Ilustrasi foto PNS

Ini Bedanya PNS Zaman Old dan PNS Zaman Now

Kalian pikir PNS itu kerjanya magabut, main soliter melulu atau baca koran? Yah ada sih yang seperti itu, tapi gak semua seperti itu. Zaman old iya begitu sebagian tapi gak semua ya. Sebagian lainnya main game Farmville, Restaurant City, Zinga Poker, sama Mafia Wars. Jiahahaha… Sama aja donk, cuy…
Zaman old koq sudah ada game online, sih? Zaman old versi saya ini pengalaman selama jadi PNS selama 10 tahun lebih sedikit dan pengalaman teman-teman saya ya. Anggap saja zaman old itu tahun 2008 sd 2013 sedangkan zaman now itu tahun 2014 sampai dengan sekarang, diawali dengan penerimaan tunjangan kinerja di kementerian tempat saya bekerja.
Sebelum tahun 2008 gak akan saya ceritakan di sini. Kepanjangan dan gak mengalami sendiri. Kalau saya tulis bisa jadi buku sejarah.

Teknologi untuk Apa?
PNS zaman old masih kerja manual. Ngetik pun masih pake mesin ketik manual. Bahkan pernah ya ada panitia seminar 100 Tahun Harkitnas bawa mesin ketik jadul yang besar itu dinas ke Surabaya, naik pesawat. Nginepnya di hotel berbintang ya. Ada listrik lho, bukannya di pelosok yang gak ada listrik.
Soale entah bagaimanalah settingan-nya kuitansi atau apalah bisanya diketik dengan mesin ketik jadul itu. Padahal PNS yang ngurusin keuangan di satker saya sudah bisa ketik dan print kuitansi pakai komputer dan printer lho.
PNS zaman old itu kerjanya di meja kayu kurang lebih kayak zaman saya sekolah SD sampai SMA dulu lah. Apalagi saya sekolahnya di sekolah negeri. Tau kan mejanya kayak apa? Gak ada sekatnya. Kalau di ruangan, sudah seperti anak sekolahan aja. Bukannya belajar, malah ngobrol.
Zaman old, masih jarang yang pendidikannya sarjana, kalau ada pun sudah menjabat minimal eselon 4. Bisa atau tidak bisa kerja, apalagi menggunakan komputer. Kalau main game online pakai komputer kantor sih bisa. Nonton film pakai komputer kantor juga bisa. Apalagi nonton film bokep. Bisa, kalau gak tahu malu.
Giliran kerja pakai komputer, ya belum tentu bisa. Bisanya copy-paste ToR lama yang diulang-ulang aja cuma ganti lokasi dan tanggal.
Karena PNS zaman old begitu, PNS barunya yang mayoritas pendidikan S1 dan S2 jadi tumpuan harapan bangsa yang kerjanya dari hulu sampai hilir. Misalnya bikin ToR kegiatan. Bukan cuma jadi tukang ketik aja, tapi mesti browsing cari data sendiri, mesti bisa merangkai narasi, belum tentu ada atasan yang bisa mengarahkan.

Ketua Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana, mencoba salah satu mesin ketik koleksi Museum Penerangan, saat peringatan HUT TMII Tahun 2017 (Foto: Instagram Museum Penerangan (IG @museumpenerangan)
Ketua Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana, mencoba salah satu mesin ketik koleksi Museum Penerangan, saat peringatan HUT TMII Tahun 2017 (Foto: Instagram Museum Penerangan (IG @museumpenerangan)

