Dapat Australia Award Fellowship untuk Penerjemahan

4
212
views

Setelah berbagi kisah di Belanda dan Korea Selatan, aku akan bercerita pengalaman di Australia. Silakan menyimak.

Penerjemahan dan penjurubahasaan adalah jembatan komunikasi antara dua budaya. Penerjemahan menjadi sangat penting dalam upaya pengenalan budaya, transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, dan peningkatan hubungan politik, dagang, dan investasi. Hubungan Indonesia dan Australia dapat dilacak sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Benua Kanguru. Pelaut Makassar pernah datang meminta izin menangkap timun laut dengan penduduk asli Australia. Para pelaut ini disinyalir sengaja meninggalkan beberapa orang untuk mempelajari bahasa dan budaya penduduk Australia. Itulah sedikit kisah hubungan Indonesia dengan Australia.

Sebagai alumni Belanda dan juga alumni Australia dari Indonesia, aku menemukan fakta unik tentang Australia. Tahukah kamu nama Australia awalnya adalah New Holland? Nama Tasmania juga diambil dari pelaut Belanda bernama Abel Tasman. Nama negara tetangganya: Selandia Baru atau New Zealand dari bahasa Belanda juga. Coba tebak arti namanya!

Aku dari Kementerian Kominfo beserta 11 orang pejabat fungsional penerjemah dari berbagai instansi—atas fasilitasi dari Sekretariat Kabinet—mendapat kesempatan mengikuti kursus singkat di bidang penerjemahan dan penjurubahasaan di Monash University di Melbourne, Australia selama 6 minggu mulai 25 September sampai 3 November 2017. Kursus ini dilaksanakan dalam kerangka Australia Award Fellowship yang merupakan program diplomasi publik di bawah Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT).

Banyak orang yang menyamakan penerjemahan (translation) dan penjurubahasaan (interpreting). Keduanya sangat berbeda dalam proses dan hasil. Penerjemahan menghasilkan terjemahan tulis sedangkan penjurubahasaan menghasilkan terjemahan lisan. Keduanya tidak mudah dan harus mempunyai kualifikasi dan melewati berbagai pelatihan, kursus, dan bahkan pendidikan khusus penerjemahan yang tidak sebentar dan mudah.

Dalam program ini, kami mempelajari berbagai aspek diantarannya teori penerjemahan, penerjemahan berita, penerjemahan sastra, cara menulis, teknologi penerjemahan, manajemen penerjemahan, serta teknik dan praktik penjurubahasaan konsekutif dan simultan. Kami juga berkesempatan menjalin jejaring dengan akademisi dan praktisi penerjemahan di Australia. Kami juga belajar banyak dari Dr. Marc Orlando pakar penjurubahasaan dan Profesor Harry Aveling pakar penerjemahan.

Pelajaran dilaksanakan di kampus Monash University di Caulfield dan Clayton. Kampus yang modern ini dapat kami jangkau menggunakan kereta selama kurang lebih 20—30 menit dari tempat penginapan kami di South Yarra. Aku tahu cerita ini masih gambaran umum. Cerita detail mengenai kampus dan pengalaman seru akan segera kutulis. Oke, kuliah dulu ya!

 

4 COMMENTS

    • Seharusnya ada spesialis: translator (tulisan) atau interpreter (lisan). Namun karena kebutuhan kantor, kami sementara ini harus bisa keduanya. Di beberapa KTT, kami sudah terlibat baik lisan ataupun tulisan. Semoga makin ramai pekerjaan ini ke depannya, ya. Amin. Tulisan lainnya sudah pasti akan menyusul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here