Buku Harian Belanda 1: Drama Minggu Pagi di Den Haag

0
207
views

Tulisan ini adalah catatan lamaku di sebuah media sosial. Atas permintaan salah satu pendiri (kerennya co-founder) kantin.id, aku unggah kembali di sini. Boleh kan? Boleh. Seri ini akan kubagi ke dalam beberapa tulisan yang bercerita tentang pengalamanku ketika mendapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kominfo dan Pemerintah Belanda melalui Stuned Nuffic NESO. Beberapa kalimat akan kubiarkan apa adanya untuk menunjukkan ke-abg-an saat itu dan foto-fotonya diambil dari ponsel terbaik di masa itu haha. (Benak pembaca: kepanjangan pengantar, banyak basa basi). Maaf. Silakaaannn 😀

Sampai di Negeri van Oranje

(Holland Spoor)

Mendarat di Schipol dan celingak celinguk. Praktek menyintas di Lawu aja bisa, masa di sini enggak. I will survive.

Naik kereta. Keretanya cepat sekali, jadi kapan-kapan saja ya ceritanya. Ini biar cepat dan memotong birokrasi cerita.

Sampailah di Den Haag Holland Spoor. Daaaannn…  aku lupa memberikan detil kedatangan ke Juan dan Ryan. Jadi, aku tidak tahu cara ke rumah mereka (catatan: belum ada Google Maps) Fiuh! Setelah memeras otak, akhirnya aku lanjutkan langkah kaki mencari hotel dan bertanya pada seorang pria di depan Holland Spoor, “Excuse me, could you tell me the nearest hotel?”
Dia: “Lha aku iki wong Jowo, Mas. Hahaha ya nggak lah, dia jawab: “Right at the corner over there!”
Aku: “Thanks.”
Dia: ” Sami-sami” (becanda lagi hehe)

Benakku: corner yang mana ya tadi? haha.

Setelah lelah berjalan kesana kemari dan bertanya kembali pada orang lain, akhirnya aku menemukan sebuah hotel, ketikal menunggu kamar siap, seseorang memasuki lobi dan tersenyum padaku, dan ternyata bapak yang ramah ini bertanya: “Dari Indonesia mas?”
“Iya, Pak!” jawabku.

Singkatnya (dicepetin lagi) bapak yang menolong aku pertama kali ini adalah orang kedutaan yang seharusnya kucari. Ceritanya panjang soalnya dan kebetulan semua! What an unbelievable day! (terima kasih atas teh hangat dan pinjaman ponsel-nya pak, aku tidak akan melupakannya, salam untuk keluarga).

Aku kembali ke stasiun karena sudah dapat mengontak ponsel teman-teman, di sana sudah menunggu: the savior angels. Akhirnya, aku menginap di tempat Juan dan Ryan. They’re twin by the way. Selama berjalan kaki menuju rumah mereka di Thijesstraat kami mengobrol panjang lebar tentang Den Haag: The City of Peace and Justice dan De Weduwe van Indie–cari lagunya di YouTube ada nih. dan akibatnya saudara/i se-tanah air, aku lupa tidak menghafalkan jalan (twewiaw!).

(Plein, Den Haag aka Alun-alun aka square)

Suasana Den Haag pagi hari Minggu pagi jam 08.00 sepi. Ingin tahu seperti apa? Mentari tak bersinar, tram sepi, toko tutup, sepeda bergeletakan dimana-mana (lha kan memang Belanda), yang ada cuma burung gagak yang terbang dan hinggap di jalanan ke sana kemari (kaaak kaaak kaaak). Busyet dah kayak film abissss. Bandingkan dengan daerah Pasar Senen, Jakarta pada jam yang sama 08.00.

Thijsesstraat

Baca tiga kali nama jalan di atas maka kamu sudah jadi orang Belanda tulen wakakak. Bahkan, aku yang menumpang di rumah Juan dan Ryan selama dua malam di jalan itu susah melafalkannya. Untungnya, tidak ada yang menanyakan alamat tinggalku saat pertama kali di Belanda.

Ini semacam kompleks kantor, apotik, dan kafe yang diberi nama Slacthuislaan (fiuh kenapa gak dinamain Ruko Mekar Jaya biar gampang) (Tambahan dari Ryan: eh mon kalo boleh gw tambahin neh biar makin ok cerita loe…
slachthuislaan, kalo dalam bahasa indonesia artinya kira2 jalan rumah jagal… pas summer kemaren ada posternya gimana pas jaman dulu tempat slachthuislaan ini masi jadi rumah jagal… tenang aja jagal nya jagal sapi kok, bukan orang…hehehehe
makanya ada pintu gerbang masuk ke rumah jagalnya ama ada lapangan buat ngumbar sapi kali ya… hehehe)

Lapangan tempat bermain (siapa yang main di udara dingin gini ya) Kalau di Indonesia, ini adalah tempat yang luas untuk parkiran dan main bolaaaaa.

 

Kayak rumah jaga sebelum masuk ke sebuah areal perumahan (ateng sok tahu mode on)

Sampailah aku di rumah Juan-Ryan di Thijesstraat daerah Laakhaven, Den Haag. Ini dia Jalan Thijesstraat. Masih sama di Google Map.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here