Sintuwu Maroso di Poso

0
98
views
Tiba di Bandara Kasiguncu, Poso, Sulawesi Tengah disambut dengan pemandangan Gunung Biru yang indah
Tiba di Bandara Kasiguncu, Poso, Sulawesi Tengah disambut dengan pemandangan Gunung Biru yang indah

“Dinas ke daerah rawan konflik, nih” batin saya dalam hati saat diberi tahu Mira tentang penugasan ke Poso, Sulawesi Tengah.

Saya belum pernah ke Poso sebelumnya. Sulawesi pun baru seputaran Makassar, Manado dan Minahasa. Jadi saya belum punya bayangan seperti apa Poso sekarang.

Karena saya pun mau mengunjungi tempat-tempat baru, jadilah saya terima penugasan tersebut setelah saya tanya dengan siapa rekan kerja saya selama di Poso. Ternyata saya bertugas berdua Mbak Mulyani, teman sejawat yang belum pernah ke Poso juga dan ada 4 orang dari perusahaan konsultan yang menang lelang.

“Gak ada tempat lain apa?” masih batin saya dalam hati.

Ya maklum lah, tugas pemetaan khalayak ini kan tugasnya Subdit lain. Saya sih terima sisanya aja, semacam barang obralan. Sisanya Subdit sebelah, karena SDM-nya habis pas ada “pertandingan” yang lebih “menarik”.  Namanya barang obralan kan gak bisa pilih-pilih.

Untuk memantapkan hati dan pikiran, saya pun cari bocoran dari Bu Illi Modjanggo, teman kerja yang asli Sulawesi Tengah, bahwa Poso aman. Mantap lah saya bertolak ke Poso. Anggap saja penugasan ke Poso ini karena kami perempuan-perempuang lajang wonder woman. Hahaha menghibur diri sendiri.

Selain Kabupaten Poso, ada 9 daerah lain yang menjadi lokasi pemetaan ini, yaitu Pulau Rupat Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, Kampung Ujoh Bilang Mahakam Hulu Provinsi Kalimantan Timur, Kecamatan Nunukan Provinsi Kalimantan Utara, Kecamatan Melonguae Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara, Kota Atambua Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kota Jayapura Provinsi Papua, Provinsi DKI Jakarta, Kota Banda Aceh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan Kabupaten Pamekasan Provinsi Jawa Timur. Masing-masing lokasi ada 2 orang PNS dari Direktorat Komunikasi Publik dan 4 orang dari perusahaan konsultan.

Hari Sabtu, 23 September sekitar jam 22.00 WIB saya berangkat dari rumah menuju Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta diantar abang GoCar. Padahal sekitar pukul 15.00 WIB saya baru tiba di rumah setelah pulang dinas di Malang.

“Memangnya ada penerbangan jam segini?” tanya abang GoCar.

“Bandara 24 jam, bang ,” jawab saya singkat. Pasti si abang enggak pernah ke naik pesawat nih.

GA 654 mengantarkan kami ke Makassar sekitar pukul 01.20 WIB di Hari Minggu, 24 September 2017. Tiba di Makassar, masih banyak waktu luang sebelum naik pesawat ke Poso. Jadi kami bisa foto-foto dulu di bandara.

Bandara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan
Bandara Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan

Dari Makassar ke Poso, kami naik pesawat Wings Air. Ini adalah pertama kalinya saya naik pesawat baling-baling. Rasanya deg-degan karena pernah dengar cerita-cerita kurang menyenangkan dari rekan yang pernah terbang dengan pesawat baling-baling di Indonesia Timur. Ternyata pas saya naik, aman-aman aja.

Tiba di Bandara kecil Kasiguncu di Kecamatan Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, kami disambut dengan pemandangan Gunung Biru yang indah.

Sebelumnya, Mbak Mulyani yang selama ini berkoordinasi dengan Bapak Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Kominfosan), ditawari penjemputan. Tetapi ia menolak dengan halus karena pemikirannya nanti saja bisa pakai mobil yang ada di bandara.

