Pengalaman Berburu Beasiswa Master Luar Negeri

3
777
views

Menempuh pendidikan Master di luar negeri sebenarnya sudah jadi impian saya sejak lama dan saya paham betul bahwa prosesnya tidak akan mudah. Mulai dari pemilihan jurusan dan universitas, hingga skema pendanaan sudah harus saya pikirkan sejak awal. Saya juga mengerti bahwa tidak mungkin untuk menggunakan biaya pribadi. Maka dari itu, jalan keluar yang paling solutif adalah dengan berburu beasiswa.

Ada beberapa pilihan beasiswa yang waktu itu saya pertimbangkan. Mulai dari StuNed, LPDP, AAS, dan beasiswa dari kantor tercinta. Setelah melewati ratusan malam yang dipenuhi dengan renungan (ciaelah), akhirnya saya memutuskan untuk apply Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu lebih dikenal dengan nama ADS / Beasiswa AusAid.

Kenapa AAS?

Pertama, karena saya memang sudah sedari dulu bermimpi ingin tinggal di Melbourne. Ya, harus Melbourne.

Kedua, karena kuota yang diberikan AAS kepada PNS di Indonesia mencapai 70% dari alokasi total beasiswa. Sisa 30% nya baru ditujukan untuk sektor privat. Tentunya kesempatan ini jangan disia-siakan karena pemberi beasiswa lain belum ada yang memberikan kuota sebanyak itu untuk PNS (CMIIW).

Ketiga, Australia Awards memberikan pembekalan komprehensif kepada awardee sebelum berangkat menempuh studi (Pre-Departure Training). Pembekalan mencakup materi academic writing dan cross-cultural skill. Periode pembekalan bervariasi mulai dari 6 minggu hingga 9 bulan.

Perburuan informasi pun saya mulai. Saya fokus pada bagaimana cara mengirimkan aplikasi untuk beasiswa ini. Untungnya, karena beasiswa ini memang sudah ada sejak tahun 1953, jadi sistem yang mereka terapkan sudah well-established. Saya cukup singgah ke www.australiaawardsindonesia.org dan banyak sekali informasi yang bisa saya dapatkan.

Kalaupun masih belum terlalu mengerti, sudah banyak juga awardee yang membagikan kisahnya melalui blog pribadinya. Jadi tidak perlu khawatir. Nah, untuk syarat beasiswanya bisa cek langsung ke situs tersebut ya.

Dokumen yang dipersyaratkan oleh AAS bisa langsung diunggah ke situs oasis.dfat.gov.au. Jadi tidak perlu mengirimkan dokumen cetak ke kantor Australia Awards Indonesia.

Proses pengiriman aplikasi hingga terpilih menjadi awardee memang membutuhkan waktu yang lama. Waktu itu, saya submit aplikasi pada akhir April 2016. Kemudian dipanggil untuk tes IELTS tanggal 30 Juli 2016 dan interview tanggal 11 Agustus 2016. Oh ya, sebelumnya juga diadakan shortlisted briefing dengan materi seputar apa saja yang akan didapat apabila terpilih menjadi AAS Awardee dan strategi yang bisa diterapkan saat mengikuti proses seleksi. Sangat informatif dan bermanfaat.

Suasana shortlisted briefing di IALF Kuningan

Nah, untuk tes IELTS-nya pun tidak berbeda dengan tes IELTS pada umumnya (yaeyalah!). Tes IELTS sepenuhnya gratis karena segala biaya ditanggung oleh Australia Awards Indonesia. Tesnya sendiri diadakan di IALF Kuningan dan sangat terorganisir. Bahkan IALF memberikan tempat pensil transparan untuk dibawa ke ruang ujian. Ini penting untuk menjaga tes dari segala bentuk kecurangan dan juga penting untuk Anda yang hobi mengumpulkan merchandise gratis dan berguna (seperti saya). Hehehe.

