Jalan-jalan ke Pulau Belitung: Danau Kaolin, Tanjung Tinggi, dan Tanjung Kelayang

2
522
views
Pantai Tanjung Tinggi, Belitung, atau yang biasa dikenal sebagai Pantai Laskar Pelangi
Pantai Tanjung Tinggi, Belitung, atau yang biasa dikenal sebagai Pantai Laskar Pelangi

Buat kamu yang kurang piknik dan kepingin jalan-jalan keluar dari rutinitas kerjaan, bisa banget jalan-jalan ke Pulau Belitung. Perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, ke Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, kira-kira sejam saja. Kali ini saya akan berbagi kisah saya jalan-jalan ke Pulau Belitung, minggu lalu.

Sebagai pemegang Garuda Frequent Flyer, pernah gold, dari maskapai BUMN Garuda Indonesia, sebagian poin mileage saya ekspired di akhir Desember 2016 lalu. Jadilah poin yang telah saya kumpulkan tersebut ditukar dengan tiket pulang pergi ke Tanjung Pandan untuk dua orang. Bahkan masih menyisakan poin mileage. Meskipun penukaran poin mileage gratis, saya harus membayar air fare tax dan airlane surcharge sebesar Rp.650.000,-

Berhubung pergi dengan ibu saya dan kami belum pernah ke Pulau Belitung, jadi saya memanfaatkan media sosial Instagram untuk kepo-in foto-foto wisata di Pulau Belitung dan memutuskan untuk memakai jasa travel yang fotonya cantik (IG: travelbelitungcantik). Mulai dari urusan hotel, mobil, BBM, driver, makan, foto, rencana perjalanan (itinerary), semua diurus oleh travel.

Sengaja terbang Hari Sabtu, 8 April 2017, pukul 6.30 WIB dengan GA282 karena pingin menikmati Belitung lebih lama. Berangkat dari rumah diantar driver GrabCar pukul 03:15, semalam sebelumnya saya hanya tidur selama 2 jam. Garuda Indonesia Bombardier CJR1000 NextGen mengantarkan kami sampai ke Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan.

Setibanya di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin, driver travel sudah menjemput kami. Kemudian kami diantarkan ke Danau Kaolin. Sebenarnya, Danau Kaolin ini bukan merupakan tempat wisata, tetapi banyak dikunjungi orang karena keindahan warna air dan kaolin ketika terkena sinar matahari. Danau ini terbentuk akibat dari galian kaolin yang digunakan sebagai bahan baku industri pembuatan antara lain keramik, kosmetik, dan pasta gigi.

Danau Kaolin, Belitung
Danau Kaolin, Belitung

Mengenai pro kontra penambangan dan pelestarian alam di Danau Kaolin, tidak akan saya bahas di sini. Tapi kalau kamu tahu tentang ini silahkan saja tulis komentar di bawah tulisan ini.

Danau Kaolin ini mirip dengan Kawah Putih Ciwidey, Bandung. Bedanya, di Ciwidey dingin sedangkan Belitung panas. Saat saya mengunjungi Danau Kaolin, sudah dibatasi dengan pagar dan curam sehingga tidak bisa turun sekedar celupin kaki. Apalagi ada papan peringatan untuk tidak berenang di Danau Kaolin. Berbeda sih dengan foto-foto yang pernah saya lihat di Instagram, ada calon pengantin yang foto pre wedding dan ada yang bisa berdiri cukup dekat dengan air danau.

Saya jadi teringat lokasi kapal PLTD Apung, kapal 2.600 ton yang dihempas tsunami hingga ke tengah permukiman warga di kota Banda Aceh, 26 Desember 2004. Saat ini sudah dijadikan monument peringatan dan telah ditata oleh pemerintah menjadi wahana wisata edukasi. Mungkin Danau Kaolin bisa juga ditata seperti itu. Karena faktanya adalah turis yang datang ke Pulau Belitung ditawarkan wisata ke Danau Kaolin dan mereka suka berfoto di Danau Kaolin.

Mie Belitung Atep
Mie Belitung Atep

Setelah berpanasan di Danau Kaolin, kami sarapan di Mie Belitung Atep, di Jalan  Sriwijaya No. 27, Tanjung Pandan, yang merupakan destinasi wisata kuliner wajib bagi pelancong di Pulau Belitung. Mie Belitung adalah mie kuning yang disiram kuah udang dan ditaburi bakwan udang, irisan timun, potongan kentang rebus, udang rebus, emping melinjo dan tauge. Rasanya manis. Minumnya es jeruk kunci yang warnanya putih, beda dengan es jeruk yang biasa kita kenal berwarna kuning keoranyean.

