Apa Kabar Poros Maritim Duniaaa

6
461
views

Nelson Mandela, dua tahun sebelum pembentukan IORA di bulan Maret 1997, berkunjung ke India. Ia menerawang jauh ke depan melampaui batas-batas Asia Selatan hingga Sri Lanka, Maladewa dan Indonesia. Ia melihat pergerakan sejarah dan potensi negara-negara yang terhubung dalam satu samudera itu.

Mandela mengatakan suatu gagasan yang kelak menjadi momentum bersama bagi negara-negara di kawasan Samudera Hindia, kira-kira begini katanya, “The natural urge of the facts of history and geography should broaden itself to include the concept of an Indian Ocean Rim for socio-economic co-operation and other peaceful endeavours.”

Mandela melihat dinamika global tengah menuntun dan menuntut negara-negara yang berada di kawasan Samudera Hindia untuk duduk bersama dan menciptakan “a single platform” yang kelak menjadi Indian Ocean Rim Association atau IORA.

22 tahun kemudian, tak kurang dari 21 negara anggota, 7 negara partner dialog dan 2 organisasi pengamat, berkumpul selama tiga hari (5-7/3) di JCC Hall A, Senayan, Jakarta dalam Konferensi Tingkat Tinggi IORA Tahun 2017 alias Leaders’ Summit in Commemoration of The 20th Anniversary of The Indian Ocean Rim Association 2017.

Menteri Luar Negeri RI Ali Alatas pada Pertemuan Tingkat Menteri IOR-ARC di Grand Bay, Mauritius (5/3/1997) ~ iora.net

Blue Economy vs Poros Maritim Dunia

Gagasan kemaritiman itu sempat dirangkai oleh Gunter Pauli dalam bukunya The Blue Economy: 10 years, 100 Innovations. 100 Million Jobs (2010). Ia menuding kegagalan konsep The Red Economy hingga The Green Economy dalam mengatasi kemiskinan global dengan menyediakan lapangan pekerjaan. Ia percaya bahwa konsep Blue Economy mampu menyediakan 100 juta lapangan pekerjaan. Menarik menurut saya 🙂

Pun IORA tak ketinggalan menggali konsep dan praktik Blue Economy secara bertahap.

Indonesia yang bergabung sejak 7 Maret 1997 memiliki posisi strategis dan kepentingan yang sangat besar di IORA. Presiden Joko Widodo mengangkat visi Indonesia sebagai poros maritim dunia dan lagi Wakil Presiden Jusuf Kalla adalah putera Bugis yang kondang sebagai generasi pelaut tingkat dunia.

Maka, KTT IORA 2017 adalah kesempatan Jokowi-JK untuk menciptakan momentum bagi penyegaran dan penegasan visi kemaritiman Indonesia dengan mendudukkan strategi Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Poros maritim merupakan sebuah gagasan strategis yang diwujudkan untuk menjamin konektivitas antar pulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, perbaikan transportasi laut dan perhatian pada keamanan maritim.

Dalam pidatonya pada East Asia Summit di Myanmar (13 November 2014), Jokowi menegaskan konsep Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia sehingga agenda pembangunan akan difokuskan pada lima pilar utama, yaitu membangun kembali budaya maritim Indonesia, menjaga sumber daya laut dan menciptakan kedaulatan pangan laut, memberi prioritas pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim (seperti tol laut, deep seaport, logistik, industri perkapalan dan pariwisata maritim).

Selain itu, perlu diupayakan untuk menerapkan diplomasi maritim (seperti pencurian ikan, pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, perompakan dan pencemaran laut) dan membangun kekuatan maritim sebagai bentuk tanggung jawab menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan maritim.

Kritik Poros Maritim Dunia

Analis militer dan pertahanan dari Universitas Indonesia Connie Rahakundini Bakrie menyoroti peran strategis Badan Keamanan Laut yang menurutnya perlu berkoordinasi lebih lanjut dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dalam hal pengawasan dan pengelolaan sumber daya laut dan udara agar berdampak positif pada pembangunan dan konektivitas ekonomi dalam negeri. Connie menilai upaya menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia masih setengah hati (Geotimes, 25 November 2015).

Peneliti sejarah maritim Azyumardi Azra berpendapat, pemerintah perlu fokus pada pembangunan infrastruktur bertaraf internasional dan peningkatan SDM, selain pada pemenuhan sektor pangan dan penanganan illegal fishing. Menurutnya, dua tahun pemerintahan Jokowi-JK, konsep poros maritim masih sebagai konsep (CNN Indonesia, 15 Oktober 2016).

Mantan presiden RI SBY berpendapat, retorika pembangunan Indonesia berbasis maritim harus diimplementasikan dalam RPJMN, RPJMD dan RKPD untuk dimasukkan dalam APBN dan APBD hingga target investasi dan bisnis. SBY bilang gagasan Jokowi terkait poros maritim hanya retorika (Sindonews, 27 Agustus 2016).

Lain lagi kata sejarawan JJ Rizal. Menurutnya visi maritim Jokowi-JK hanya abab (Tirto, 27 Januari 2017). Menjadikan laut sebagai orientasi kesejahteraan tidak cukup dengan hanya meletakkan strategi agung pada infrastruktur dan infrastruktur. Perlu proses menumbuhkan kembali budaya laut, dengan demikian, revolusi mental menemukan jiwanya.

Trus ngapain?

Iya sih, ga gampang menggembirakan semua pihak. Tapi ga harus kok semua pihak gembira. Ehehehe ^^

Etapikan IORA tidak melulu bicara tentang laut dan maritim. Jangan salah sangka karena ada pula isu small and medium enterprises, empowering women in business dan enhancing tourism and connectivity. Pretty cool, isn’t it?

Mungkin mimpi “single platform” tuan Nelson Mandela masih mencari wujud nyata yang memenuhi kebutuhan dan kepentingan setiap pihak. Mungkin juga visi Jokowi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia masih menjalani “baby steps” dengan gebrakan pemberantasan illegal-unreported-unregulated fishing (IUU, kata kak Filmon), pembangunan “tol laut” dan lain sebagainya.

Namun yang jelas, Indonesia perlu senantiasa menyatakan kedaulatan atas lautan kita dan bersama-sama negara-negara anggota IORA menjaga warisan kemaritiman dunia.

Seperti kata Ali Alatas di Mauritius tahun 1997, “There is a bright future for us … but for that bright future to be actualised, we must be realistic and pragmatic in nurturing our Association and in the pacing of our activities.”

Lebih lanjut, silakan tengok situs resmi IORA dan situs resmi IORA Leaders’ Summit 2017 🙂

6 COMMENTS

    • Setuju bung Phadli, pekerjaan infrastruktur harus disegerakan agar supaya demikian lah.

      Mari kita dukung pemerintah yang bekerja.

      Rakyat butuh kerja nyata, hasil nyata dan dampak nyata!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here