Satu petang di sudut kota Jakarta saat itu bakal menjadi salah satu kenangan yang tak akan mudah lenyap tanpa berbekas bagi saya. Bagaimana tidak, sebagai penikmat musik klasik, saya berkesempatan berjumpa dengan komposer legendaris seperti Johann Sebastian Bach, Wolfgang Amadeus Mozart, Claude Debussy, Frederic Chopin, Franz Liszt dan Jaya Suprana.

Dari Bach, saya mendengarkan komposisi berjudul The Well-tempered Clavier Part I in cis major BWV 848, lalu dari Mozart dengan Sonata in A major. KV.331, dan Debussy melalui komposisi “Children’s Corner” L.113.

Empat karya Chopin dimainkan dengan apik, diantarnya berjudul Mazurka op.59 Nr.3 in fis-minor, Walts No. 1 in E-flat major (“Grande Valse Brillante”) op.18, Etude in A minor op.25 No.11, dan Chopin: Polonaise Op.53 No.6.

Di antara karya para maestro itu, terselip komposisi Fragmen dari Jaya Suprana yang justru lebih kondang di Indonesia dengan MURI dan Jamu Jago-nya.

Karya klasik terakhir yang dimainkan dalam resital piano tunggal (recital pianoforte) petang itu adalah dari Liszt yakni Concert Paraphrase de Tema Opera “Rigoletto” Verdi. Eargasm!

CHOE JANG HUNG

Adalah Choe Jang Hung, seorang pianis remaja, boleh dibilang generasi milenial, generasi zaman now, yang baru berumur 13 tahun, dan petang itu ia jadi pusat perhatian ratusan audiens di Gedung Kesenian Jakarta, DKI Jakarta (11/4).

Remaja tanggung dari Republik Demokrasi Rakyat Korea atau yang lebih dikenal publik sebagai Korea Utara ini dianugerahi bakat teknik pianistik yang amat luar biasa. Sebagai informasi tambahan, tidak semua karya musik klasik dapat dimainkan dengan teknik pianistik belaka namun harus disajikan dengan penjiwaan berdasarkan pengetahuan, perasaan, kecerdasan dan bakat yang sempurna. Itulah yang dimiliki Choe Jang Hung.

Choe Jang Hung lahir di Pyongyang, 17 Januari 2005. Ia mulai bermain piano pada usia empat tahun, dan di usia enam tahun sudah memenangkan The International Children Chopin Competition di Polandia. Beberapa tahun kemudian dia memenangkan Zhong Yin Cap International Piano Competition di China.

Awal tahun 2017, Choe Jang Hung menggondol gelar juara dalam Vladimir Krainev Moscow International Piano Competition di Moskow, Rusia. Ia dianugerahi Discovery Prize dan memainkan karya Mozart, Beethoven dan Schuman bersama dengan the National Philharmonic of Russia di the Svetlanov hall of the Moscow International Performing Arts Centre.

Di balik kedahsyatan jemari Choe Jang Hung menari di papan tuts piano forte, terdapat latar belakang yang sangat kondusif dan suportif, selain bakat, yaitu dukungan keluarga dan pemerintah Korea Utara yang mengedepankan investasi tidak hanya pada ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga pada pendidikan dan kesenian.

Atas biaya pemerintah, Choe Jang Hung sempat tiga tahun menimba ilmu di Republik Rakyat China dan itu mendorongnya menjuarai sayembara piano internasional di Warsawa, Moscow dan Beijing.

Sebagai anak berumur 13 tahun, dia juga seperti remaja pada umumnya. Choe Jang Hung menggilai sepakbola dan menggemari Cristiano Ronaldo dan Zinedine Zidane, tapi tim sepakbola nasional yang disukai justru Timnas Jerman.

Ketika ditanyai komposer yang paling disukai, Choe Jang Hung menyebutkan Ludwig van Beethoven. Menurutnya, komposisi yang paling mudah dipelajari adalah karya Wolfgang Amadeus Mozart dan yang paling rumit adalah karya Franz Liszt.

Dan cita-citanya sederhana, Choe Jang Hung ingin menjadi pianis terbaik di dunia.

PYONGYANG!

Dalam Konser Perdamaian Resital Piano Tunggal Choe Jang Hung yang diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Luar Negeri RI, Kedutaan Besar Korea Utara, Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea dan Jaya Suprana School of Performing Arts itu, nampak hadir Duta Besar Republik Rakyat Demokratik Korea An Kwang Il dan istri. Beberapa dutabesar negara sahabat seperti Dubes Rusia, Dubes Kuba, Dubes Bulgaria dan Dubes Rumania juga hadir.

Sejujurnya, anak ini membuka wawasan saya terhadap Republik Demokrasi Rakyat Korea yang selama ini dipersepsikan melalui media massa internasional dengan berbagai macam pemberitaan yang cenderung negatif.

Namun, setelah berjumpa dengan Choe Jang Hung dalam Konser Perdamaian melalui perantaraan Bach hingga Jaya Suprana, saya mendapatkan kesan yang lebih positif dan optimis mengenai semenanjung negeri ginseng yang dipimpin Kim Jong Un ini.

Sungguh saya ingin mengunjungi Korea Utara. Semoga bisa dimulai dari Pyongyang!