Ke Kantor Sebulan Sekali
Zaman old, kehadiran dihitung atau dicatat secara manual juga. Tanda tangan kehadiran pakai kertas dan pulpen. Bisa dirapel sebulan sekali. Sehari di kantor cuma dateng sejam atau dua jam juga ada. Yang dateng beberapa hari sekali juga ada. Bahkan yang dateng sebulan sekali setiap tanggal 1 alias setiap hari gajian juga ada. Hari gajian jadi ajang silaturahmi bagi mereka. Padahal kalau silaturahminya setiap hari bisa menambah panjang usia dan rejekinya tambah lancar, lho.
Ada lagi yang dateng ke kantor cuma beberapa bulan sekali. Yang model gini bisa lebih galak daripada atasannya. Ada aja alasannya gak masuk kerja. Kalau atasannya bilang, “kan sudah terima gaji”
Ada aja jawabannya, “Duit gaji sudah gak terima lagi karena setiap bulan dipotong bank.”
Ya iya lah itu gaji udah “diterima” duluan di muka alias pinjem duit ke bank pake jaminan SK PNS. Abis pinjem duit ya bayar donk, gaji dipotong ya bapak ibu. Masak mau pinjem duit tapi gak mau bayar. Hadehh…
Gaji dapetnya dari mana? Ya dari kerja donk. Kerja dulu, abis kerja terus digaji ya kan. Itu kan yang bener ya. Terima uang tapi gak mau kerja ya memangnya negara ini kasih uang cuma-cuma kayak santunan buat kaum duafa aja. Padahal duit dan berliannya udah banyak bener.
Yang rajin datang pagi dan pulang sore juga ada. Seperti saya, rajin naik bis jemputan. PNS-nya bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan pegawai swasta yang kerjanya di sekitar Jalan MH Thamrin.
Di tahun 2013 sudah dimulai masa percobaan presensi kehadiran dengan mesin finger print meskipun tunjangan kinerja belum dibayar. Belum tentu semua pegawai mau belajar berubah. Mereka maunya dengan kewajiban datang pagi dan pulang sore itu ya gak pakai percobaan lagi. Maunya langsung dibayar tunjangan kinerjanya. Alasannya sarapan dan makan siang di kantor. Bahkan ada yang mesinnya dirusak dengan air.
Padahal yang namanya pegawai ya ada jam kerjanya dari pagi sampai sore ya. Ada atau tidak ada presensi kehadiran elektronik.

Gaji dan Uang Makan Dibayar Tunai
Zaman itu, gajian masih manual. Ngambil ke “ruangan gaji”. Ruangannya kecil, mendadak banyak bener pegawai yang ngantor. Yang bayar gaji kayak mandor bayar gaji tukang bangunan. Blagu bener. Zaman itu tuh yang kerjanya ngurusin gaji dan keuangan itu bagaikan juragan. Iya. Lulusan SD aja bisa kayak juragan bayar gaji pegawai baru yang lulusan S1 dan S2. Apalagi lulusan SMA.
Nominal recehan gak pernah dibayar, alasan klasik gak ada uang kecil. Kalau ada rapelan kayak ada kewajiban ngasih buat geng mereka. Kalau tidak ngasih bakal diomongin, karena angkatan kami waktu CPNS pun pernah diomongin gegara setelah terima rapelan gaji tidak pernah kasih uang.

Gaji Berdasarkan Golongan dan Masa Kerja
Gaji berdasarkan golongan dan masa kerja. PNS golongan III/b yang pendidikannya SMA tapi masa kerjanya udah puluhan tahun, gajinya bisa lebih besar daripada saya dengan golongan sama, pendidikannya S2 tapi masa kerjanya baru satu tahun. Meskipun yang SMA itu kerjanya bikin kliping gunting tempel berita dari koran lalu kliping gunting tempel berita dari koran lalu ulangi lagi seperti itu, diselingi ngobrol ngalor ngidul dan gak ada juga yang baca hasil kliping-nya donk. Sedangkan saya kerjanya membalas email, ngefax, menjawab telepon, bikin ToR, proposal, notulen, lapgas, liputan, nulis di tabloid, ya seperti itu lah dunia.

Nah, itu sebagian pemandangan kelam masa jahiliah di tempat saya kerja. Memasuki Zaman Now, sudah mulai ada perubahan setelah PNS lama Zaman Old sudah banyak yang pensiun dan PNS baru Zaman Now sudah semakin banyak yang masuk ditambah PNS muda Zaman Old sudah menuntaskan tugas belajar S2 dengan beasiswa dalam dalam luar negeri. Bagaimana perubahan yang terjadi di Zaman Now, saya tulis di artikel selanjutnya.

Kalau di tempat kerja kalian sendiri bagaimana? Share di kolom komentar ya.

Lida Noor Meitania

Menyukai kuliner dan kucing. Murah senyum tapi jarang menyapa kalau tidak disapa lebih dahulu. Kalau ketemu di jalan, sapa ya.

4 thoughts on “Ini Bedanya PNS Zaman Old dan PNS Zaman Now

  1. Kalau dulu PNS, sekarang udah ganti jadi ASN Kak. Beda generasi, beda kebiasaan, beda cara kerja. Intinya bekerja sesuai job desc dan tupoksi yang sudah diberikan. Cieeeee… Gayanye komentar… 😀

    1. PNS dulu gak ganti nama jadi ASN, kaka
      Belum baca Undang-Undang No 5 Tahun 2014 ttg Aparatur Sipil Negara sama Peraturan Pemerintah No 11 Tahun 2017 ttg Manajemen Pegawai Negeri Sipil, ya?
      ASN itu ada 2: Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). PNS memang ASN tapi ASN belum tentu PNS.
      Kira2 begitu
      PNS zaman now kutulis di next artikel. Tunggu aja yes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.