Tips Reportase dan Blogging On The Spot ala Blogger Zaman Now

3
215
views
Kelas Blogger Ke-17: Reportase dan Blogging On The Spot
Kelas Blogger Ke-17: Reportase dan Blogging On The Spot

So what? Apa manfaat yang akan diberikan ke pembaca?” tanya Bang Gaper Fadli, pria bertubuh besar yang mendapatkan penghargaan The Best Citizen Journalism 2015 dari Kompasiana.

Menurut Bang Gaper Fadli, menulis reportase bagi blogger itu tidak cukup hanya 5W+1H. Mesti ada ujungnya, so what? Reportase yang kita tulis itu akan berdampak apa bagi para pembaca?

Sebagai seorang blogger zaman now, saya tertarik untuk tahu banyak dari Bang Gaper yang sarat prestasi. Apalagi tulisan beliau di Kompasiana saja dilihat lebih dari sejuta kali.

Saya sih pinginnya bisa berbagi pengalaman melalui tulisan di blog ini. Semakin banyak tulisan saya dibaca dan bermanfaat, semakin baik kan? Apalagi yang namanya zaman now ini, hoaks seliweran mondar-mandir tanpa permisi. Tinggal kitanya yang pinter-pinter pilih dan menyebarkan informasi deh.

Reportase

Bang Gaper membagikan tips reportase dan blogging on the spot pada kegiatan Kelas Blogger ke-17 yang diselenggarakan Kelas Blogger bersama Raksa Online di Wisma BSG, Jalan Abdul Muis Nomor 40, Jakarta Pusat, Rabu, 18 Agustus 2017.

Kelas Blogger Ke-17 bersama Raksa Online
Kelas Blogger Ke-17 bersama Raksa Online

Menurut Bang Gaper, blogger dalam melakukan reportase harus tahu apa yang menarik. Misalnya, saat blogger melakukan reportase tentang banjir sebagai hard news, harus tahu apa yang menarik dari kejadian banjir itu. Contoh lainnya, jika blogger melakukan reportase tentang Gubernur DKI Jakarta yang baru dilantik. Apa yang menarik dari pidatonya, misalnya mengenai viral menyebutan kata pribumi.

Selain tahu apa yang menarik, blogger juga harus selalu ingin tahu. Mulai dengan 5W, 1H, ditambah so what di ujungnya.

“Kembangkanlah rasa keingintahuan kita, dengan cara observasi. Observasi sendiri ada 3 macam, pertama partisipatif, terlibat di dalamnya. Misalnya, saat diberi tugas untuk menulis asuransi, terlibat tanya jawab dengan manajer Raksa Online,” jelas Bang Gaper.

“Kedua, non partisipatif. Ini observasi yang pasif, misalnya menyamar sebagai calon nasabah Raksa Online. Ketiga, observasi diam-diam, misalnya saat akan menulis mengenai pungli di terminal,” lanjutnya.

Bang Gaper yang pernah bekerja sebagai presenter di Radio Republik Indonesia (RRI) ini kemudian mengupas reportase lebih dalam, yang ternyata di setiap hurufnya mengandung makna.

R itu Rencana

Sebelum melakukan reportase, blogger harus merencanakan sudut pandang yang akan dipilihnya. Pikirkan juga siapa narasumber yang akan diwawancarai. Buat daftar pertanyaannya sedikit saja. Bisa berkembang saat wawancara berlangsung.

E untuk Eksplorasi

Misalnya, saat saya dan peserta Kelas Blogger ke-17 diajak kunjungan ke berbagai ruangan kantor Raksa Online. Kami jadi tahu bahwa benar ada ruang layanan refleksi, manikur dan pedikur, yang bisa dimanfaatkan oleh nasabah Raksa Online saat mengajukan klaim.

P itu Pilah dan Pilih

Biasanya di lapangan akan ditemukan data dan fakta. Blogger harus bisa memilah dan memilih. Tidak perlu semua dimasukkan ke dalam tulisan jika tidak perlu.