Ternyata tidak ada taksi bandara. Mobil yang bisa ditumpangi di bandara pula sudah ada beberapa yang jalan. Tapi karena kami baik hati serta tidak sombong, ada driver yang sudah dapat penumpang malah mengoper penumpangnya ke kendaraan temannya yang lain, dan kami pun berenam naik mobilnya. Di Poso, penjemputan dari dan ke bandara bayar per kepala sebesar Rp.50.000,-

Buat kalian yang ada rencana ke Poso, sebaiknya dipastikan ada kendaraan yang menjemput ya. Maklum, bandaranya kecil dan jarang ada penerbangan. Jadi belum tentu tersedia cukup kendaraan yang mengantar jemput.

Keesokan harinya, kami bersama dengan 2 orang tenaga ahli dan 2 orang tenaga teknis dari perusahaan konsultan pemenang lelang, berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kominfosan, Bapak Drs. Syahrur, MM untuk pelaksanaan pemetaan profil target khalayak, media, dan program prioritas dan kebijakan pemerintah 2017 di Kabupaten Poso.

Kemudian, tenaga teknis konsultan men-briefing 3 orang dari Dinas Kominfosan untuk melaksanakan tugas sebagai enumerator penyebaran kuesioner di 13 desa dari 5 kecamatan terpilih di kabupaten dengan semboyan Sintuwu Maroso.

“Sintuwu artinya bersatu. Maroso artinya kuat. Sintuwu Maroso artinya persatuan yang kuat,” kata Ribka Dje’o, Kasi Aplikasi Telematika.

Selasa, 26 September 2017, kami menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) di Aula Dinas Kominfosan Kabupaten Poso, Jalan Pulau Seram, Poso Kota. FGD ini dibuka oleh Kepala Dinas Kominfosan, Bapak Drs. Syahrur, MM, mewakili Bupati Poso. FGD dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Sosial, Dinas Kominfosan, Dekan FISIP Universitas Sintuwu Maroso, dan tokoh masyarakat.

 

Sebelum meninggalkan Poso, jangan lupa membeli buah tangan, kerajinan dari kayu hitam. Toko yang menjual kerajinan khas ini hanya ada dua di Kabupaten Poso, letaknya berdampingan di Jalan Pulau Kalimantan.

Satgas Operasi Tinombala 2017 membeli buah tangan kerajinan kayu hitam khas Poso, sebelum kembali ke Maluku.
Satgas Operasi Tinombala 2017 membeli buah tangan kerajinan kayu hitam khas Poso, sebelum kembali ke Maluku.

Banyaknya Satgas Operasi Tinombala 2017 yang bertugas di Poso, banyak pula kerajinan kayu hitam yang dijual bernuansa Tinombala seperti jam dinding. Saat saya mengunjungi toko kerajinan untuk mencari buah tangan, Satgas dari Brimob Polda Maluku juga memiliki tujuan yang sama, membeli buah tangan sebelum kembali ke Maluku.

Aneka kerajinan kayu hitam khas Poso
Aneka kerajinan kayu hitam khas Poso

Berbagai kerajinan tangan yang tersedia di toko ini antara lain jam dinding, pajangan kapal berbagai ukuran, tongkat, pedang, tempat lilin, tempat tusuk gigi, tempat rokok, tas, gantungan kunci, papan nama meja, pajangan dinding bertulisan ayat kursi, semua terbuat dari kayu hitam. Selain kerajinan yang tersedia, toko ini juga menerima pesanan pembuatan kerajinan tangan sesuai sketsa dari pembeli.

Meskipun masih ditemui bangunan yang rusak dan terbakar di berbagai penjuru Poso Kota, yang ditinggalkan pasca kerusuhan Poso, jangan khawatir. Bagi kalian yang akan bertugas atau mengunjungi Poso apa pun tujuannya. Poso sudah aman, koq.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here