Tips Cek In di Hotel Jadul Bintang 5

2
130
views
Kamar berkarpet jadul, bau apek, sumpek, bau debu ala hotel jadul bintang 5. Kira-kira seperti ini kamar 305 yang saya tempatin, hanya saja ranjangnya twin. Foto diambil dari internet.
Kamar berkarpet jadul, bau apek, sumpek, bau debu ala hotel jadul bintang 5. Kira-kira seperti ini kamar 305 yang saya tempatin, hanya saja ranjangnya twin. Foto diambil dari internet.

Saya pikir yang namanya hotel bintang lima itu pasti cakep, cantik, cihuy, mewah, kekinian. Apalagi lokasinya sangat strategis di Jakarta, ternyata gak juga sih. Ini pengalaman saya pribadi yang mengalami kejadian gak enak di sebuah hotel tua bintang 5 di Jakarta. Setiap orang bisa punya pengalaman dan keberuntungan yang berbeda.

Minggu, 3 Desember 2017, sebagian panitia rapat kerja teknis (rakernis) yang berdedikasi tinggi pun mulai rapat persiapan di sebuah hotel bintang 5 di Jakarta, guna menyiapkan kegiatan yang digelar selama 3 hari, 4-6 Desember 2017, di ballroom hotel dengan kapasitas ruangan 1000-an orang.

Jadilah saya Minggu pagi packing baju-baju batik cantik, yang hanya saya pakai saat ada kondangan atau saat dilantik menjadi Kepala Seksi, dengan lagu latar berjudul I’m Easy Like Sunday Morning.

Supaya kalian yang kece-kece gak mengalami kejadian seperti yang saya alami, ini tips ala saya:

  1. Cari informasi dulu sebelumnya, kalau ada waktu, setua apakah hotel yang akan ditinggali. Karena pengaruh banget dengan kualitas interior dan apa pun itu yang melekat di hotelnya. Sebelumnya saya memang tahu yang namanya hotel tempat kegiatan rakernis ini sudah tua, bahkan sebelum saya lahir sudah eksis banget ini hotel.

    Kamar superior ala hotel jadul bintang 5, foto diambil dari website hotel.
    Kamar Superior ala hotel jadul bintang 5, foto diambil dari website hotel.
  1. Mintalah minimal kamar Deluxe, bukan Superior. Sesuai dengan gambar pada website hotel, kamar Superior adalah kamar dengan full karpet seperti yang saya tempati (kamar 305), sedangkan kamar Superior seperti di gambar pada website hotel, persis seperti kamar setelah saya pindah kamar (kamar 351). Deskripsi di websitenya adalah “The deluxe rooms are offering modern features designed for the discerning business and leisure traveler” yang artinya kira-kira “Kamar Deluxe sudah direnovasi, cocok untuk Kids Zaman Now yang kerja rodi di ballroom”

    Kamar deluxe ala hotel jadul bintang 5, foto diambil dari website hotel.
    Kamar deluxe ala hotel jadul bintang 5, foto diambil dari website hotel.
  1. Kamar 305, berkarpet, dan karpetnya sangat kotor, kusam, buram, dan berbau debu. Bau debu atau bau apek ini sebenarnya sudah saya rasakan sejak beberapa detik pertama begitu buka pintu, dan telpon petugas untuk semprot pengharum ruangan meskipun saya tahu percuma karena pengharum ruangan gak akan bisa menghilangkan baru apek, bau sumpek, dan bau debu ruangan. Sekitar jam 22.30, beberapa jam sebelum rakernis digelar, saya dan Nurul kerajinan survey ke ballroom. Karena sebelumnya ada pesta pernikahan dan meninggalkan bunga-bunga hidup, maka Nurul pun minta izin petugas keamanan untuk mengambil beberapa bunga warna-warni untuk menghiasi kamar. Tapi ya tetap saja gak bikin kamar jadi wangi. Deskripsi di websitenya adalah “The Superior rooms are comfortable rooms featuring timeless elegance combined with Indonesian heritage design” yang kalau dibahasakan dengan bahasa saya artinya adalah “Kamar Superior adalah kamar dengan karpet jadul berbau masa lalu bagaikan museum yang 100 tahun tidak pernah direnovasi” Sorry to say, kalau terjemahannya ngaco, maklum TOEFL saya ala kadarnya.

    Kamar berkarpet jadul, bau apek, sumpek, bau debu ala hotel jadul bintang 5. Kira-kira seperti ini kamar 305 yang saya tempatin, hanya saja ranjangnya twin. Foto diambil dari internet.
    Kamar berkarpet jadul, bau apek, sumpek, bau debu ala hotel jadul bintang 5. Kira-kira seperti ini kamar 305 yang saya tempatin, hanya saja ranjangnya twin. Foto diambil dari internet.
  1. Permintaan khusus, minta petugas membersihkan karpet lebih bersih dan semprot dengan pengharum udara. Meskipun saya tahu pengharum ruangan akan kalah dengan bau apek sumpet karpet jadul.

 

  1. Nyalakan AC sedingin mungkin, sekuat badan dan isi kepala kalian. Niscaya bebauan yang tidak sedap di kamar berkarpet jadul itu (kamar 305) akan berangsur-angsur berkurang, tapi gak hilang juga sih. AC di kamar 351 jauh lebih dingin daripada di kamar 305. Di kamar 305 dengan suhu 26 bisa bikin keringat, sedangkan di kamar 351 dengan suhu 30 masih super dingin. Saya gak tahu setelannya yang rusak atau saya yang lebay. Tapi saya gak pernah salah, sih. Kan saya perempuan.