O itu bulat. Eh, bukan. O itu Olah

Kalau saya nih ya, kalau sudah masuk tahap mengolah ide, data, dan fakta hasil eksplorasi, biasanya muter-muter dulu di kepala. Nulisnya bisa kapan tau, kelamaan mikir. Lama-lama basi, sudah tidak mood lagi buat nulis. Hadehhh, masalah banget ini ya. Biar gak basi bagaimana, donk?

“Bikin draf,” kata Bang Gaper.

Iya juga sih. Apalagi saya kan orangnya gampang lupa. Daripada muter-muter di kepala aja, besok juga lupa kemarin habis mikirin apa, ya mesti nulis draf dulu. Yang penting nulis dulu.

R itu Runut

Nah ini penting menurut saya. Kalau saya baca tulisan orang lain yang loncat-loncat, bawaannya pingin saya ajak kenalan penulisnya terus saya minta dia ceritain secara lisan di depan saya supaya bisa langsung tanya jawab kalau saya banyak tidak paham sama tulisannya.

T itu Tercatat

Zamannya Bang Gaper reportase, zaman catatan buku saku dengan pulpen. Kalau blogger zaman now sih pegangannya ya gawainya aja, bisa nyatet, bisa rekam, bisa foto, bisa video.

A untuk Alirkan dan akuratkan

Supaya tulisan bisa mengalir, saya sih perlu suasana yang mendukung. Misalnya sepi, kadang dengar musik, kalau bisa tanpa lihat grup Whatsapp. Ganggu banget deh kalau disambi baca grup Whatsapp atau buka media sosial. Yang ada bukannya nulis artikel malah nulis di grup. Ini kalau saya, lho ya. Mungkin bagi penulis handal malah bisa nulis dengan deras kalau keseringan buka grup Whatsapp.

S untuk Segera

Iya sih namanya juga reportase kalau tidak segera ditulis bakalan jadi penggalan kisah lalu, donk ya.

E itu Etika

Menurut saya, etika itu antara lain ya tidak copy-paste tulisan orang lain. Kalau pun mengkopi ya sebutkan sumbernya.

 

Blogging On The Spot

Kang Arul, seorang dosen yang mengaku galau, menekankan bahwa di setiap menulis blog itu sudut pandangnya adalah “saya”. Kalau tidak, maka akan seperti reporter atau wartawan yang melakukan reportase. Setiap blogger harus bisa menulis seperti dirinya sendiri.

Kang Arul: menulis blog itu sudut pandangnya adalah “saya”.
Kang Arul: menulis blog itu sudut pandangnya adalah “saya”.

Copy the master, ikuti gayanya. Nanti juga lama-lama ketemu gayanya sendiri,” saran Kang Arul, yang saya yakin kali ini ia tidak sedang galau.

Peserta Kelas Blogger ke-17 selain diberi materi pengenalan asuransi Raksa Online juga dimanjakan dengan bertabur hadiah kekinian yang menunjang eksistensi nge-blog, antara lain action camera, smartphone, powerbank, dan kaos kelas blogger. Peserta yang mendapatkan hadiah ini adalah peserta yang mengkampanyekan kegiatan maupun produk asuransi Raksa Online di media sosial masing-masing.

Peserta Kelas Blogger Ke-17
Peserta Kelas Blogger Ke-17

Selain itu, ada juga lomba blogging on the spot, memperebutkan hadiah utama laptop. Wuih asyik banget ya. Nah lho, bagaimana tuh caranya dikasih tantangan kampanye di media sosial sekaligus tantangan nge-blog juga?

Ternyata, ini strateginya dari Kang Arul, unggah foto di Instagram, atau kirim foto melalui whatsapp karena ukuran foto akan langsung terkompres. Selanjutnya, embed foto di Instagram tadi ke tulisan kita di blog.

Sudah tahu caranya, tinggal prakteknya aja nih ditambah. Sering-sering aja buka mata dan telinga, barangkali ada di sekitar kamu yang menarik dan mau dibagi? Langsung tulis, ya.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here