Petualangan Menuju Kabupaten Tangerang

0
323
views
Kantor Bupati Tangerang
Kantor Bupati Tangerang

Hari itu saya dinas ke Sekretariat Daerah Kabupaten Tangerang di Tigaraksa. Berhubung belum pernah ke sana, saya nanya-nanya dulu ke teman yang tinggalnya di daerah Tangerang Selatan dan suka naik kereta commuter line. Katanya sih Tangerang Selatan jauh dari Kabupaten Tangerang tapi lumayan lah daripada gak nanya sama sekali. Ya kan?

Di Stasiun Tanah Abang, saya nanya dulu ke mbak manis pegawai PT KAI yang berdiri di samping mesin tap kartu (gak tau nama mesinnya apa, apalagi nama mbaknya). Si mbak bilang saya bisa naik kereta tujuan Rangkasbitung yang sudah tersedia di stasiun, tapi saya harus beli tiket yang kertas. Saya pikir, naik kereta ke Tigaraksa koq seperti mau ke Cirebon aja sih.

Kereta Api Ekonomi Rangkas Bitung-Tanah Abang
Kereta Api Ekonomi Rangkasbitung-Tanah Abang. (Foto: Lida Noor)

Berhubung gak buru-buru banget, jadi saya tetap pada rencana semula yaitu naik kereta commuter line. Sesampainya di peron, ternyata ada kereta commuter line. Saya nanya lagi ke mas security di pintu kereta, “Mas, kereta ini bisa sampai ke Tigaraksa”? Si mas pun menjawab, “Gak bisa. Cuma sampai Parung Panjang.” Sedih saya ditolak si mas itu. Tapi gak papa sih. Saya udah biasa ditolak. Masih ada mas-mas yang lain. Mari kita tunggu lagi.

Sekitar 10 menit, datanglah kereta commuter line tujuan Maja yang saya tunggu. Saya pun memulai perjalanan ke negari antah berantah, karena hampir semua nama stasiun yang dilalui gak saya kenal.

Perjalanan dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Tigaraksa sangat nyaman. Di setiap stasiun yang disinggahi, kereta berhenti hanya sebentar saja. Penumpang yang naik sangat sedikit. Pasti karena sekitar jam 9 pagi itu penumpang jauh lebih banyak yang menuju Tanah Abang. Artinya saya melawan arus penumpang 😀

Sesampainya di Stasiun Tigaraksa yang menurut saya sangat jauh, saya buka aplikasi ojek online. Koq gak kelihatan motor-motor driver ojek online ya, batin saya. Sekali lagi saya nanya ke mbak-mbak manis pegawai PT KAI yang ada di stasiun. Entah kenapa semua mbak mbak itu manis.

“Mbak, kalau mau naik ojek online nunggunya di mana?” tanya saya dengan backing vokal abang ojek pangkalan yang manggil-manggil saya di pintu stasiun.

“Belum tersedia di sini,” jawab si mbak. Jadi dengan terpaksa saya pun pilih satu di antara abang ojek pangkalan yang menawarkan jasanya. Ongkos yang diminta si abang sebesar Rp35.000,-. Itu pun si abang cuma bawa satu helm. Jadi saya gak pakai helm >.<

Sepanjang perjalanan, sawah terbentang luas. Jarang banget ada kendaraan di jalan, jarang ada orang di pinggir jalan, jarang ada rumah juga. Ada sih perumahan sangat sederhana sekali yang lagi dibangun. Tapi gak tau juga ya itu perumahan lagi dibangun atau gak jadi dibangun. Ehehehe

Abang ojek pangkalan yang nganter saya ini nawarin untuk nganter balik ke stasiun. Tapi saya tolak dengan berbagai alasan seperti lama kalau ditungguin karena urusan saya gak bisa sebentar, lagi pula kan gak ada helm, dan speedometer mati!?

Di lobi, saya disambut replika Elephas Maximus (gajah purba) yang diperkirakan berumur 5.000 tahun sebelum masehi. Gajah purba ini ditemukan pada tanggal 23 Desember 2002 di Kampung Kapling, Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang.

Replika Elephas Maximus (Gajah Purba), diperkirakan berumur 500 tahun sebelum masehi.
Replika Elephas Maximus (Gajah Purba), diperkirakan berumur 500 tahun sebelum masehi. (Foto: Lida Noor)

Selesainya urusan saya di Sekretariat Daerah Kabupaten Tangerang, saya pun buka aplikasi ojek online lain, dan ternyata ada abang ojek online di sekitar.

Gak lama setelah order, dapat driver. Ongkosnya cuma Rp17.000,- saja. Pas abangnya dateng, malah mau nganterin saya ke Stasiun Daru, dua stasiun sebelum Stasiun Tigaraksa, dengan tarif sama. Saya sih mau aja. “Jaraknya sama, bayar keretanya malah lebih murah Rp1.000,-“ kata driver ojek online meyakinkan.

Jadilah saya dianterin ke Stasiun Daru, dan saya jadi tahu kenapa dia lebih memilih nganter saya ke Stasiun Daru. Sepanjang perjalanan, lebih banyak orang, lebih banyak rumah dan lebih banyak pedagang. Lebih banyak aktivitas lah, dibandingkan dengan perjalanan menuju Stasiun Tigaraksa yang mayoritas sawah.

Sesampainya di Stasiun Daru yang sangat sepi, saya harus nunggu commuter line tujuan Tanah Abang selama satu jam, karena keretanya baru saja berangkat.

Berdasarkan pengamatan saya, jumlah calon penumpang yang ada di stasiun itu, masih lebih sedikit daripada jumlah orang yang kerja. Orang yang kerja di Stasiun Daru dan sekitarnya ada pegawai PT KAI, anak magang, tukang ojeg pangkalan, pedagang makanan di luar parkiran yang beberapa kali deketin pagar stasiun untuk menawarkan dagangannya, yang di telinga saya sepertinya terdengar tempe atau pempek.

Begitulah petualangan saya ke negeri antah berantah. Buat kalian yang mau ke Sekretariat Daerah Kabupaten Tangerang dari arah Tanah Abang, bisa naik kereta commuter line sampai Stasiun Daru saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here