mau pilih penapisan atau penyaringan?

6
496
views

​… Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika juga telah diminta serius untuk melakukan penapisan atau filtering konten internet bermuatan negatif terutama konten bermuatan SARA yang kerap bermunculan akhir-akhir ini.

Kalimat tersebut saya temukan dalam laporan/kajian singkat dari salah satu pejabat di Kementerian Komunikasi dan Informatika tentang maraknya penyebaran informasi yang cenderung bersifat fitnah, adu domba dan hoax di media sosial.

Menarik bagi saya, karena terdapat kata “penapisan” yang digunakan dalam konteks informasi atau komunikasi elektronik.

Menurut KBBI, istilah “penapisan” memiliki akar kata “tapis” dengan kata kerja “menapis.”

Lema kata benda ini “alat yang dibuat dari kain dan sebagainya untuk memisahkan benda cair dari benda padat pencemar atau endapan untuk memisahkan benda padat yang berbeda ukurannya.”

Dalam rasa kebahasaan, saya masih membayangkan penapisan dilakukan oleh ibu-ibu atau nenek-nenek ketika membersihkan butiran beras dari “konten negatif” seperti kulit gabah. Kalimatnya, nenek sedang menapis beras di dapur.

Uraian yang lebih singkat dari “tapis” adalah penyaring. Dalam konteks informasi dan komunikasi elektronik pun, diksi ini lebih populer.

Di atas, penapisan (kata benda) disandingkan dengan kata kerja asing “filtering” yang lebih umum diasosiasikan dengan “menyaring.”

Dilema kata serapan “filter” diurai dengan baik oleh Redaktur Bahasa Media Indonesia seperti dikutip pada blog Rubrik Bahasa di https://rubrikbahasa.wordpress.com/2015/10/11/menapis-filter/

Menurut saya, pesan yang ingin disampaikan penulis akan lebih mudah diterima publik yang lebih akrab dengan kata “menyaring” dibandingkan “penapisan.”

Misalnya, masyarakat desa wisata diharapkan mampu menyaring budaya asing dari wisatawan manca negara.

Menjadi janggal jika penyusunan kalimat menggunakan struktur kalimat S-P-O-K dengan bentukan aktivitas dari kata kerja + kata benda, misalnya, masyarakat desa wisata diharapkan mampu melakukan penyaringan budaya asing dari wisatawan manca negara.

Namun, seandainya tetap menggunakan kata itu, maka saya mengusulkan penyesuaian dalam struktur kalimatnya. Jadi begini:
Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika juga telah diminta serius untuk menapis konten internet bermuatan negatif terutama konten bermuatan SARA yang kerap bermunculan akhir-akhir ini.

Versi kedua yang, menurut saya, masih bisa dibuat lebih efektif adalah:
Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika juga telah diminta serius untuk menapis konten negatif, terutama SARA, yang kerap muncul akhir-akhir ini.

Bagaimanapun juga, rekan-rekan jurnalis media online masih gemar menggunakan bentuk penapisan dibandingkan menapis.

Misalnya dari situs daring Serempak.id:
Untuk konten negatif para penyelenggara akses internet umumnya sudah berupaya melakukan penapisan atau “filtering” konten negatif, sering dikenal sebagai “pemblokiran situs porno”.
Pranala: http://www.serempak.id/membimbing-aktivitas-internet-anak-kita/

Situs KimRonggolawe.com menyejajarkan penapisan dengan pemblokiran:
… Pemerintah dalam menanggulangi munculnya hoax  di berbagai situs dan media sosial dilakukan penapisan atau pemblokiran, akan tetapi ini merupakan langkah akhir.
Pranala: http://kimronggolawe.com/2017/01/dinas-kominfo-tuban-dukung-gerakan-bersama-anti-hoax/

Jurnalis situs berita Timor Express dan Pontianak Post nampaknya sudah terbiasa dengan kalimat yang efektif, seperti ini:
“ … Akan tetapi bagaimana masyarakat diharapkan bisa menapis sendiri sebelum menyampaikan dan mendistribusikan konten itu,” tutur Rudiantara.

Dalam kutipan yang lain, ketika mewawancarai Wiranto terkait Badan Cyber Nasional (atau Badan Siber Nasional?), muncul kembali:
“Menapis arus lalu lintas cyber yang nyata-nyata negatif,” jelas dia.
Pranala: http://timorexpress.fajar.co.id/2017/01/09/deklarasi-perang-melawan-hoax/, http://www.pontianakpost.co.id/perangi-informasi-palsu-enam-kota-deklarasikan-masyarakat-anti-hoax

Penggunaan yang efektif juga nampak di situs Diskominfo Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Internet Sehat dan lainnya (karena siaran pes?), yaitu yang pertama:
Menteri Rudiantara menegaskan upaya pemerintah dalam menanggulangi hoax di berbagai situs dan media sosial dilakukan melalui penapisan atau pemblokiran.

Yang kedua:
“ … akan tetapi bagaimana masyarakat diharapkan bisa menapis sendiri sebelum menyampaikan, mendistribusikan konten itu,” paparnya.
Pranala: http://diskominfo.jabarprov.go.id/index.php/category/warta-teknologi-informasi/http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/tujuh-kota-serentak-lakukan-gerakan-bersama-anti-hoax-http://internetsehat.id/2017/01/gerakan-bersama-anti-hoax-dan-peluncuran-turnbackhoax-id/

Penapisan atau penyaringan, menapis atau menyaring … terserah rasa bahasa Anda saja 😉

6 COMMENTS

    • Luar biasa!

      Kita serumpun bahasa dengan saudara Malaysia dan ini adalah fenomena dalam bahasa Indonesia yang kembali membongkar harta karun kosakata yang terpendam jauh dalam lembaran kamus dan tesaurus wkwkkkk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here