mau pilih e-KTP atau KTP-el?

7
218
views

Perbincangan masyarakat dan media menunjukkan kadar popularitas terminologi e-KTP masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan KTP-el atau Kartu Tanda Penduduk Elektronik. e-KTP adalah campuran bahasa Inggris dengan Indonesia, sedangkan KTP-el bisa jadi upaya naturalisasi (ahahahaha) kosakata berdasarkan kaidah Ejaan Yang Disempurnakan dalam perbendaharaan bahasa Indonesia.

Yang terakhir ini mulai dipopulerkan oleh Pemerintah Republik Indonesia cq. Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Singkatnya disebut UU Adminduk.

Jika mau cari salinan UU dimaksud, buat baca-baca atau dokumentasi, berikut pranala terkait: Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

Bertahun-tahun kemudian …

Jika diamati, kita butuh waktu tujuh tahun sejak 2006 untuk mengubah istilah KTP menjadi KTP-el. Selama itu, kebanyakan orang kadung akrab dengan bentuk e-KTP.

Pun di tahun 2017, ketika masyarakat dibuat terhenyak karena mencuatnya kasus dugaan megakorupsi proyek Adminduk, banyak pihak, termasuk media massa setia dengan rujukan istilah e-KTP.

Lantas ke mana perginya KTP-el selama ini?

Pengubahan istilah KTP ada sejarahnya. Lebih tepatnya, ada proses kajian keilmuan dan kebahasaan yang melibatkan pemerintah (baca= Kementerian Dalam Negeri) dengan para ahli bahasa Indonesia.

Seperti dilansir Jawa Pos (24/11/2013) dalam laporan “e-KTP Berubah Jadi KTP-el” halaman satu dan halaman dua:

“Kami sudah meminta pendapat dari ahli bahasa Indonesia lebih bijak jika menggunakan singkatan KTP-el,” kata Kepala Pusat Penerangan Kemendagri Restuardy Daud.

Menurut Restuardy, kesepakatan yang dibuat antara tim ahli bahasa dengan Kemendagri tentang singkatan tersebut telah mempertimbangkan berbagai macam hal, diantaranya adalah bahwa istilah asing tidak dapat disandingkan dengan bahasa Indonesia, apalagi menjadi sebuah singkatan.

“Jadi kalau menggunakan bahasa Inggris, seluruhnya harus bahasa Inggris. Jangan setengah-setengah,” ujar dia.

Selain itu, menurut dia hal tersebut dilakukan sebagai pembelajaran bagi masyarakat tentang bahasa Indonesia. “Meski ini terdengar sepele, saya harap masyarakat tidak lagi menyebut dengan e-KTP, tapi KTP-el, dengan el-nya huruf kecil singkatan dari elektronik,” terang Restuardy sambil mencoba merinci.

Sudahkah masyarakat (dan media massa) belajar?

Saya kira masih jauh ayam dari panggang. Sebentar … saya lupa pepatahnya. Tapi intinya begitu. Masih jauuuhhhhh. Dibutuhkan kerja keras seperti Ahok pada DKI Jakarta, untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru.

Tengok saja di laman media massa daring. Dengan perintah site:url, hasil pencarian Google menyajikan data yang menarik. Kita lihat dari headline atau judul berita yang dimuat di Tempo, Kompas, Republika, Jawa Pos dan Detik.

Dari 10 berita di Tempo, hanya dua judul berita yang menuliskan KTP-el atau Kartu Tanda Penduduk (KTP) Elektronik. Sisanya e-KTP. Pencarian saya lakukan dengan kata kunci KTP-el.

Secara mengejutkan, hasil pencarian dari Kompas sangat kontras, yakni delapan judul dari 10 berita menerapkan istilah KTP-el. Kata kuncinya sama.

Bagi saya, temuan ini wajar karena Kompas gitu loh. Makanya saya uji lagi dengan kata kunci e-KTP dan hasilnya ahahahahahahasu … 10 judul dari 10 berita ya pakai e-KTP.

Lucunya di Jawa Pos aka JPNN, setali tiga uang lah dengan Kompas. Jika pakai kata kunci e-KTP, hasilnya telak, 10 dari 10 konsisten e-KTP. Bahkan tujuh judul dari 10 berita di JPNN tetap pakai diksi e-KTP dibandingkan KTP-el.

Portal berita daring sisanya urung saya tengok. Palingan juga begitu. Masih lebih banyak e-KTP.

Ya sudah, mau bagaimana lagi.

Media massa sebagai salah satu jalur sosialisasi penyegaran kebahasaan justru tak mampu berkelindan dengan gaya baru yang diusung pemerintah. Boleh jadi jurnalis baik di tingkat reporter maupun redaktur, rasa kebahasaannya masih berpihak pada resep gado-gado asing+lokal. Atau acuh tak acuh.

Kalau Anda, mau pilih e-KTP atau KTP-el?

7 COMMENTS

  1. Klo media online lebih pakai kata yang banyak dicari lewat google mungkin ya? Jadi yg dipakai e-KTP.
    Klo “KTP-el” gk pernah dicari lewat google. Mungkin bgitu ya.
    Klo media cetak bagaimana? Sama aja mungkin ya? Lebih pakai kata e-KTP karena sudah terlanjur populer.

  2. Kak Lida, ini kan kolom Bahasa, sehingga titik berat saya pada diksinya, bukan platform media massa. Ga ada bedanya pakai cetak, daring atau elektronik.

    Yg menarik justru, pemerintah “menghimbau” penggunaan terminologi KTP-el dalam berbagai kesempatan, bahkan penetrasi pakai UU Adminduk segala macam.

    Toh masih lebih populer e-KTP

    :((

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here