Sri Mulyani: Generasi Y Bayar Pajak, Perekonomian Indonesia Tumbuh

0
229
views
Sri Mulyani, Menteri Keuangan, dan William Tanuwijaya, CEO Tokopedia berbagi cerita di talkshow dPreneur.
Sri Mulyani, Menteri Keuangan, dan William Tanuwijaya, CEO Tokopedia berbagi cerita di talkshow dPreneur.

“Bagaimana di Jakarta, setelah beberapa tahun di Amerika?” tanya moderator cantik kepada Sri Mulyani, Menteri Keuangan, di acara Talkshow dPreneur dengan tema Anak Muda dan Prospek Ekonomi 2017, 21 Desember 2016.

“Di Jakarta sumuk. Gampang berkeringat. Kerja atau tidak kerja, gampang berkeringat,” kata Sri Mulyani.

“Kalau suhu ekonomi di Indonesia bagaimana?” tanya moderator cantik berambut pendek ini.

“Suhu ekonomi sama dengan suhu udara, unpleasant,” jawab Sri Mulyani.

“Indonesia tumbuh 5%. Bagus kalau ada yang tanya koq cuma 5%. Artinya ada ketidakpuasan. Bisa tumbuh 5%, it’s not bad at all,” ujar perempuan kelahiran Bandar Lampung.

 

Layar besar di belakang para pembicara menayangkan posisi pertumbuhan Indonesia yang masih lebih baik dibandingkan dengan negara lainnya di dunia. Rata-rata pertumbuhan PDB 2006-2015 (%,yoy) Cina 9,5%, India 7,5%, Indonesia 5,7%, Singapura 5,4%, Filipina 5,4%, Malaysia 4,9%, Amerika 1,4%, Inggris 1,3%, Perancis 0,8%.

Menurut Sri Mulyani, mayoritas penduduk Indonesia adalah generasi y. Hubungannya generasi y dengan pertumbuhan ekonomi adalah generasi y sebagai populasi yang besar akan menciptakan kesempatan kerja.

“Jadilah job seeker atau job creator,” kata Sri Mulyani kepada 350 peserta talkshow yang terpilih dari 1000 orang pendaftar dPreneur malam itu.

Sri Mulyani menambahkan, untuk meningkatkan perekonomian maka generasi y harus mengambil peran. Generasi y harus memiliki kesempatan kerja. Jadilah pencari kerja atau menciptakan lapangan kerja. Inilah yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kalau perekonomian Indonesia mau tumbuh tinggi, perlu ada social care dari masyarakat dengan bayar zakat dan pajak. Dengan membayar pajak, ada public service yang diberikan pemerintah.

 

“Kalau semua orang di ruangan ini bayar pajak, maka pendapatan pajak sebesar Rp.1 trilyun bisa dimanfaatkan untuk membangun 3.541 m jembatan,” kata Sri Mulyani di hadapan peserta yang terdiri dari mahasiswa, pekerja kantoran, maupun anak muda yang telah memulai usaha sendiri.

Penggunaan pajak sebesar Rp.1 trilyun pada belanja kementerian/lembaga

Layar besar di belakang para pembicara menayangkan penggunaan pajak Rp.1 trilyun pada belanja kementerian/lembaga antara lain 3.541 m jembatan, 1.551 km jalan, 52.631 ha sawah, 11.900 rumah prajurit, 9,4 ribu gaji guru senior, 729 ribu TRS beras, 93 ribu ton benih, 306 ribu ton pupuk, 2,2 juta/1,3 juta/1 juta siswa SD/SMP/SMA, 355 ribu warga miskin.

Kebijakan pemerintah, tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi juga membuka kesempatan kerja.

“Teknologi dan informasi menghubungkan dan memudahkan transaksi antara produsen dan pembeli. Tugas pemerintah bagaimana memutus kemiskinan. Bagaimana kemiskinan itu tidak diwariskan dari generasi satu ke generasi setelahnya. Bagaimana menciptakan kesempatan kerja dan konsumen. Pertumbuhan ekonomi memungkinan membuka kewirausahaan,” kata Sri Mulyani penuh harap.

 

“Satu ruangan tepuk tangan pasti bukan karena ingin ketemu saya, tapi karena reformasi birokrasi. Ya kan? Power bukan untuk mengintimidasi. Mengapa harus ada tax amnesty? Ada kisah dibalik ini, karena tidak semua orang Indonesia dapat menikmati layanan publik,” ungkap Sri Mulyani.

 

“Indonesia harus dibangun. Pertumbuhan ekonomi ditingkatkan dengan bayar pajak. Korupsi dihilangkan. Anggaran pendidikan ada Rp.400 trilyun sendiri, madrasah dibangun, bayar tunjangan fungsional guru, bangun infrastruktur,” kata Sri Mulyani.

 

Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, meresmikan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu di Entikong, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, yang berseberangan dengan Malaysia, untuk meningkatkan pelayanan publik di daerah perbatasan.

 

“Di Entikong, kelihatan kita ini jelek, jalannya rusak, gedung jelek. Sekarang sudah lebih bagus, jalannya keren, petugas bea cukainya keren. Kita harus menghargai birokrat yang bagus dan mau melayani. Dengan mengumpulkan pajak, institusi kita juga turut berbenah,” kata Sri Mulyani.

 

Sri Mulyani memberikan contoh bahwa masyarakat sekarang bisa menyampaikan keluhan dengan baik, tidak perlu memaki-maki. Seperti tanggapan baik terhadap kinerja bea cukai, berupa ucapan terima kasih melalui cuitan di twitter. It means a lot.

 

“Di Indonesia, pertumbuhan ecommerce hanya 2%. Jadikanlah ini sebagai peluang. Dari ide bisa jadi peluang. Bukan halangan usaha di Jawa, konsumennya di Entikong. Sekarang orang Entikong  kalau belanja di Malaysia. Konsumen itu tidak hanya tetangga dan teman saja,” kata Sri Mulyani.

 

“Jangan punya cita-cita minimalis. Gaya hidup minimalis boleh, tapi cita-cita tidak minimalis. Jangan batasi impian, jangan pernah putus asa mencintai republik ini,” kata Sri Mulyani menutup.

 

Sebelumnya, William Tanuwijaya, CEO Tokopedia, menyampaikan tips memulai usaha ecommerce, bisa dibaca di sini.

 

Disela diskusi, stand up comedy dari Mudy Taylor disuguhkan untuk menyegarkan talkshow. Komika ini menirukan penyiar radio dari berbagai stasiun radio dengan lagu-lagunya yang jadul dan kreatif. Lumayan sih menurut saya, lucu. Sebelumnya saya belum pernah lihat Mudy Taylor. Ternyata setelah saya cari di youtube, materi stand up ini sudah pernah ia bawakan di acara Stand Up Comedy di Metro TV tahun 2013, cuma gitarnya saja yang beda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here