Kembali ke tes IELTS-nya, saya menyarankan untuk tidur cukup di malam sebelumnya. Karena memang sangat berpengaruh di hari tes. Jangan lupa berdoa. Bisa berdoa agar ujian dimudahkan, tidak kebelet ingin ke toilet, atau berdoa agar kursi ujian dekat dengan speaker saat listening (yang terakhir kebetulan kejadian di saya).

Untuk tes wawancaranya juga masih berlokasi di IALF. Saya ingat sekali bahwa tes tersebut sangat menguras energi. Karena saya sudah harus tiba di IALF pukul 9 pagi untuk mengikuti briefing sebelum interview. Sedangkan, saya baru dipanggil masuk ke ruangan interview pukul 2 siang. Interviewernya adalah Joint Selection Team yang terdiri dari satu orang akademisi dari Australia dan penerima beasiswa PhD AAS dari Indonesia. Pertanyaan yang diajukan oleh JST kurang lebih sama dengan yang diinformasikan saat briefing.

Menurut saya pribadi, ada strategi yang harus diterapkan saat wawancara. Berikut strategi yang saya praktikkan:

  1. Aplikasi dan jawaban saat wawancara harus konsisten
    Ada kalanya JST akan menguji seberapa yakin interviewee pada setiap statement yang sudah dituangkan di aplikasi. Kalau bisa, tetap yakin dengan apa yang sudah dituliskan di OASIS. Perkara kita akan mengubah keputusan saat sudah menerima beasiswa, itu masih bisa dikompromikan. Poin terpenting adalah harus konsisten dulu dengan apa yang dituliskan di aplikasi.
    Dalam kasus saya, saya sempat diuji dengan pertanyaan yang kira-kira seperti ini “Program Media Center banyak terfokus di daerah 3T. Kenapa Anda memilih untuk bersekolah di Melbourne yang penduduknya padat? Kenapa tidak memilih bersekolah di bagian barat Australia yang memang kepadatan penduduknya masih rendah? Kondisinya lebih mirip dengan daerah 3T di Indonesia” tanya sang pewawancara.
  2. Pelajari bidang studi yang akan diambil
    Ini penting, karena siapa juga yang akan berangkat perang tanpa punya bekal apapun? Jadi, carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang jurusan dan Universitas yang akan dituju. Kalau perlu, kontak staf akademik Universitas untuk menanyakan informasi yang akan berguna saat interview nanti. Pertanyaan seputar relevansi bidang studi dengan pekerjaan atau subjek apa yang akan bermanfaat untuk pekerjaan sangat mungkin akan ditanyakan oleh pewawancara.
  3. Jangan lupa bertanya
    Mungkin ini terlihat sepele, tapi bertanya menunjukan bahwa kita adalah individu yang aktif dan kritis. Pendidikan di negara maju sangat mengedepankan critical thinking. Maka dari itu mereka sangat menghargai orang yang mau bertanya dan memberikan kritik konstruktif dalam berbagai kesempatan. Jadi sebisa mungkin manfaatkan peluang ini dengan mengajukan beberapa pertanyaan sederhana di akhir wawancara.

Nah, begitulah kira-kira pengalaman saya dalam mendapatkan beasiswa AAS ini. Perlu digarisbawahi bahwa pengalaman tersebut mungkin sangat berbeda untuk orang lain. Tetapi, semoga tips yang saya berikan bisa berguna untuk para pembaca blog Kantin.id untuk terus bersemangat melanjutkan pendidikan di luar negeri.

3 COMMENTS

  1. “Program Media Center banyak terfokus di daerah 3T. Kenapa Anda memilih untuk bersekolah di Melbourne yang penduduknya padat? Kenapa tidak memilih bersekolah di bagian barat Australia yang memang kepadatan penduduknya masih rendah? Kondisinya lebih mirip dengan daerah 3T di Indonesia” tanya sang pewawancara.
    Trus Kaka Wina jawab apa? Penasaran nih. hihihi…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here