Buku Harian Korea 2: Cinta Bersemi Kembali di Oryukdo dan Taejongdae

2
325
views

Angin laut yang dingin berhembus menerpa wajahku yang berdiri menatap Laut Timur di pesisir Busan. Jaket lamaku masih bisa menahan dinginnya suhu Desember ini. Aku merasakan angin seperti ini terakhir kali di Pantai Scheveningen, Den Haag—kota yang pernah mengadopsiku. Hal itu mengingatkanku akan berbagai kenangan di negeri asing.

Aku berdiri menatap gugusan Kepulauan Oryukdo. Kepulauan ini dilindungi oleh Pemerintah Korea Selatan sebagai Situs Pemandangan Nomor 24. Oryukdo dipercaya dulunya adalah bagian dari daratan Semenanjung Korea pada 120.000 tahun lalu. Namun, ombak ganas dan angin mengakibatkan erosi yang memutusnya.

Gugusan pulau/karang Oryukdo

Oryukdo dalam Bahasa Korea berarti “lima dan enam pulau.” Kenapa bisa dinamakan seperti itu? Gugusan pulau ini jika dilihat dari Timur memiliki enam puncak dan jika dari Barat memiliki lima puncak—karena ada dua yang berbaris.

Aku bergegas menaiki anak tangga mendaki Bukit Seungdumai menuju skywalk. Skywalk ini adalah jembatan kaca berbentuk “U” yang memungkinkan pengunjung melihat tebing dan ombak ganas di bawahnya. Sensasi berjalan di atas tebing membuat beberapa wisatawan tertawa, takut, dan cemas—seperti aku. Maklum, aku takut ketinggian walaupun aku dulu pernah ikut ekskul pecinta alam dan sekarang tinggal di lantai 11 sebuah hunian bertingkat.

Tangga Bukit Seundumai

Jembatan berlantai kaca ini dijamin aman karena sangat tebal. Namun, pengunjung wajib mengenakan kantung penutup sepatu agar tidak menggores kaca lantainya. Ketika melihat ke bawah, kita akan merasakan sensasi melayang dan mungkin sebagian akan merasa pusing.

Gelak tawa para pengunjung ramai bersahutan—tawa cemas, batinku. Aku memandang gugusan Oryukdo yang memisahkan Laut Timur dan Selatan—sayang sekali mereka dipisahkan. Anganku juga melayang ke negeri nusantara nun jauh di sana.

Tebing dan ombak di bawah skywalk

Udara dingin ini kemudian membuat kami bergegas masuk kendaraan untuk menaiki feri berkeliling pesisir Taejongdae.

Di atas feri, burung camar berterbangan menunggu umpan roti dan kudapan yang dilempar para penumpang. Di bibir pantai, para mancing mania berdiri gagah menantang angin dan ombak bersenjatakan kail panjang.

Camar berterbangan mengelilingi feri menunggu umpan dari wisatawan

Gugusan karang teguh menahan dan membelah ombak yang menghantam pantai bertubi-tubi. Feri berjalan lambat dan aku pejamkan mataku di geladak untuk menghirup udara dingin. Tiba-tiba, aku rasakan feri memutar haluan kembali ke dermaga. Begitulah juga hidup, kita akan kembali ke dermaga ke manapun kita pergi.

Geladak feri wisata kami
Ah sungguh nyaman bila bisa menikmati laut dan green tea latte hangat khas Korea di sana

Lepas dari tangga feri, aku langkahkan kaki menyusuri bibir pantai yang dipenuhi restoran makanan laut dan kios pedagang yang tertata apik. Aku terhenti untuk menyapa ramah para penjual dan seekor anjing Siberian Husky. Ah, negeri ini begitu indah, ramah, rapi, dan bersih. Aku yakin negeriku juga bergerak ke arah yang sama. Entah mengapa, aku merasa cintaku kepada ketiga negeri yang menerima diriku ini bersemi kembali.

Restoran makanan laut di tebing Pantai Taejongdae

Surya perlahan mulai tenggelam di garis laut. Aku ayunkan langkahku sambal berucap dalam hati: “Sampai jumpa lagi Taejongdae.”

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here