Chief RA dan filosofi kantin Kominfo

2
345
views

Ketika menyusun postingan untuk blog Kantin, yang kebetulan juga mau bercerita tentang kantin Kominfo, saya berupaya mengumpulkan bahan dari berbagai sumber yang boleh dibilang nyaris tidak ada. Mungkin juga tidak akan ada data karena siapa sih yang memerhatikan kantin dan membuat laporan dan dokumentasinya?

Mungkin iya kalo itu satuan kerja terkait kantin dan … inspektorat? Hahaha

Lantas iseng saya googling dengan kata kunci “kantin kominfo” dan mak byuk, tak dinyata hasil pencarian dari search engine anak perusahaan Alphabet itu menunjukkan bahwa Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Rudiantara — yang lebih dikenal dengan panggilan Chief RA — menyantap gado-gado di kantin Kominfo.

Setelah klik tautannya, terbuka satu laman dari platform media sosial Twitter yang ternyata laman itu bersumber pada akun Twitter personal Chief RA yakni @rudiantara_id. Itu artinya ada kemungkinan satu-satunya Menkominfo yang berasal dari kalangan “profesional” itu, ngetwit sendiri.

tmp_1985-screenshot_20161127-0005362512280354

“Waktunya gado-gado kantin Kominfo 🙂 ra” cuitannya. Santai sekali ya. Keterangan lain menunjukkan waktu cuitan pukul 10:54 pm (22.45 WIB?) tanggal 20 Oktober 2015 dan sukses mendapatkan 8 ritwit dan 5 likes. Setahun yang lalu.

Rupanya ada netizen (warga dunia maya) yang juga ngetwit tentang Chief RA yang kedapatan makan siang di kantin kantor. Namanya Anggayomi Amanda alias @yomiamanda.

tmp_1985-screenshot_20161127-0016042-1456801321

“Lagi makan siang di kantin Kominfo, ketemu Pak @rudiantara_id. Gak nyangka, Pak Menteri aja makan nya di kantin. 😀” ungkap @yomianda.

Ia dan beberapa kawan sempat mengabadikan perjumpaan dengan Chief RA di kantin dengan foto bersama. Tertanggal 10 November 2015 pukul 10:04 pm (22.04 WIB?) dan sukses mendapatkan 2 Retweets 7 Likes. Setahun yang lalu juga.

Semua warga Medan Merdeka Barat 9 pernah menyambangi kantin. Sayang sekali upaya penalaran deduktif itu akan kesulitan dibuktikan karena meskipun yang saya ceritakan sekarang adalah kantinnya Kementerian Komunikasi dan Informatika yang menjadi salah satu simpul teknologi informasi dan komunikasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia, toh kantin itu adalah kantin biasa.

Saya sempat membayangkan sebuah kantin canggih dengan sensor pegawai keluar-masuk kantin disertai durasi di kantin dan bahkan ketahuan duduk di koordinat tertentu dan pesan menu makanan dan minuman apa saja. Metode pembayaran cukup dengan tapping kartu pegawai pada EDC Merchant yang terhubung dengan basis data gaji bulanan dan tunjangan kinerja. Selain itu, setiap meja dilengkapi dengan colokan listrik dan sambungan Internet berbasis wifi dengan kecepatan tinggi, minimal 100Mbps atau berbasis kuota per pegawai.

Surga itu ada!

Ok. Meskipun pada kenyataannya adalah kantin biasa namun terkandung filosofi yang sungguh substansial.

Pertama. Makan duluan bayar belakangan. Ini keren banget menurut saya karena setiap penjual dituntut mengingat siapa pesan apa setelah beberapa waktu berlalu, ya karena ada yang jualan beberapa lauk pauk dan sayur sekaligus. Diversifikasi komoditas. Bukan satu jenis semacam bakso, mie ayam, gado-gado, sate, soto daging dan lainnya.

Pihak pembeli pun dituntut untuk jujur dan berani mengakui pesanan di depan tadi. Paling gawat adalah di tengah santap pagi atau siang, tiba-tiba ada rapat penting yang mendesak untuk dihadiri. Tak jarang pembeli lupa untuk kembali menyambangi sang penjual yang tabah menanti pundi-pundi; sebab ia tergopoh-gopoh meninggalkan kantin.

Oia, gado-gado yang disantap Chief RA kira-kira nilainya Rp15rb. Itu kalau telurnya separo, kalau utuh ya beda. Nah, menarik untuk disimak apakah beliau bayar di depan atau di belakang. Bayar sendiri atau dibayarin. Saya tidak tahu. Ehehehe

Kedua. Kebersihan adalah sebagian dari Iman. Kantin Kominfo adalah kantin yang bersih dan nyaris bebas asap, abu dan puntung rokok dikarenakan tata letak yang segar. Dua bagian besar, yang pertama dalam ruang ber-AC dengan kapasitas 60-100 orang dan yang kedua bagian utama untuk lapak-lapak penjual dengan interior taman plus air mancur di tengah-tengahnya.

Ada yang pernah selfie di taman kantin? Bagi sini dong fotonya XD

Tata kelola SDM kebersihan kantin juga berperan sangat besar. Para petugas kebersihan dengan sigap membersihkan meja makan dengan peralatan dan perlengkapan yang patut diacungi jempol, yaitu cairan pembersih dan kain lap aka gombal. Piring gelas kotor pun sigap mereka angkut dan cuci di pojok cuci piring. Keren kan?

Jika di antara pembaca ada yang sempat mengalami keadaan batiniah kantin di era Orde Baru dan Reformasi, alias zaman Departemen Penerangan dan Departemen Komunikasi dan Informatika, maka kenanglah kantin yang itu seperti layaknya seorang mantan yang perlu sejenak dikenang. Lalu syukurilah keadaan yang sekarang.

Ketiga. Kerakyatan. Maaf, ini bukan soal harga makanan kantin Kominfo yang masih lebih bersahabat kantin BSG di Abdul Muis. Ini soal duduk bersama, tidak ada yang lebih tinggi dari siapapun. Tidak ada ruang VVIP. Kita sama-sama masih makan nasi. Kadang lupa bayar atau bahkan hutang alias kasbon.

Yang jualan tak perlu menunduk segan. Yang pasti mereka sopan dan santun penuh senyum. Yang beli tak perlu melotot agar segera dipercepat masaknya. Pasti dilayani dengan baik meski tepat saat rush & peak hours sekalipun. Egaliter.

Begitulah cerita saya tentang kantin Kominfo. Bagian filosofi adalah sekedar catatan saya saja. Terminologi yang lebih keren adalah refleksi interpersonal. Jadi tolong jangan didebat.

Lain kesempatan, saya akan mengupas satu per satu sosok-sosok bersahaja dari kantin Kominfo.

Semoga saya bisa berjumpa dengan Chief RA di kantin dan duduk bersama terus dibayarin. Amin.

2 COMMENTS

  1. Aku pernah tuh lupa bayar jus. Trus besoknya baru kubayar. Pernah juga lain hari lupa bayar gado2. Bayarnya beberapa hari kemudian. Jiahahaha
    Search di instagram juga donk. Aku posting makanan kantin pake hashtag #kantinkominfo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here