KANTIN.ID
Pabrik Gula Colomadu di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, kini menjadi wisata kekinian De Tjolomadoe

Wisata Kekinian De Tjolomadoe

Pabrik Gula Colomadu di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak tahun 1861 telah direvitalisasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Kini bernama De Tjolomadoe.

Terletak di Jalan Adi Sucipto, kira-kira hanya 10 menit dari Bandara Adi Sumarmo, De Tjolomadoe menjadi wisata kekinian pilihan generasi milenial seperti saya. Ehm…


Pabrik gula Colomadu di Kabupaten Karanganyar. Kini menjadi wisata kekinian De Tjolomadoe
Pabrik gula Colomadu di Kabupaten Karanganyar. Kini menjadi wisata kekinian De Tjolomadoe

Hari Rabu (18/10/2018) saya dan teman-teman mengunjungi De Tjolomadoe. Gratis masuk, gratis foto, cukup isi buku tamu dan senyum-senyum aja ke petugas keamanan. Silahkan masuk dan foto sebanyak-banyaknya, asalkan jangan alay manjat-manjat mesin dan bersandar selain pada bahu si dia.

Bangunan pabrik seluas 1,3 ha di lahan 6,4 ha berisi mesin-mesin pabrik gula yang digunakan saat beroperasi sejak tahun 1826 sampai dengan 1998.

Mesin penggiling tebu yang dipamerkan di De Tjolomadoe
Mesin penggiling tebu yang dipamerkan di De Tjolomadoe

Memasuki pintu De Tjolomadoe, saya takjub dengan mesin raksasa penggiling tebu di Stasiun Gilingan. Mesin ini mengingatkan saya pada mesin penggiling tebu yang sering digunakan pedagang sari tebu di pasar jongkok sebelah kantor setiap Hari Jumat, dengan versi yang sungguh sangat jauh lebih besar.
“Seperti alat penggiling adonan mie,” kata Meylani, teman saya.

Di sebelah kanan area Stasiun Gilingan, dipamerkan foto-foto pabrik sebelum direvitalisasi.

Masuk lebih dalam ada Stasiun Karbonatasi. Di area ini, sepertinya akan disediakan untuk art and craft. Meskipun belum ada booth-nya.

Jalan ke tengah, ada Stasiun Penguapan dengan mesin-mesin yang besar banget dan tiba-tiba ada beberapa kain batik yang dijual.

Begitu juga di Stasiun Ketelan, selain ada ketel dengan tekanan rendah, ada juga booth makan dan minuman, bahkan ada café, booth batik dan kerajinan.

Ke dalam, dekat pintu keluar, ada lagi Stasiun Masakan, dengan mesin-mesin raksasa yang mengolah kristal gula.

Semua mesin produksi eks pabrik gula ini telah dicat ulang dengan warna abu-abu, dan tegel kotak-kotak warna hitam kuning, sesuai dengan warna aslinya.
Jadi, ini sebenarnya museum bekas pabrik gula atau foodcourt dan pusat grosir dengan citarasa sejarah, ya?

Menurut saya sih, mesin yang dicat ulang warna abu-abu itu memang cocok jika jadi obyek foto kekinian generasi milenial. Hanya saja, jadi tidak terlihat seperti mesin jadul yang pernah digunakan di situ. Kesan kuno dan sejarahnya sangat jauh berkurang.

Tapi boleh lah jadi tempat tujuan wisata kekinian buat turis abidin (atas biaya dinas, hahaha) seperti saya dan teman-teman yang melewati jalan Adi Sucipto, Kabupaten Karanganyar. Mau foto-foto instagramable bisa, mau ngopi cantik dan tampan bisa, toilet dan masjid pun ada.

“Pabrik iki openono, sanajan ora nyugihi, nanging nguripi, kinaryo papan, pangupo jiwone kawulo dasih,” pesan dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara IV, 1871.
Foto Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara IV, 1871, pada background.

Pabrik iki openono, sanajan ora nyugihi, nanging nguripi, kinaryo papan, pangupo jiwone kawulo dasih

“Pabrik iki openono, sanajan ora nyugihi, nanging nguripi, kinaryo papan, pangupo jiwone kawulo dasih,” pesan dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangkunegara IV, 1871.

Ada yang tahu artinya? “Pabrik ini peliharalah, meskipun tidak bikin kaya tapi menghidupi rumah …” (selanjutnya saya gak tahu artinya apa, hahaha).

Lida Noor Meitania

Menyukai kuliner dan kucing. Murah senyum tapi jarang menyapa kalau tidak disapa lebih dahulu. Kalau ketemu di jalan, sapa ya.

8 thoughts on “Wisata Kekinian De Tjolomadoe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.