Bermain dan belajar bersama “Gen Y”

3
228
views
Pembekalan Inkubasi Gen Y dengan tema revolusi mental 'berpikir kreatif' di lantai delapang gedung belakang kementerian komunikasi dan informatika yang dihadiri kurang lebih 40 peserta.

Berawal adanya woro-woro dari Eselon I di Lingkungan Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik berisi ajakan kumpul bersama mulai dari PNS angkatan 2006 sampai 2015, hari Rabu tanggal 30 November 2016 di gedung belakang yang lokasinya paling atas lantai delapan. Kalau aku lihat maksud kegiatan ini dalam rangka peningkatan kapasitas Inkubasi Gen-Y sebagai program manajemen perubahan di Lingkungan Ditjen IKP, wuihhhh ngeri ya…..yang aku tangkap, anak muda mau dikumpulin, dibina dan diberi pelatihan baik dr segi etika maupun pegetahuan yang nantinya bisa diterapkan dalam masing-masing satuan kerjanya.

Undangan itu tertulis diawali makan siang, waah senangnya hari rabu akan jadi ngirit libur cari-cari dan bingung mau makan apa karena seneng banget makan gratis sudah disediakan oleh panitia. Selesai salat dzuhur tanpa berat langkah dan ga usah bawa dompet “haha kan ga bakal ngeluarin duit buat jajan” di depan lift aku bertemu rekan satu direktorat Riry dan Yasir lantas bergegaslah kita saling ajak untuk bareng menuju lantai delapan tapi saya lihat pintu lift lama banget bukanya lantas tanpa pikir panjang dan capek aku berpisah mereka berdua dengan sabar menunggu tibanya lift saya langsung berlari dengan langkah cepat lewat tangga manual sambil bayangin hhmm menu makanannya apa ya? masih kebagian ga ya? ternyata lantai delapan itu cukup melelahkan ya jauh,,,jauh dan perasaan kok ga sampe – sampe ya sambil “ngos-ngosan” loh. Saya akhirnya tiba dipengujung lantai delapan sudah kelihatan tuh meja prasmanan yang berselimutkan kain berwana dasar putih yang dibalut dominan warna coklat.

Sajian makanan prasmanan untuk peserta Inkubasi Gen Y di lantai 7 gedung belakang
Sajian makanan prasmanan untuk peserta Inkubasi Gen Y di lantai 7 gedung belakang

Tanpa pikir panjang sikat broh,,,,ajakan saya kepada rekan saya tadi “riri dan yasir” sambil melirik menu apa yang tersaji wow ternyata nasi putih, sayur segar berisikan daging dan lobak, tahu & tembe bacem, udang goreng tepung, sambel, ada sajian daun pepaya pahit dan kerupuk tak lupa saya ambil untuk pelengkap hmmmm “mari santap” sendok dan garpu saling menghajar untuk mengaduk makanan yang akan bersinggah di dalam mulut.

(Kiri-kanan, Yasir, Dimas , Lida, dan Riri sedang bergulat dengan menu makanan santap siang sebelum mulai pembekalan di lantai delapan).
(Kiri-kanan, Yasir, Dimas , Lida, dan Riri sedang bergulat dengan menu makanan santap siang sebelum mulai pembekalan di lantai delapan).

Edisi cerita makan aja sudah menghabiskan durasi kurang lebih 45 menit ya, himbauan panitia agar segera naik keatas kepada peserta Gen Y Ditjen IKP yang sudah mengakhiri makan siang sudah bergemuruh diteriakan. Baik kakak aku naik ”panggilan ikrib” untuk filmon yang sudah ingatkan saya untuk naik.

Wah ternyata masih sepi ya, tak apa semangat saya langsung pantau tempat duduk sayap tengah posisi baris kedua sebagai pilihan, pandangan pertama ketika melihat layar putih terpampang cerah di depan dengan latar yang bertuliskan “Selamat Datang Peserta Inkubasi Gen Y dalam Diskusi Berteme Revolusi Mental “Berpikir Kreatif”. Satu kata yang buat saya bingung adalah “Inkubasi” yang mengandung makna sulit dipahami terus terang, apakah generasi muda di lingkungan IKP penyakitan semua jadi diharuskan masuk kedalam ruangan terapi atau tabung pemulihan berhubung duduk sebelah saya ada orang terlibat dalam program  “Gerakan Gembira Maju Bersama” lalu kenapa aku pusing mikirin makna arti itu. Percakapan terjadi antara Filmon kita sebut “F” dan hendi “H” sbb :

H : Kak filmon saya ga paham nih Inkubasi yg dimaksud kegiatan ini?

F : Masa kamu ga paham?

H : Tenan loh…..

F : Jadi maknanya itu lebih ke arah penyiapan dan pembekalan generasi muda di lingkungan IKP

H : Oh gitu……baiklah, Thx Kak.

Waktu didinding sudah menunjukan pukul 13.50, melihat kondisi megah ruangan lantai delapan, tersusun rapih tiga sofa berwarna putih untuk pejabat masih kosong, susunan kursi untuk perserta juga belum terisi penuh oleh generasi muda dilingkungan Ditjen IKP singkat istilah “Gen Y” yang terdata di Kepegawaian Ses Ditjen IKP ada sekitar 100 orang termasuk Gen Y terdiri dari PNS tahun 2006 s.d 2015 tapi yang memadati ruangan tersebut hanya sekitar 40 peserta.

Welfie bersama sambil menunggu peserta lainnya dan narasumber hadir.
Welfie bersama sambil menunggu peserta lainnya dan narasumber hadir.

