Buku Harian Korea 1: Belajar Dari Pasar Ikan Noryangjin

6
414
views

Ketika mendengar kata “pasar ikan,” kita pasti membayangkan berbagai jenis ikan mati yang bau berserakan, lalat berterbangan, bangkai ikan, jeroan, becek, lumpur, dll. Hal yang sama juga aku bayangkan ketika Pemerintah Korea Selatan yang mengundang kami mengagendakan kunjungan ke pasar ikan.

Aneh ya. Aku suka makanan laut dan tinggal di negara kepulauan, namun malas pergi ke pasar ikan. Mungkin, aku masih kapok ketika jalan ke pasar ikan dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) saat masih kecil dulu.

Tetapi, kunjungan ke Pasar Ikan Noryangjin di Seoul, Korea Selatan benar-benar mengubah pandanganku dan pikiranku tentang pasar ikan.

Suasana Pasar Ikan Noryangjin
Timun laut segar dan mungkin hidup dikemas dalam plastik untuk dijual.

Pasar ikan yang berada di Seoul ini ramai dikunjungi sekitar jam 12 siang sampai 9 malam. Hasil laut yang dijual masih segar dan hidup. Para penjual memajang ikan dan hasil laut dalam akuarium yang lengkap dengan aerator untuk menjaganya tetap segar dan hidup.

Tetapi, kunjungan ke Pasar Ikan Noryangjin di Seoul, Korea Selatan benar-benar mengubah pandanganku dan pikiranku tentang pasar ikan.

Mereka menyediakan berbagai jenis ikan, udang, lobster, kerang, kepiting, cumi-cumi, gurita yang sudah dipotong ataupun masih hidup. Di tempat ini ada restoran-restoran yang bisa langsung memasak hasil laut yang pengunjung pilih sendiri di lapak-lapak depan.

Salah satu lapak yang penuh dengan hasil laut segar.
Filet ikan dan ikan miring–entah ikan apa itu. Adakah yang tahu? Mereka tidak mati tapi benar-benar terbaring miring.

Di sela-sela lapak, aku melihat para pedagang dan pekerja menyantap sup makanan laut di meja kecil. Sepertinya, itu dagangan yang mereka masak dan makan bersama-sama. Ah! Benakku berkata: sup itu pasti bisa menghangatkan badan di tengah musim dingin Desember ini di Korea.

Gurita segar, Kakak.

Andaikan setiap daerah mempunyai pasar ikan seperti ini, pasti wisatawan domestik dan mancanegara akan tertarik untuk datang.

Beberapa hal yang dapat aku simpulkan dari tempat ini adalah:

(1) para pedagang, pekerja, nelayan, dan pengunjung menjaga kebersihan lingkungannnya;

(2) pedagang dan nelayan memberikan nilai tambah pada produknya melalui kesegaran dalam akuarium;

(3) mereka menata dengan rapi sehingga pengunjung seperti berjalan-jalan di seaworld;

(4) mereka disertakan dalam buku, brosur, dan situs web;

(5) infrastruktur yang memadai seperti jalan dan parkir; dan

(6) kerja sama dengan pengusaha restoran makanan laut.

Suka banget, lapaknya ditata rapi.
Banyak makan bersama di pasar ini.

Aku yakin metode yang dipakai ini dapat mendukung kebijakan poros maritim dan mengembalikan kejayaan laut nusantara. Apakah kamu punya pengalaman mengunjungi pasar ikan lain di Indonesia dan di luar negeri? Silakan berbagi di komentar. Terima kasih. Gamsa habnida.

6 COMMENTS

    • Ini dua tahun lalu. Semoga masih relevan hehe. Bau amis, iya tapi amis segar. Ada lantainya yg bersih, basah iya tp tidak berlumpur2 ria.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here