Saya Indonesia, Saya Pancasila

4
297
views
Saya Indonesia, Saya Pancasila

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan di Kumparan yang membahas tiga jenis orang yang menjadi mualaf Pancasila. Pertama, kelompok orang yang sangat menyesali dirinya karena lama tersesat. Kedua, kelompok yang terlalu bersemangat dalam beragama dan menilai orang lain, termasuk mereka yang sudah lebih dulu beriman, sebagai orang kafir. Ketiga, orang yang mengaku beriman tetapi sebenarnya tidak.

Dari hasil pengamatan saya, sebagai seorang Warga Negara Indonesia yang bertahun-tahun sekolah di tanah air dari TK sampai dengan kuliah S2, dan kini Pegawai Negeri Sipil, Pancasila itu bukan barang baru bagi saya dan teman-teman.

Hari ini saja, 1 Juni 2017, meskipun tanggal merah, wajib ke kantor untuk upacara pukul 7.30 WIB. Bahkan dihadang jalanan macet di sekitar Medan Merdeka Selatan karena parkiran PNS DKI yang hendak upacara di Monas sampai 3 lapis, saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Apapun motivasinya bagi PNS yang pagi ini datang ke kantor untuk upacara, setelah upacara kami masih sempat swafoto, swafoto bersama, bikin video, atau apapun itu dengan spanduk peringatan Hari Kelahiran Pancasila di lapangan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Saya Indonesia, Saya Pancasila

Ini adalah Pancasila versi saya dan teman-teman saya, berdasarkan pengamatan sederhana pada teman-teman yang berstatus PNS maupun bukan. Butir-butir Pancasila berdasarkan Ketetapan MPR No.I/MPR/2003.

  1. Ketuhanan yang Maha Esa

 

Sila Kesatu, Butir Ke-2: “Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.”

Bagi umat Islam yang religius, setiap adzan berkumandang dari Masjid At-Taqwa Kominfo, langsung menuju masjid, lebih cepat daripada jalan menuju ruang rapat. Aktifitas di masjid ini pun beragam, antara lain kajian ba’da zuhur yang direkam dan diunggah di media sosial Kiswah Kominfo.

Bagi umat Kristiani yang religius, menamakan dirinya Kompak, ada ibadah di lantai 8 gedung belakang setiap Hari Jumat siang selama sebulan sekali. Bahkan Fransisca, teman saya yang bertugas di Museum Penerangan, Taman Mini Indonesia Indah, sengaja datang ke pusat untuk beribadah.

Jangan dicontoh:

Menyebarkan berita hoax yang menyebarkan kebencian terhadap umat beragama lain.

 

  1. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

 

Sila Kedua, butir Ke-2: “Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.”

Di Kementerian Kominfo, ada dua orang eselon 1 perempuan, yaitu Ibu Farida, islam dan berhijab dan Ibu Rosarita Niken Widyastuti, khatolik. Menduduki jabatan tinggi bukanlah mustahil bagi perempuan dengan agama minoritas, bukan?

Sila Kedua, butir Ke-7: “Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan”

Setiap ada musibah misalnya keluarga dekat dari karyawan Kementerian Kominfo yang meninggal dunia, pasti ada yang melayat. Bahkan disediakan bis jemputan untuk mengantar pelayat ke rumah duka. Tidak hanya rumah duka di Jakarta dan Bekasi (ada rute bis jemputan ke Bekasi), namun juga yang rumah dukanya di Bogor (tidak ada bis jemputan jurusan Bogor). Sebelum melayat, sudah jadi kebiasaan saweran mengumpulkan uang duka. Terkadang mengirimkan karangan bunga juga.

Saweran dan menjenguk rekan kerja yang sakit di Rumah Sakit maupun di rumahnya.

Kegiatan donor darah, saweran untuk musibah banjir di Garut, gempa Jogja.

Jangan dicontoh:

  1. Pimpinan yang memilih anggota tim dengan pesan “Jangan kebanyakan perempuannya ya mbak”
  2. Pimpinan yang mempromosikan stafnya karena berasal dari suku yang sama.

 

  1. Persatuan Indonesia

 

Sila Ketiga, butir ke-2: “Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.”

