Kemenpora Ajak Gen Y Berubah untuk Tingkatkan Prestasi

0
280
views
Owi & Butet melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih saat diarak menggunakan bus Bandros dari kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga menuju Istana. Arakan ini melewati kantor kami, memberikan kesempatan untuk menyambut pahlawan bulu tangkis yang meraih medali emas olimpiade. (Foto: Lida Noor)

Di tulisan saya sebelumnya, saya berbagi kisah saat mengikuti hari pertama Pelatihan Gen Y dengan narasumber Chrisma Albandjar dari Kantor Staf Presiden, Selasa, 31 Januari 2017 di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat. Kali ini saya akan berbagi materi yang disampaikan oleh Gatot S. Dewa Broto, Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dengan tema Nilai-nilai Kebangsaan dan Generasi Muda di Era Digital.

“Bung Karno pernah bilang, beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” kata Gatot mengutip pidato Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno, di depan para perserta Pelatihan Gen Y.

 

“Tapi bagaimana realitanya? Sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, khususnya Pasal 1 angka 1 disebutkan Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun. Artinya, dengan range usia tersebut ada sekitar 61,8 juta orang, atau setara 24,5% dari total jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta orang. Ini belum terhitung jika dikalkulasi untuk tahun 2020 sampai dengan 2035. Indonesia akan menikmati bonus demografi, yaitu jumlah usia produktif Indonesia diproyeksikan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa ini, 64% dari total penduduk Indonesia sebesar 297 juta jiwa,” Gatot menjelaskan.

Chrisma Albandjar (Kantor Staf Presiden), Rosarita Niken Widiastuti (Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika), dan Gatot S. Dewa Broto (Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga). Foto: Lida Noor

Apa yang disampaikan Presiden RI Pertama, Soekarno, di tahun 1945, hanya butuh 10 orang pemuda untuk mengguncang dunia. Kalau saat ini ada bonus demografi dengan jumlah usia produktif sebanyak 297 juta jiwa, apa kabarnya dunia? Mungkin sudah bukan terguncang lagi ya. Tapi jungkir balik koprol muter-muter 360 derajat terus begitu lagi jungkir balik koprol muter-muter 360 derajat dan seterusnya. Ah ini sih imajinasi saya aja.

 

Gatot mencatat ada beberapa pemuda Indonesia yang berprestasi dunia, salah satunya atau semuanya mungkin sudah kamu kenal. Siapa saja mereka?

  1. Rio Haryanto

“Rio adalah China totok tetapi rajin shalat 5 waktu, bahkan di kokpit mobil balapnya ada buku kecil ayat kursi,” kata Gatot.

Siapa sih yang gak tahu dedek ganteng Rio Haryanto dengan wajah orientalnya. Meskipun saya bukan penggemar balapan mobil tapi tahu lah ya Rio berlaga di balapan mobil internasional F1 Grand Prix tahun 2016. Bahkan saking terkenal dan gantengnya sudah ada yang mengajak main film.

“Ibunya Rio minta ke saya untuk bilang ke Rio jangan main film dulu karena banyak banget yang nawarin Rio main film,” kata Gatot.

  1. Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir (Owi & Butet)

Owi & Butet, dijuluki Gatot sebagai pasangan kebhinekaan, adalah pasangan peraih medali emas ganda campuran bulu tangkis Olimpiade 2016 di Rio de Jeneiro Brasil. Kemenangan ini pula lah yang mengantarkan pasangan Owi & Butet sebagai pasangan peraih bonus terbesar dalam sejarah RI, yaitu masing-masing memperoleh bonus Rp. 5 miliar tanpa pajak.

“Owi & Butet menang, saya langsung gundulin rambut karena senang. Kalau kalah, saya sedih. Orang-orang bisa bilang Gatot jadi Deputi IV tapi gak bisa urus olahraga,” kata Gatot.