 

  1. Karena saya merasa Princess di dunia khayal dan gak layak tinggal di kamar 305 yang berbau apek, sumpek dan bau debu, saya minta lihat kamar yang lain yang ada. Karena kamar yang lain lebih layak, segera saya pindah kamar.

 

  1. Jika memungkinkan, tanya dahulu pemandangan apa di balik jendela kamar. Kalau tidak, lihat sendiri. Kalau pemandangannya terlalu dekat dengan bangunan atau genteng atau atap yang bikin sakit mata seperti di kamar 305, mintalah kamar dengan pemandangan lainnya. Misalnya cityview, kolam renang, langit biru, dan sebagainya. Karena kesehatan mata adalah tanggung jawab sendiri, bukan petugas hotel atau bahkan konglomerat pemilik hotel.

 

  1. Percayakan dalam menilai kamar atau hotel secara keseluruhan ke diri masing-masing atau riil testimoni tamu hotel. Karena belum tentu teman sekamar punya penciuman yang sensitif atau standar kualitas hidup di hotel yang sama. Bisa jadi kalian lebih sensitif dalam mencium bau kusam, bau apek, bau debu, bau asap rokok, maupun bau ketiak laki-laki dan bau ketiak perempuan.

 

Apalagi zaman now banyak ulasan hotel di internet, bisa jadi buzzer yang dibayar untuk nulis yang bagus-bagus aja karena mereka dikasih kamar yang layak untuk diulas bagus.

 

Nurul, teman sekamar saya, Minggu malam (malam pertama) sempat mengunjungi kamar Bu Illi di 354. Saya yang tidak ada urusan dengan Bu Illi, tetap tinggal di kamar bau apek.

“Kamar Bu Illi bau apek sumpek seperti ini juga, gak?” tanya saya ke Nurul, sekembalinya dia dari kamar Bu Illi.

“Sama aja,”jawab Nurul. Jadi saat itu saya sempat berpikiran bahwa semua kamar di hotel ini berbau apek dan kusam, dengan karpet jadulnya. Karena saya orangnya baik hati serta tidak sombong, terpaksa saya nerimo di kamar ala museum 100 tahun yang tidak pernah direnovasi.

 

Hari Selasa, hari ketiga saya di hotel jadul ini, teman saya sesama panitia rakernis yang tidak bisa disebut namanya, sebut saja Mawar, sempat berkunjung ke kamar saya. Mungkin dia penasaran dengan kamar yang saya sebut sebagai kamar museum 100 tahun yang tidak pernah direnovasi.

“Kamar kamu ini di bangunan lama ya Lid. Kalau di sebelah sana (menunjuk arah kamar Bu Illi), bangunan baru,” katanya.

 

Malam harinya (malam ketiga) giliran Bu Illi yang masuk ke kamar saya.

“Kamar Bu Illi bau apek dan sumpek gak bu?” tanya saya.

“Enggak,” jawab Bu Illi.

“Berkarpet juga gak seperti ini?” tanya saya.

“Enggak. Cuma ada karpet kecil,” jawabnya.

Penasaran lah saya dengan testimoninya. Begitu saya lihat kamarnya, enak banget tanpa bau apek. Apalagi ternyata kamar cameraman di depan kamar Bu Illi (kamar 357), dan kamar salah seorang staf yang sering tidur sampai ngorok di meja kerjanya pun di dekat kamar Bu Illi.  Saya merasa sial dan tertipu mentah-mentah entah oleh siapa.

Padahal pas pembagian kunci kamar, Minggu sore setelah rapat persiapan, saya yang baik hati serta tidak sombong ini dipanggil duluan oleh panitia dan kebagian kunci kamar di tumpukan paling atas. Tapi kenyataannya seperti kamar supir.

Sadar setelah 3 hari di hotel dan setelah melihat kamar Bu Illi, langsung saya telepon resepsionis. Tanpa banyak cincong, segera datang petugas mengantarkan kunci kamar 351 untuk saya pindah kamar.

Taraaaa… ternyata kamar 351 adalah kamar yang sama dengan kamar Bu Illi, ditambah pemandangan ke arah kolam renang meskipun terhalang pura Bali.

 

  1. Periksa bantal di kamar, apakah akan menambah kualitas tidur atau akan membuat terbangun jam 3 pagi. Ini yang saya alami, di kamar cakep 351 saya malah terbangun jam 3 pagi karena bantalnya terlalu keras meskipun tidak sekeras hidup saya. Beda dengan bantal di kamar 305 yang bau, bantalnya empuk, mampu mengurangi beban hidup saya selama ini. Meskipun saya tetap terbangun jam 3 pagi karena suara alarm teman sekamar yang bunyi dengan cueknya tapi yang yang punya alarm malah asyik tidur. Padahal kan saya baru tidur sekitar tengah malam.

 

  1. Selain tips di atas, umumnya saya minta kamar yang no smoking, karena saya tidak mau tidur dengan bau asap rokok. Kamar yang penghuninya pernah merokok di dalam, baunya tetap akan menempel. Saya juga suka dengan kamar yang AC-nya dingin. Saya juga tidak segan untuk ngerepotin petugas hotel untuk benerin AC, semprot pengharum udara, bahkan pindah kamar di tengah malam. Mengingat harga kamar di hotel berbintang itu tidak murah, seharusnya sepadan dengan pelayanannya.

Semoga rakernis tahun depan gak di hotel jadul lagi ya. Kalaupun terpaksa di hotel jadul, semoga kebagian kamar yang kekinian dan gak jadul. Aamiin.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here