KANTIN.ID

Petualangan di Tepi Samudra Antartika

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar Antartika? Penguin. Gunung Salju. Badai salju. Ikan Paus. Ada lagi? Ya, kawasan ini dulu pernah menjadi salah satu daftar tujuan impianku ketika menonton dokumenter National Geographic. Namun, aku harus mencoretnya karena medan dan perjalanan yang menantang. Sekarang, aku tidak perlu bersedih karena setidaknya bisa merasakan udaranya dan samudranya–Samudra Selatan atau Samudra Antartika (Southern Ocean).

Walaupun aku telah berkunjung ke belasan negara, petualanganku kali ini akan selalu kuingat. Aku berkunjung ke salah satu destinasi wisata favorit di ujung Australia yang dikenal dengan nama “Great Ocean Road”.

Great Ocean Road dibangun oleh para veteran Perang Dunia I Australia agar mereka mendapatkan pekerjaan sepulang dari perang dahsyat tersebut. Jalan yang membentang sepanjang 243 kilometer ini didedikasikan kepada para korban Perang Dunia I.

Para wisatawan akan disuguhkan dengan panorama cantik pegunungan, hutan, pantai, laut, tebing, flora, dan fauna khas Negeri Kanguru. Cara terbaik untuk menikmatinya adalah menyewa atau mengendarai mobil, motor Harley Davidson, atau bus pariwisata seperti kami. Aku tidak menyarankan naik odong-odong, delman istimewa, atau kereta api karena memang tidak ada. Yuk kita sama-sama telusuri jalan ini dan kota-kotanya.

Kota Melbourne dilihat dari Jembatan West Gate.

Melbourne
Kami start subuh dari Melbourne agar tidak perlu menginap di jalan (di hotel red.). Tujuan kami ada dua yaitu menyusuri Great Ocean Road dan berkunjung ke Twelve Apostles.
Bus kami menyusuri jalanan Melbourne dan menuju ke pinggiran kota yang bersih dan bebas macet. Di sepanjang jalan bebas hambatan, kami menyaksikan jembatan megah West Gate menuju Geelong (udah mulai sok warga Melbourne red.), perdesaan, gereja-gereja mungil, peternakan, kawanan sapi gemuk, dan padang rumput hijau apik seperti karpet. Aku pun jadi teringat Si Negeri Kincir Angin, Belanda. Tidak heran, Indonesia mengekspor sapi perah dan potong dari negara ini.

Bus kami menyusuri Jembatan West Gate meninggalkan Melbourne menuju Geelong.

Torquay
Setelah beberapa jam, kami sampai di kota start Great Ocean Road yaitu Torquay.
Kota mungil ini dikenal sebagai kelahiran berbagai jenama fesyen selancar dunia. Kamu pasti mengenal Rip Curl dan Quiksilver. Ya, mereka berasal dari kota ini. Torquay menjadi kota tujuan para wisatawan lokal dan mancanegara untuk berselancar. Selepas dari sini, kami menikmati pemandangan Samudra Antartika, pantai, hutan–atau dikenal dengan bush di Australia–dan tebing.

Lorne
Selanjutnya, kami berhenti sejenak di Lorne untuk menikmati kudapan, bersenda gurau, dan merasakan semilir udara dingin yang bertiup dari Antartika. Indah nan sejuk.

Thanks Lorne! I love this tree!
Paul and Sally enjoy the coffee.

Kennet River
Kami kemudian melanjutkan perjalanan untuk melihat koala di Kennet River. Kami melihat beberapa koala tidur di atas pohon. Lucu sekali. Tiba-tiba, aku merasa haus dan lapar. Aku kemudian melangkah ke Koala Cove Cafe dan menikmati es krim. Oh sungguh nikmat dapat menikmati es krim sambil melihat koala. Heaven on earth. Aku hampir saja ditinggal bus karena keasyikan bersantai. Aku lari ke bus dan teman-teman ternyata sudah menunggu di sana. Maaf ya.

Tim ekspedisi sempat kesasar saat mencari koala. Ternyata, yang dicari sedang nangkring di atas pohon dekat parkiran.
Terima kasih sudah mau menunggu awesome people!

Apollo Bay
Kami berlanjut ke kota selanjutnya yaitu, Apollo Bay. Kami membuka perbekalan dan makan bersama–pot luck–di taman tepi pantai. Vegetasi di pantai ini berbeda dengan di Indonesia yang ditumbuhi bakau atau kelapa seperti di Kepulauan Seribu. Di pantai ini, semak belukar tumbuh di sekitar pasir pantai seperti di Scheveningen. Setelah makan siang, kami berangkat ke Twelve Apostles.

Buka bekal dulu!

Twelve Apostles
Twelve Apostles adalah karang kapur yang terbentuk karena terpaan atau hunjaman (dramatisasi red.) gelombang Samudra Antartika pada tebing. Twelve Apostles–yang berarti Dua Belas Rasul murid Yesus–berjumlah sembilan buah karang karena beberapa telah runtuh karena erosi. Tempat ini adalah destinasi andalan Australia. Semak banyak tumbuh di sekitar setapaknya namun pengunjung dilarang melompati pagar karena beberapa ular hidup di semak-semak tersebut.

Godzilla di dekat Twelve Apostles!
Antartika di ujung horizon!

Colac
Puas di Great Ocean Road, kami pun beranjak pulang. Bus kembali menyusuri kota kecil, perkebunan, dan peternakan Australia. Amboi indahnya. Sesekali, kanguru berkeliaran di peternakan-peternakan tersebut. Kami melihat sapi-sapi gemuk yang berjumlah ratusan, sepertinya lebih banyak dari peternakan di Belanda. Kami pun berhenti sejenak di sebuah kota kecil bernama Colac yang sangat sepi dan tenang. Aku mencari roti lapis atau piza untuk mengisi perutku namun ternyata banyak tutup karena hari Minggu.

Colac, kota mungil yang tenang.

Kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Melbourne. Kalau di dalam Transjakarta aku mudah tertidur, maka kali ini aku mau terus terjaga karena ingin menyimpan semua kenangan dan tiap kilometer perjalanan ini di memoriku.

Filmon Warouw

Aku adalah seorang penerjemah yang suka komunikasi, media, teknologi, sejarah, film, dan alam. Pahlawan super favoritku adalah Superman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.