Buku Harian Belanda 2: Pindahan ke Nieuwstraat

0
158
views

Tulisan ini adalah catatan lamaku di sebuah media sosial. Atas permintaan salah satu pendiri (kerennya co-founder) kantin.id, aku unggah kembali di sini. Boleh kan? Boleh. Seri ini akan kubagi ke dalam beberapa tulisan yang bercerita tentang pengalamanku ketika mendapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kominfo dan Pemerintah Belanda melalui Stuned Nuffic NESO. Beberapa kalimat akan kubiarkan apa adanya untuk menunjukkan ke-abg-an saat itu dan foto-fotonya diambil dari ponsel terbaik di masa itu haha. (Benak pembaca: kepanjangan pengantar, banyak basa basi). Maaf. Silakaaannn 😀

 

Halo teman-teman, perjalanan selanjutnya adalah membantu Desi (temen kuliah) pindah ke Nieuwstraat–yang artinya adalah jalan baru (hehehe mungkin gak tahu ding). Dua peta, ukuran gede dan sedang sudah di tangan, koper2 sudah di depan mata. Kita masukin tuh koper-koper di kereta belanja macam Carrefour (entah dari mana kereta dorong ini, yg pasti ilegal mungkin *twewiaw).

Lagi-lagi start-nya dari Holland Spoor dan berjalan menyusuri jalan trem sambil mendorong kereta belanja. Pokoknya luruuuus terus saja nanti ketemu perempatan belok kiri, lalu belok kiri lagi (gampang, tapi kenyataannya).

Sampai di sebuah jembatan kami kaget–sangat kaget–dan speechless. Tahukah kenapa? Karena, pemandangan kanal di bawah ini seperti kalender (hehehe). Tapi mungkin, warga Den Haag yang tinggal di situ pasti akan bilang: “Biasa aja tuh!” Sama seperti orang Indonesia yang main debus akan bilang “Biasa aja tuh!”

Jalan di sebuah kiri kalo gak salah namanya Groenewegje, yang kanan Dunnebierkade.

Kafe-kafe banyak yang sudah buka di teras. Namun kalo cuaca kurang mendukung, kafe tidak akan buka di teras (siapa juga yang mau duduk di halaman dalam keadaan menggigil?) 😀

Gak ada tenda pecel lele ya?

Dorooong terus keretanya berputar-putar di Centrum, Den Haag. Kesasar lagi. Bingung lagi. Disorientasi. Peta dibalik, diputar, dilipat, dilempar, diambil lagi. Akhirnya nyerah tanya ibu yang duduk.

Terjemahannya:

Kami: Bu, maaf mengganggu, kami putar-putar dan menurut peta ini, kami sudah di Nieuwstraat. Anda tahu Nieuwstraat? Bisa tolong tunjukkan pada kami?
Ibu: Maaf Nak. Kami bukan orang sini.
Kami: Oooh nggih pun, matur nuwun.
Ibu: Yo ati-ati yo.

Akhirnya ketemu juga Nieuwstraat, pas di belakang ibu yang duduk tadi. Ini lho gambarnya Nieuwstraat dari atas kamar Mbak Desi.

Gak ada tukang bakso lewat ya? Kayak di film-film horor yang monsternya lompat-lompat di atas atap-atap rumah. Aku jadi film Dr. Jeckyll and Ms. Hyde atau Werewolf. Di sebelah kiri ada gereja besar atau great church atau Grote Kerk yang loncengnya terdengar tiap jam. Aku pernah melihat pernikahan di gereja ini, indah, sederhana, dan romantis 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here