Menyambut Owi & Butet dan prestasinya yang luar biasa, digelar jumpa pers di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Padahal sebelumnya belum pernah ada jumpa pers di bandara Soekarno Hatta.

“Jumpa pers di bandara baru kali ini, untuk menyambut Owi & Butet. Jumpa pers digelar di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, tanggal 23 Agustus 2016, setibanya Owi & Butet dari Rio de Jeneiro, dengan sambutan dari 300 awak media nasional, internasional dan penggemar bulu tangkis. Padahal seminggu sebelumnya, Terminal 3 kena masalah bocornya gedung dan genangan air akibat hujan deras,” cerita Gatot.

“Sebelumnya, saya telepon Kang Emil, Walikota Bandung, karena bus bandros yang akan dipakai hanya ada di Bandung dan Malang. Kang Emil menyambut baik dengan mengizinkan bus bandros dipakai arak-arakan Owi & Butet. Tiga hari sebelum arakan, saya sampaikan ke media untuk minta izin Jakarta bakal macet karena arakan ini. Bus bandros yang berwarna biru pun diubah jadi merah, untuk arak-arakan ini,” kata pria yang pernah menjadi Kepala Pusat Informasi dan Humas di Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Prestasi yang diraih Owi & Butet membangkitkan rasa nasionalisme kita. Bahkan saat Owi & Butet diarak dari Kementerian Pemuda dan Olahraga menuju Istana, kami yang berkantor di Jalan Medan Merdeka Barat turun ke jalan untuk turut menyambut pahlawan bulu tangkis. Informasi arakan yang melalui kantor kami, sudah sejak pagi di-broadcast melalui grup Whatsapp dan disiarkan radio internal.

Owi & Butet melambaikan tangan dan mengucapkan terima kasih saat diarak menggunakan bus Bandros dari kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga menuju Istana. Arakan ini melewati kantor kami, memberikan kesempatan untuk menyambut pahlawan bulu tangkis yang meraih medali emas olimpiade. (Foto: Lida Noor)
  1. Joe Taslim

Nah ini… saya suka nonton film Hollywood, seperti sekuel film Fast and Furios dari yang pertama sampai yang terbaru. Apalagi Fast and Furious 6, ada Joe Taslim, pada penasaran deh sama film ini.

  1. Sandhy Sandoro

Seorang penyanyi yang berhasil menyabet International Contest of Young Pop Singer, di Latvia pada tahun 2009.

  1. Joe Alexander

Pianis muda Joe Alexander, jauh lebih muda lagi tapi the rising star. Joe telah tampil di panggung utama acara penghargaan Grammy di di Staples Center, LA, Amerika Serikat.

Mendekati Bonek Persebaya

Di balik pemuda yang berprestasi, Gatot bercerita bahwa ada persoalan dengan dibekukannya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Setelah PSSI dibekukan, sudah 1 ½ tahun Gatot mondok di kantor.

“Pernah saya ditelepon Pak Imam Nahrawi jam 1 malam, minta untuk dibuatkan surat. Padahal saya sudah sampai rumah dan selimutan. Rumah saya di Bintaro. Akhirnya istri saya memutuskan untuk menginap di kantor selama hari kerja. Sabtu malam kembali ke rumah. Kembali lagi ke kantor Minggu malam,” kata Gatot yang memegang sendiri akun twitternya.

Menyelesaikan permasalahan sepak bola, tidak hanya di media sosial. Gatot juga turun gunung menemui bonek, pendukung Persebaya.

“Untuk tim yang suka membully, kita datangi. Tidak hanya di media sosial saja. Jangan nyinyir di media sosial. Lakukanlah pendekatan. Jangan melawan. Merendah saja,” kata Gatot yang memegang sendiri akun twitternya.

Nah, kamu siap berubah seperti Gatot? Gundulin rambut, mondok di kantor, tanggung jawab yang baru, serta responsif di sosial media dan dunia nyata? Kalau ditanya siap mondok di kantor, pasti jawabannya “tidaaaaakkkkkk”. Hehehe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here