Penulis

Saya rasa semua orang telah mengenal sosok Meutya Hafid, wartawan yang kini menjadi politisi, dan Budiyanto, juru kamera di Metro TV, kurang lebih semenjak drama penyanderaan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.