Mengajak Generasi Y Berpikir Kritis dengan Nawacita

1
398
views
Chrisma Albandjar, Kantor Staf Presiden, Rosarita Niken Widiastuti, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Gatot S Dewabroto, Kementerian Pemuda dan Olahraga, bersama Peserta Pelatihan Gen Y Ditjen IKP

Pegawai Negeri Sipil (PNS) Generasi Y di Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP), Kementerian Komunikasi dan Informatika mengikuti kegiatan pelatihan selama 8 (delapan) hari, sejak Selasa, 31 Januari 2017 di Ruang Ops Room Lantai 2 gedung depan. Pelatihan ini merupakan pelatihan bagi Generasi Y Ditjen IKP yang sudah tertunda sejak 2016.

Sekedar mengingat kembali, pelatihan perdana Generasi Y pernah diadakan tanggal 30 November 2016 dengan narasumber dan materi yang berbeda. Artikelnya ditulis oleh rekan saya Marhendi Wijaya, Pranata Humas di Direktorat Pengelolaan Media Publik, di sini.

Rosarita Niken Widiastuti, Dirjen IKP, berharap dengan adanya Gerakan Gembira Maju Bersama (GGMB) di Ditjen IKP dapat menumbuhkan perasaan gembira di setiap individu setiap datang ke kantor dan siap bekerja demi perubahan ke arah yang lebih baik. Ini pernah disampaikan beliau saat memberikan arahan kepada PNS Generasi Y di tahun 2016. Sebenarnya kalau lihat usia sih tidak semuanya Generasi Y, ada Generasi X juga. Tapi karena Generasi X-nya awet muda, manis, serta tidak sombong ehm… ehm… anggaplah Generasi Y. Hehehe…

“Pelatihan ini untuk meningkatkan kapasitas Gen Y, yang bertugas sebagai penjaga, pengawal, dan pengelola Government Public Relations. THP hanya 2 tahun. Selanjutnya anda ini,” kata Dirjen IKP di hadapan peserta saat membuka pelatihan.

Chrisma Albandjar, Kantor Staf Presiden, dan Rosarita Niken Widiastuti, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika

Buat kamu yang belum tahu THP itu apa, THP adalah Tenaga Humas Pemerintah yang terdiri dari PNS dan non PNS yang telah direkrut dan diangkat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 1235 Tahun 2015.  THP ditempatkan selama 2 tahun di kementerian dan lembaga pemerintah sebagai langkah strategis melaksanakan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik yang menamanatkan pelaksanaan diseminasi dan eduksi terkait kebijakan dan program pemerintah.

Chrisma Albandjar, Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan, Kantor Staf Presiden, mengawali pelatihan dengan materi Strategi Komunikasi Government Public Relations. Chrisma mengajak peserta untuk berpikir kritis dengan mengenal Nawacita.

Apa itu Nawacita?
Nawacita merupakan sembilan tujuan dan apa yang mau dicapai pemerintah. Nawacita ini menjadi penting, untuk mengetahui latar belakang lahirnya suatu keputusan.

Chrisma mengajak masing-masing peserta untuk membaca Nawacita pada paparan beliau. Meskipun layar yang menampilkan paparan beliau ada di berbagai penjuru, tidak semua bisa membaca dengan jelas karena memang tulisannya relatif kecil, kebesaran wajah Jokowi-JK.

Bukan Gen Y kalau kurang akal. Salah satu peserta, Lucky Ida Yudhistira, membaca dari gawainya dan ternyata yang ia bacakan lebih lengkap, yang merupakan penjelasan dari Nawacita.

Nawacita

Ini saya tulis kembali apa saja Nawacita yang menjadi pedoman GPR dalam bekerja:

  1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara
  2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya
  3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan
  4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya
  5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia
  6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional
  7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik
  8. Melakukan revolusi karakter bangsa
  9. Memperteguh ke-bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia

Chrisma menanamkan mindset peserta untuk menempatkan diri sebagai pemerintah yang berperan untuk bekerja melayani masyarakat. Pemerintah mengelola negara untuk menyelenggarakan negara, dibiayai dari pajak masyarakat.
Sebagai GPR, tujuan berkomunikasi adalah memastikan masyarakat tahu apa yang kita kerjakan serta memastikan pekerjaan kita sesuai dengan harapan masyarakat.

Di akhir sesi, Dirjen IKP menyampaikan kepada Chrisma untuk membantu peserta latihan dengan membuat matriks mengenai satu sistem GPR, dengan memetakan program GPR, menemukan isu, dan menentukan strategi ke publik melalui kegiatan below the line dan langsung ke masyarakat.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here