Tips Memulai Usaha Ecommerce bagi Anak Muda ala CEO Tokopedia

1
365
views
Talkshow dPreneur: Anak Muda dan Prospek Ekonomi 2017 bersama Sri Mulyani, Menteri Keuangan, dan William Tanuwijaya, CEO Tokopedia. (Foto: Lida Noor)

 

Talkshow dPreneur: Anak Muda dan Prospek Ekonomi 2017 bersama Sri Mulyani, Menteri Keuangan, dan William Tanuwijaya, CEO Tokopedia. (Foto: Lida Noor)

Saya mengikuti dPreneur yang diadakan oleh Detikcom di Ice Palace Lotte Shopping Avenue, Jakarta Pusat, 21 Desember 2016. Awalnya saya lihat twitternya Detikcom (@detikcom) mencuit mengenai talkshow dengan tema Anak Muda dan Potensi Ekonomi 2017 dengan pembicara Sri Mulyani, Menteri Keuangan Republik Indonesia, dan William Tanuwijaya, CEO Tokopedia.

Peserta yang berminat, diwajibkan untuk mendaftar secara online. Saat saya mendaftar sudah malam di hari terakhir pendaftaran pula, H-2. Esok harinya saya terima SMS bahwa saya terpilih sebagai salah satu peserta dan diminta untuk mengirimkan konfirmasi kehadiran melalui SMS.

Sesuai dengan SMS konfirmasi yang saya terima, acara dimulai pukul 19.00 WIB, peserta diminta untuk hadir 30 menit sebelum acara untuk registrasi.

 

Lambatnya Antrian

Sesampainya saya di lokasi, masih belum buka. Jadi saya menunggu tidak jauh dari lokasi. Sampai di waktu yang ditentukan, peserta sudah banyak yang menunggu.

Sayangnya begitu meja registrasi dibuka, panitia tidak langsung menertibkan jalur antrian, sehingga peserta mengantri dari berbagai penjuru. Setelah berdiri cukup lama, barulah petugas mall mengatur pembatas antrian.

Dari pengamatan saya, petugas registrasi hanya 2 orang, itu pun antrian satu baris. Setelah lama antri berdiri, dan waktu semakin mepet, barulah panitia menambah jumlah petugas registrasi, menjadi empat orang. Koq bukan dari tadi mas dan mbak. Kan pesertanya sudah daftar online. Sudah tahu donk berapa orang yang akan hadir. Mungkin kalau barisan panjang dan lambat terlihat lebih bagus di video ya.

Setelah ruang terisi penuh sampai ada yang duduk di lantai tangga, moderator pun tampil di pukul 19.45 WIB, dan menyapa 350 orang peserta. Saya lupa nama moderatornya siapa, cantik sih, nanti kalau saya ingat saya update lagi.

 

Jadi Pengusaha Karena Kepepet

William Tanuwijaya, CEO Tokopedia, menceritakan awal dirinya membentuk Tokopedia,  pasar atau mal online terbesar di Indonesia. Berikut pengalaman William yang bisa dijadikan inspirasi bagi kamu yang akan memulai usaha ecommerce:

  1. Berani dan bersemangat bambu runcing

“Saya memiliki semangat bambu runcing di era digital, jadi pengusaha karena kepepet,” kata pria etnis Tionghoa kelahiran Pematang Siantar ini.

Tahu kedua ia kuliah jurusan teknik informatika di sebuah kampus swasta di Jakarta, mendapatkan cobaan, ayahnya sakit kanker. Hal ini membuat William kepepet, karena harus menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga.

Pertama kali ia bekerja menjadi operator jam malam di sebuah warnet, yang saat itu menjamur di mana-mana. Ia mengakui waktu yang dihabiskan di warnet lebih lama daripada di kampus.

Lulus kuliah tahun 2003, ia bekerja kantoran. Ada hal yang mengusik dirinya, yaitu perbedaan harga produk yang dijual di Pematang Siantar dengan di Jakarta. Perbedaan harga ini diakui William karena adanya masalah pada kepercayaan dan distribusi.

Kepercayaan ini lah yang dibangun William melalui Tokopedia saat ini.

Terinspirasi dari google dan facebook, William mulai mencari modal ke orang-orang kaya di tahun 2007.

“Saya lahir dari keluarga sederhana, tidak ada modal uang untuk memulai bisnis,” kata William.

Tidak mudah mendapatkan modal saat itu. William menerima pertanyaan seperti bagaimana caranya mengembalikan modal, serta diminta menyebutkan nama orang Indonesia yang kaya dan sukses bisnis online.  Saat itu belum ada orang kaya Indonesia yang sukses berbisnis online yang bisa dijadikan contoh oleh William. Pertanyaan  selanjutnya, apa yang bisa membuat ia menjadi orang pertama di Indonesia yang sukses berbisnis online.

Ide William ini dianggap bukan merupakan inovasi, karena sudah ada yang serupa di luar negeri seperti Alibaba. Cepat atau lambat Alibaba dan sejenisnya akan masuk ke Indonesia, karena memang Indonesia adalah pangsa pasar potensial.

“Ditanya pengalaman membangun bisnis juga saya tidak punya,” cerita William.

“Ada yang bilang kalau bermimpi jangan muluk-muluk. Orang-orang di Silicon Valley itu orang yang special, tapi kamu bukan,” tiru William.

“Saya ingin membangun kepercayaan, dengan rekam jejak yang baik. Saya punya modal keberanian. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi masa depan bisa,” kata William.

 

  1. Gigih

Setelah terbentuk Tokopedia, William kembali ke kampus, dengan rencana ingin mengajak mahasiswa atau alumni kampusnya bekerja di Tokopedia. William mengikuti Job Expo, namun sayang sekali tidak ada yang mengajukan lamaran. Padahal stan sebuah bank di depan stannya dibanjiri ribuan pelamar.

Sekarang sudah berbeda, ada 25.000 pelamar kerja di Tokopedia. Bahkan ada mahasiswa Indonesia di Harvard yang ingin magang di Tokopedia.

 

  1. Harapan

“Modal bamboo runcing saja tidak cukup. Saya belajar tentang harapan, dan ini yang utama. Dengan adanya harapan, hidup jadi berubah,” ungkap William.

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, jatuhnya masih di bintang, jadi jangan takut,” kata William menutup.

 

Pembicara kedua, Sri Mulyani, akan saya tulis di artikel berikutnya. Simak terus tulisan saya, ya.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here