Pemateri yang akan mengisi pembekalan Gen Y adalah Parni Hadi didampingi oleh Dirjen IKP Rosarita Niken Widiastuti dalam pembahasan Revolusi Mental dikaitkan dengan “berpikir kreatif”, begitu yang disampaikan pembawa acara yang sudah tidak asing lagi dilingkungan  IKP yaitu sebut saja Ses Wiena. 

Dirjen IKP dalam sambutannya berharap dan yakin bahwa dengan pembekalan ini generasi muda di lingkungan Ditjen IKP mulai dari PNS angkatan tahun 2006 sampai dengan 2015 dapat mengikuti kegiatan ini dengan serius dan menjadi generasi yang cerdas-cerdas, serta mendukung tugas-tugas GPR IKP, Kominfo dan Pemerintahan.

Parni Hadi pemateri pembekalan revolusi mental didampingi Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Rosarita Niken Widiastuti.
Parni Hadi pemateri pembekalan revolusi mental didampingi Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Rosarita Niken Widiastuti.

Sosok Parni Hadi penerawangan saya terlihat sangat galak, tegas dan bakal membosankan nih beberapa jam kedepan, ternyata setelah aku fokus mengamati dan menyimak kegiatan pembekalan tersebut semua pemikiran itu terpatahkan karena materi yang dibawakan bermain dan belajar itu sangat menyenangkan lebih efektif menerima pesan-pesan yang disampaikan. Ternyata saya salah menilai Pak Parni,,,hihihi maaf kan saya Pak.

Sesi Pertama yang disampaikan oleh beliau diawali dengan perkenalan selama berkarir mulai  dari wartawan, penulis buku, widyaiswara, pernah di RRI, Antara, pendiri sampai jadi ketua dewan pembina yayasan Dompet Dhuafa serta banyak pengalaman lainnya. Kemudian sedikit mengulas tentang berpikir kreatif itu seperti apa? Pak Parni langsung mengajak peserta diklat menuliskan beberapa pertanyaan diatas kertas dan kemudian menantang siapa yang berani tampil untuk menyampaikan jawabannya,  apa pertanyaan yang dilontarkan Pak Parni? Pertama ; siapakah saya, kedua ; apa yang anda pikirkan, ketiga ; apa yang anda inginkan, keempat ; bagaimana caranya, kelima ; apa doa anda. Tantangan pertama dilibas oleh keberanian Andi Muslim meski paksaan datang dari Direktur Layanan Informasi Internasional Pak Selamatta Sembiring simak jawaban Andi berikut ; saya adalah ‘penerus’ akan melakukan ‘perbaikan’  dengan cara ‘mencoba dan mencoba’ serta doa ‘terbaik’ sontak pak Parni memberikan apresiasi  dan tepuk tangan atas jawaban cerdas Andi dengan jabat tangan hangat mereka.

Sesi selanjutnya bermain dengan berhitung, membuat kelompok, memilih ketua kelompok, memilih wakil rakyat, siapa yang berani maju tampil, menyampaikan kalimat bersambung diwal dan akhir, menyisipkan kalimat antara orang pertama  sampai ke delapan dan akhirnya kalimat akhir menjadi sebuah lagu yang akan dinyanyikan bersama, dst guna melatih peserta berani tampil, berpikir kreatif dan cerdas. Mohon maaf ya pemirsa saya tidak bisa menceritakan lebih detail keseluruhan sesi permainannya selain panjang akan memenuhi laman blog ini hehe……..

Sesi bermain dan belajar para Gen Y
Sesi bermain dan belajar para Gen Y

Intinya kegiatan pelatihan diatas dikemas dengan metode permainan sambil belajar  yang beberapa jam kedepan akan dipandu oleh Pak Parni, kegiatan ini sangat  menyenangkan dengan mencontohkan dan memberikan pesan bagaimana berpikir kreatif kepada peserta seperti “berpikir kreatif keberanian merubah pola pikir dengan mencoba baik menyambungkan hal semula tidak berkaitan menjadi terkait dan berpikir diluar konteks dengan cerdas”.

Selain itu Pak Parni menegaskan dengan kalimat super sekali yang kemudian harus diulang dan dipraktekan dengan menggunakan gaya apapun bebas “Apapun profesi saya, saya harus menguasai 3 kemampuan dasar komunikasi sbb : berpikir Jernih, berbicara ringkas bernas, dan menulis efektif. Peserta kembali ditantang siapa yang berani mengulang kalimat tersebut lengkap dengan gaya pendukung, tanpa menunggu lama amanat itu diserukan ke Dimas Aditya salah satu perwakilan dari Direktorat Pengolahan dan penyediaan informasi untuk berani mengulang dan mengajak peserta lain menirukan gaya yang spontan diciptakan, mulai dari jari-jari membuat pola seperti lingkaran, kedua jempol digerakan ke bagian dada, lengang mengepal sambil berbentuk huruf L, menunjukan tiga jari, membuat lengan seperti spasi, kemudian jari sebagai isarat orang berbicara itulah peragaan oleh Dimas yang memiliki perawakan yang cukup sexy.

Kesimpulan akhir ditutup oleh kalimat yg merupakan pesan khusus dari pelatihan disampaikan Pak Parni secara lantang dan jelas dengan mengutip  kalimat dari tokoh “Lao Tze” jadi manusia cerdas harus memperhatikan kata kunci utama sbb “Perhatikan pikiranmu, karena akan jadi perkataanmu, perkataan jadi perbuatan, perbuatan jadi kebiasaan, kebiasaan jadi karekter, dan karaktermu akan jadi nasibmu”.

Sampai jumpa...............
Sampai jumpa……………

Maafkan daku ya kawan,,,,jika ada cerita yang terlewat bahkan  ga nyambung.

Keterbatasan hanya milik saya, kesempurnaan hanya milik allah

Salam Gembira Maju Bersama

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here