Pantai Tanjung Tinggi atau yang biasa disebut Pantai Laskar Pelangi
Pantai Tanjung Tinggi atau yang biasa disebut Pantai Laskar Pelangi

Kemudian kami mengunjungi Pantai Tanjung Tinggi, yang merupakan lokasi syuting film Laskar Pelangi. Kami menikmati indahnya pasir putih, batu granit yang sungguh sangat besar sekali, air laut yang jernih, bersih, dan tenang tanpa ombak serta mandi sinar matahari, ditutup dengan sebutir kelapa muda.

Tujuan berikutnya, Pantai Tanjung Kelayang. Dari sini, bisa terlihat pulau yang terdiri dari tumpukan batu granit raksana yang berbentuk formasi kepala burung, yang disebut Batu Garuda. Berfoto dengan latar belakang batu ini termasuk wajib dilakukan jika berkunjung ke Pantai Tanjung Kelayang.

Dari Pantai Tanjung Kelayang, kelihatan batu granit besar yang berbentuk seperti kepala burung garuda
Dari Pantai Tanjung Kelayang, kelihatan batu granit besar yang berbentuk seperti kepala burung garuda

Biasanya, turis datang ke Pulau Belitung untuk tur pulau (island hopping) ke beberapa pulau seperti Pulau Memperak, Pulau Seliu, Pulau Pasir, Pulau Garuda, dan Pulau Batu Berlayar. Di Pantai Tanjung Kelayang banyak terdapat kapal kayu nelayan yang siap mengantarkan turis tur pulau. Saat saya tiba di Pantai Tanjung Kelayang, banyak sekali bis pariwisata dan mobil travel yang parkir.

Makan siang di saung tepi pantai
Makan siang di saung tepi pantai

Makan siang kami di saung lesehan yang kerakyatan tepi pantai, tapi saya lupa nama pantainya. Menunya nasi putih, ikan ayam-ayam, cumi goreng tepung, dan kangkung. Setelah makan, ada saja kucing yang nyamperin kami. Mungkin ia tahu kalau kami juga punya kucing di rumah.

Rumah Adat Belitung
Rumah Adat Belitung

Selanjutnya mengunjungi Rumah Adat Belitung, yang berbentuk rumah panggung. Lokasinya persis di samping Kantor Bupati Belitung. Sayangnya sudah tutup padahal sampai sana masih belum jam 15.00 WIB. Ya sudah lah, untuk menghibur diri masih bisa ke anjungan Bangka Belitung di Taman Mini Indonesia Indah.

Dulang Set untuk 2 orang di Rumah Makan Belitong Timpo Duluk
Dulang Set untuk 2 orang di Rumah Makan Belitong Timpo Duluk

Sebelum makan malam, kami check in di Hotel Bahamas, yang berlokasi di tepi pantai. Malam harinya, makan di Rumah Makan Timpo Duluk menikmati paket dulang set yang disajikan dengan baki dan tudung saji berwarna merah. Dulang set terdiri dari gangan ikan, ayam ketumbar, sate ikan, sayur sambal ati ampela, lalapan dan sambal serai, resepnya dari tahun 1918.

Rumah Makan Belitung Timpo Duluk
Rumah Makan Belitung Timpo Duluk

Rumah Makan ini juga disebut sebagai Rumah Simpor Bedulang dan rekomendasi sebagai Rumah Tradisional Melayu Belitong dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Belitung.

Saat kami tiba, ruangan makan di dalam, ada AC, sudah penuh. Jadilah kami makan di halaman samping. Sesudah kami makan dan rombongan turis naik ke bisnya, barulah kami pindah ke dalam untuk berfoto. Di rumah makan ini, bisa berfoto ala Instagram dengan beragam pajangan yang dipasang di dinding, bahkan sepeda dan bakiak pun naik ke dinding.

Teko kopi khas Warung Kopi Kong Djie
Teko kopi khas Warung Kopi Kong Djie

Setelah makan malam, kami mampir ke Warung Kopi Kong Djie yang legendaris dari banyak dijumpai di Belitung. Di warung kong djie yang terletak di persimpangan Siburik, Jalan Geledek, merupakan warung kopi Kong Djie yang ada sejak tahun 1943, yang lainnya waralaba. Keren ya warung kopi ada waralabanya, tapi bukan berarti bentuk dan interior warungnya sama semua seperti waralaba “warung kopi” di Jakarta. Meskipun waralaba, kopinya saja yang sama. Bentuk warungnya sih beda. Salah satunya di Pondok Kelapa, sebelah toko oleh-oleh Klapa di Desa Air Saga.

Warung Kopi Kong Djie
Warung Kopi Kong Djie

Saya memang bukan peminum kopi, tapi saya bisa menikmati kopi o, kopi tanpa ampas, di warung ini. Kopinya strong, tapi tidak cukup kuat membuat saya melek semalaman. Karena sudah lelah seharian jalan-jalan di Belitung, maka setelah ngopi, kami memutuskan untuk kembali ke hotel.

Sekian kisah hari pertama jalan-jalan di Pulau Belitung. Kisah hari kedua dan seterusnya akan saya tulis di tulisan berikutnya.

 

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here