Apa saja yang sudah kamu korbankan? Waktu luang bersama keluarga, saat harus dinas ke luar kota atau ke luar negeri. Eh… kalau pengorbanannya buat dinas luar sih pada rela, pada rebutan malah, karena duitnya lumayan. Ada yang sudah berkorban bangun pagi untuk berangkat ke kantor kena macet, atau dempet-dempetan di KRL. Gak rela banget terlambat, takut tunjangan kinerjanya dipotong. Eh, kalau ini rela berkorban untuk duit lagi ya. Apa pengorbangan demi kepentingan negara dan bangsa yang sudah kamu lakukan? Ikut perang tidak pernah, kecuali cyber war sesama ibu-ibu, ibu bekerja versus ibu di rumah. Korban perasaan? Jiaahh, jangan korban perasaan aja sih.

 

  1. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

 

Sila Keempat, butir ke-2: “Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.”

Sudah bukan jamannya lagi PNS wajib memilih Partai Golkar jaman Orde Baru. PNS pun sama dengan WNI lainnya yang bebas memilih saat pemilu. Siapa pun pilihannya, tidak akan dicatat oleh pimpinan sebagai penilaian SKP.

Sila Keempat, butir ke-4: “Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.”

Setiap penilaian angka kredit Pranata Humas, tim penilai bersidang menentukan hasil penilaian setelah sebelumnya dinilai secara individu. Saat sidang, setiap anggota tim penilai bisa melihat hasil penilaian Pranata Humas yang telah telah dinilai oleh anggota tim penilai lainnya. Di situ akan terlihat bahwa pengurangan atau penambahan angka kredit setelah penilaian telah sesuai dengan peraturan yang berlaku atau pedoman yang telah disepakati. Jika ada perbedaan pandangan, maka disepakati saat sidang itu.

Jangan dicontoh:

Ini nih yang heboh menjelang Pilkada DKI sampai dengan entah kapan. Maksa bener buat milih calon Gubernur DKI yang muslim, asal bukan Ahok. Sampai ceramah sholat Jumat pun menghina Ahok. Ada lagi yang mengancam kalau meninggal gak bakalan disholatin kalau milih Ahok.

 

  1. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

 

Sila Kelima, butir ke-9: “Suka bekerja keras”

Meskipun jam kerja kami dari jam 8.00 sampai dengan 16.00, ada aja yang suka pulang malam alias melemburkan dirinya, baik karena ada rapat di luar jam kerja, dinas luar, maupun yang kerja di meja kerjanya meskipun tidak dibayar lembur.

Jangan dicontoh:

  1. Setelah pagi nempelin jempol ke mesin presensi, cao pergi entah kemana ke urusannya masing-masing sampai saatnya jam pulang kantor, nempelin jempol lagi ke mesin.
  2. Kerja baru sejam dua jam, kebanyakan berselancar di toko online maupun menikmati hiburan di Youtube.
  3. Sering berkumpul dengan tukang rumpi, kepo-in rekan kerja yang kurang disukai, ketimbang kepo-in kerjaan.
  4. Mengeluh kerjaannya banyak dan sibuk. Padahal kerjanya lambat dan banyak selingannya.

Selain teman-teman Pancasila di lingkungan saya bekerja, ada juga teman-teman sesama alumni SMP 109 Jakarta yang tidak kalah Pancasila-nya. Meisari Arvini dan Yendi Amalia, dengan bangganya mengenang masa hafalan butir-butir Pancasila yang mengantarkan mereka menjadi pemenang Lomba Cerdas Cermat P4 Tingkat Nasional saat duduk di bangku SMP.

Saya Indonesia, Saya Pancasila

Unik kan teman-teman saya? Kalau kamu sendiri, apakah sudah mengamalkan Pancasila? Kalau belum, yuk berbenah dan tanamkan jiwa Pancasila di diri kamu, keluarga, dan lingkungan kamu. Selamat Hari Lahir Pancasila. Kita Indonesia, Kita Pancasila. Semua Indonesia, Semua Pancasila. Saya Lida Noor Meitania, Saya Indonesia, Saya Pancasila.

4 COMMENTS

  1. Hidup kaka lidaaaa..tulisannya sll menarikkkkk hatikuuuuu..

    Pancasila emang rohnya Indonesia. Kl ga suka Pancasila dikumandangkan dan dihayati kembali, silakan berpikir2 utk pindah kewarganegaraan imo. Hehehee…galak bgt yak. Hidup para penggagas Pancasilaaaaa!! Pak Soekarno ganteng dkk. #fans

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here