Rebutan Kuliner Minang

0
300
views
Rebutan bika di Festival Jajanan Minang 2016. (Foto: Lida Noor)
Festival Jajanan Minang 2016, 9-10 Desember 2016 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. (Foto: Lida Noor)

Akhir pekan ini saya mengunjungi Festival Jajanan Minang 2016 di Taman Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Festival yang digelar selama 2 hari, Sabtu sd Minggu 9-10 Desember 2016, buka dari jam 9.00 sd 21.00 WIB. Berkali-kali teman posting di sebuah grup whatsapp sejak sebulan yang lalu, sukses bikin saya ngiler.

Sebelum berangkat di hari pertama festival, saya mikir-mikir dulu. Mau datang siang dengan risiko panas, maklum di ruang terbuka, atau sore saja tapi risiko hujan. Akhirnya saya datang masih siang sekitar jam 14.00. Saat itu sudah banyak kendaraan yang parkir dan pengunjung terlihat memenuhi area festival.

Saya, bersama ibu, mulai mengelilingi area festival, dan segera tertarik dengan kari kambing di stand Kari Kambing Cik Nun.

“Beli sekarang saja untuk dibungkus, sebelum kehabisan,” kata ibu saya khawatir melihat banyaknya pengunjung di Festival Jajanan Minang 2016.

Kami minta dibungkus 2 porsi kari kambing untuk dimakan di rumah, berhubung adik saya tidak ikut. Ternyata alamatnya di Jalan Raya Jatiwaringin, Jakarta Timur, sekitar 4 km dari tempat tinggal saya. Selain kari kambing seharga Rp.20.000,- per porsi, ada juga nasi briyani seharga Rp.15.000,- per porsi.
“Tidak ada restauran, bikin sesuai pesanan saja, sekilo Rp.250.000,” kata ibu yang melayani kami.

Tidak jauh dari stand Cik Nun, ada stand yang menjual sate padang dengan antrian pembeli yang cukup panjang. Sate padang merupakan jajanan khas minang yang banyak ditemui di Jakarta. Meskipun begitu, banyak juga pembeli yang antri sate padang di festival ini. Kalau pun tidak ada yang mengantri bisa dipastikan sate padangnya sudah habis.

Sate padang, salah satu kuliner favorit di Festival Jajanan Minang 2016. (Foto: Lida Noor)

Jadilah kami mengantri di stand Sate Padang Anak Ayah, yang antriannya tidak begitu panjang tapi kehabisan ketupat. Sate padang seharga Rp.25.000,- seporsi dengan banyak bumbu, tanpa ketupat, dagingnya tipis dan hanya 7 tusuk, menurut kami cukup mahal. Tapi rasanya enak. Bikin sendiri juga belum tentu bisa.

Martabak kubang di Festival Jajanan Minang 2016. (Foto: Lida Noor)

Pengunjung juga terlihat mengantri di stand yang menjajakan martabak kubang. Kami pun ikut-ikutan mengantri. Antriannya dimulai dari stand yang menjajakan pempek dan bakwan malang, dua stand di samping stand martabak kubang. Nah lho bingung kan ada pempek dan bakwan malang di antara kuliner minang. Saya juga bingung, mungkin yang punya orang minang yang pernah merantau ke Palembang dan Malang sebelum ke Jakarta.
Meskipun mengantri martabak cukup panjang dan lama, kami bisa dapat hiburan juga, karena stand di sampingnya, menayangkan cuplikan film Surai dan Silek, yang akan tayang perdana pada April 2017. Pengunjung stand berkesempatan mendapatkan gratis tiket perdana menonton Surai dan Silek di XXI Epicentrum jika beruntung.

Rebutan bika di Festival Jajanan Minang 2016. (Foto: Lida Noor)

Diantara puluhan stand, yang paling menarik menurut saya adalah stand yang menjual bika. Lokasinya berada di tengah festival, tanpa tenda, dan banyak dilalui pengunjung. Bika dimasak di tempat dengan cara dibakar dengan sabut kelapa. Banyak yang beli dan mereka rela menunggu bika matang sambil pegang dus kue kosong. Begitu bikanya matang, langsung serbu. Ada yang cuma kebagian satu bika setelah berjuang rebutan dengan ibu-ibu. Itu juga sudah bagus bisa kebagian. Saya sih gak ikutan rebutan, ngeliatnya memang seru tapi belum tentu saya berhasil rebutan. Mengingat peluang mendapatkan bika gak sebesar pengorbanannya, saya milih nonton sambil foto-foto aja.

Banyaknya pengunjung yang datang, mulai dari bayi di stroller (kareta dorong anak) sampai nenek kakek, makanan pun ludes. Penjaga stand yang kehabisan stok, istirahat sejenak sambil menunggu stok dagangannya datang, seperti penjaga stand es cendol yang kehabisan es batu. Penjaga stand es krim dan paru goreng juga sudah tidak terlihat karena kehabisan stok.

Kelelahan berjalan, mengantri, kelaparan, kehausan dan kepanasan, dengan keterbatasan kursi, memaksa pengunjung beristirahat sambil duduk-duduk di atas rumput di bawah pohon rindang, layaknya piknik.

Selain kuliner, ada juga stand yang menjajakan pakaian, hijab, kaos dengan tulisan khas minang, kosmetik, travel haji dan umroh. Hiburan khas minang juga digelar di panggung yang bisa disaksikan pengunjung sambil duduk. Kalau bukan kita yang melestarikan kuliner dan budaya minang, siapa lagi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here