KANTIN.ID
Perbatasan Timor Leste

Surga Tersembunyi di Perbatasan Atambua

Aku merindukanmu

Dalam hatiku…

Dalam sunyiku…

Aku mencintaimu

Dalam tangisku…

Dalam tawaku…

Aku ingin bersamamu

Dalam mimpiku…

Dalam rasaku…

Aku ingin mengingatmu

Dalam hidupku…

Dalam akhir hayatku…

Aku ingin melihat nama & warnamu

Dalam kebanggaanku…

Dalam genggamanku…

Meski aku takkan pernah tahu…

Apakah waktu untuk merindukanmu & mencintaimu akan terbalaskan

Yang aku tahu…..

Ini  satu-satunya caraku

Menunjukkan Aku tetap INDONESIA

Cara terbaik untuk mengetahui seberapa besar jiwa patriotisme di dalam dirimu adalah dengan melihat dan mengenal budaya serta identitas tempat kita berada. Andaikan aku ini adalah angin maka aku bisa melihat keindahan Indonesia dari Sabang sampai Meroke yang tidak akan ada habisnya. Salah satunya aku akan mampir sejenak ke surga tersembunyi di perbatasan Atambua, Nusa Tenggara Timur. Dan pengandaian itupun terwujudkan.

Perjalanan kami dimulai dari bandara Soekarno-Hatta. Tidak ingin ketinggalan pesawat, kami sudah harus bersiap-siap dari rumah sejak pukul 02.00 WIB, yah meskipun sesampainya di bandara ada saja adegan kejar-kejaran karena terlambat bangun, untuk itu kebanyakan orang lebih memilih menginap di bandara ketika memiliki penerbangan pagi. Bertolak dari Jakarta pukul 04:30 WIB, kami mulai perjalanan yang serasa mimpi. Kami bisa melihat sunrise yang menyinari gunung berselimutkan awan seolah menyapa kami dan mengucapkan, “ Selamat Pagi, semoga harimu Indah”.

Penerbangan menuju Atambua dari Bandar Udara Internasional El Tari Kupang menggunakan pesawat baling-baling

Setelah beberapa jam penerbangan sejauh mata memandang perlahan melintasi hamparan perbukitan yang kering dan gersang, yah kami telah tiba di Bandar Udara Internasional El Tari Kupang pukul 08.25 WITA. Kata penduduk disana, pulau ini terkenal sebagai negeri dua matahari karena hujan hanya turun setahun sekali antara November-Maret. Tetapi ketika mulai memasuki musim hujan, kita akan bisa melihat hamparan bukit yang menghijau indah dikelilingi birunya laut, sayangnya kita datang disaat musim kemarau dan sayangnya lagi kita tidak bisa langsung menuju Atambua karena pesawat baling-balingnya rusak. Penerbangan pukul 08.00 delay sampai jam 12.00, sementara penerbangan jam 11.00 delay sampai jam 02.00. Tentunya berita ini membuat kami gelisah karena takut kehilangan waktu berharga untuk mengunjungi tempat-tempat terbaik di Atambua. Syukurnya Tuhan masih memberikan kebaikan dan rezeki kepada kami, masih ada 20 kursi kosong di penerbangan pukul 08.00 yang pada akhirnya tinggal landas pukul 13.00 WITA.

“Wow, selamat datang di penerbangan rasa Dufan,” celoteh temanku.

Bagaimana tidak WOW, sebab kami serasa naik wahana ekstrim yang membuat jantung dag dig dug gak karuan. Yang bisa dilakukan hanya berzikir semoga aman mendarat di tempat tujuan.

Pemandangan Landasan Pacu Bandara Udara A.A. Bere Tallo di Atambua yang dikelilingi perbukitan

Sampailah kami di Bandar Udara A.A. Bere Tallo, Atambua, yang terkenal sebagai bandara perbatasan atau bandara segitiga emas diantara tiga negara. Yakni Indonesia, Timor Leste dan Australia. Untuk saat ini landasan pacu belum bisa disinggahi pesawat berbadan besar, rencananya landasan pacu yang semula memiliki 1.600 meter, akan diperpanjang menjadi 2.000 meter. Tidak jauh dari landasan kita akan disambut pemandangan bukit Fohomea dan gunung Lakaan.  Aku heran kenapa nama bandara ini begitu unik, apakah nama itu memiliki arti khusus atau seperti apa. Kata driver kami nama bandara Atambua ini diambil dari Bapak Pembangunan Belu sekaligus Bupati Belu pertama yang terpilih pada tanggal 16 Februari 1960, yaitu A.A. Bere Tallo. Jadi sebenarnya saya ada di Belu atau Atambua? Saya masih bingung. Waitwaitdriver kami masih semangat untuk menjelaskan.

“Atambua sendiri merupakan ibukota dari kabupaten Belu”, katanya. Ohhh … kami baru paham, “BELU” memiliki makna persahabatan atau teman. “Selamat datang di kota persahabatan”.

Motaain Indonesia yang berarti Ujung atau Hulu merupakan Perbatasan Indonesia dan Timor Leste.
Motaain Indonesia yang berarti Ujung atau Hulu merupakan Perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.