Bukan tontonan biasa, wayang kulit jadi ajang sosialisasi Revolusi Mental

1
367
views

Sudah lama kali rasanya saya ga nonton pertunjukan wayang kulit, terakhir itu kalau ga salah tahun 2013, itu juga acara saudara sepupu sunatan yang nanggap kesenian wayang kulit.

Kalau ditelusuri, sebenarnya saya ini masih ada keturunan darah seni, percaya ga tuh? Kalau ga percaya ya sudah, lha wong ibu saya mantan Pesinden Karawitan pada jamannya di Gunung Kidul, kemudian kakek atau Mbah Kakung itu profesi sebagai dalang di Wonosari, lalu pakde “Ki Sutrisno Hadi Suroto” dan “Ki Sunaryo Hadi Suroto” juga profesi sebagai dalang. Terakhir saya punya keponakan juga belajar sekolah dalang di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

Wayang kulit merupakan, kalo boleh mengutip dari Wikipedia, seni tradisional Indonesia yang berkembang di wilayah Jawa. Wayang berasal dari kata MaHyang yang artinya menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Namun ada juga yg menafsirkan Wayang istilah bahasa Jawa yang memiliki makna bayangan.

Dalam pertunjukan wayang kulit, biasanya ada aktor yang memainkan semua peranan termasuk menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang dengan iringan musik gamelan, ia biasa dikenal sebagai sang Dalang. Baiklah, kali ini cukup sekian perkenalan singkat istilah pewayangan, kalau dibahas full bisa habis dua semester nantinya hehehe.

Saya merasa sangat beruntung setelah sekian lama tidak menyaksikan langsung pertunjukan kesenian wayang kulit dan meski saya sama sekali ga tahu alur cerita atau lakon yang dibawakan oleh sang Dalang.

Pada hari Sabtu, tanggal 19 November 2016, Direktorat Pengelolaan Media Publik, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika bersinergi dengan DPR RI, Pemerintah Daerah Kabupaten Pati dan tokoh masyarakat untuk menyelenggarakan kegiatan sosialisasi Gerakan Nasional Revolusi Mental Melalui Pertunjukan Kesenian Wayang Kulit dengan tema “Kita Berubah Untuk Indonesia” dan menghadirkan dalang kondang Ki Manteb Soedharsono di Lapangan Terminal Saridin, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah.

Sebentar, ini ada yang unik tentang Terminal Saridin yang jadi lokasi pagelaran wayang kulit malam Minggu ini. Cukup membuat saya bingung bertanya dan harus mengadu pada siapa ya? Pertama-tama yang ada di bayangan saya, terminal itu banyak kendaran lalu lalang, ada barisan loket penjualan tiket, juga fasilitas umum seperti layaknya terminal, dan warung restoran atau tempat makan.

Lapangan terminal Saridin yang berlokasi di Desa Kayen Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah
Lapangan terminal Saridin yang berlokasi di Desa Kayen Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah

Tralalala … jreng … jreng! Kalau nonton sinetron ibarat kata kita bisa terpukau dan terkagum-kagum, kali ini saya berpikir keras sambil membatin dalam hati “Mana terminalnya dan mana itu kendaraan umumnya?”. Usut punya usut, demi menuntaskan rasa penasaran, saya bergegas bertanya pada salah satu pedagang kopi di area parkir Terminal Saridin, namanya Pak Tarno, dan kata beliau, ini merupakan terminal parkir kendaraan yang akan berwisata ziarah mengunjungi salah satu makam Wali Allah yang disebut Syeh Djangkung atau nama aslinya Saridin. Makamnya kurang lebih berjarak sekitar 100 meter dari area parkir terminal tersebut.

Makam Syeh Djangkung yang dianggap sebagai wali Allah oleh masyarakat Desa Kayen, Kecamatan Kayen dan peziarah dari kabupaten kota lain.
Makam Syeh Djangkung yang dianggap sebagai wali Allah oleh masyarakat Desa Kayen, Kecamatan Kayen dan peziarah dari kabupaten kota lain.

Baiklah, yuk kita kembali ke cerita wayang kulitnya. Seperti apa sih rangkaian kegiatannya? Dari pertunjukkan yang saya pernah tonton, sang Dalang akan memainkan lakon cerita semalam suntuk dan didampingi oleh kelompok penabuh gamelan dan tembang yang dinyanyikan para pesinden.

Nah, pertunjukan wayang kulit yang digelar oleh Kementerian Kominfo sedikit berbeda karena di tengah-tengah pertunjukan muncul dialog interaktif antara Dalang dengan Dirjen IKP Rosarita Niken Widiastuti, Anggota Komisi I DPR RI Evita Nusanty dan tokoh masyarakat Kabupaten Pati untuk membahas Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) dengan durasi kurang lebih 40 menit.

Tepat pukul 20.30 Waktu Indonesia Bagian Pati, pembawa acara senior dan juga penggila seni kawakan bersiap-siap membuka dan memegang peran dalam memandu acara sosialisasi GNRM. Siapakah dia? Dia adalah Yati Pesek — nama panggung — yang punya nama asli Suyati.

Kita geser ke atas sebentar ya. Siapa tadi Dalang yang membawakan Sosialisasi GNRM? Sabtu malam Minggu ini yang memainkan wayang kulit di pelataran Terminal Saridin adalah Ki Manteb Soedharsono. Siapa yang belum kenal dia hayooo? Kalau belum ada yang kenal, sebentar saya cari kepek’an alias contekan buku primbon mbah Hendi.

Ketemu juga nih profilnya, Manteb Soedharsono itu menurut cerita dari pakdhe saya, merupakan Dalang terkenal di wilayah Jawa Tengah dengan sebutan ‘Dalang Setan’ karena dia berani dan lihai dalam sabetan atau keterampilan dalam menggerakkan wayang dengan cepat.

Lagi-lagi darah seni menunjukan bakat turunan dari kedua orang tuanya, ayah Ki Manteb adalah Hardjo Brahim Hardjowijoyo yang juga merupakan Dalang di wilayah Jawa Tengah dan ibunya juga seniman penabuh gamelan. Awal Karir Ki Manteb melejit dan terkenal setelah menggelar pertunjukan Banjaran Bima sebulan sekali selama satu tahun penuh di Jakarta pada tahun 1987. Selain itu, pada tahun 2004, Ki Manteb juga memecahkan rekor MURI mendalang selama 24 jam 28 menit tanpa istirahat.

Direktur Pengelolaan Media Publik, Pak Sunaryo memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan pertunjukan rakyat di Kabupaten Pati pada 19 November 2016
Direktur Pengelolaan Media Publik Sunaryo memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan pertunjukan rakyat di Kabupaten Pati (19/11).

Pertunjukan wayang kulit dibuka dengan sambutan dari ketua pelaksana yaitu Direktur Pengelolaan Media Publik, Sunaryo. Beliau menegaskan bahwa tujuan sosialisasi ini, selain menampilkan pagelaran seni budaya, juga sebagai salah satu pilar yang bisa menumbuhkan jiwa cinta bangsa dan negara. Wayang kulit sudah mendarah daging dan menjadi salah satu tontonan yang bisa jadi tuntunan bagi masyarakat Jawa.

( Kiri - Kanan ) Pembawa acara Yati Pesek, Dirjen IKP Rosarita Niken Widiastuti, Anggota Komisi 1 DPR RI Evyta Nusanty, Ismail Cawidu, dan Hariyanto.
(Kiri-kanan) Pembawa acara Yati Pesek, Dirjen IKP Rosarita Niken Widiastuti, Anggota Komisi I DPR RI Evita Nusanty dan tokoh masyarakat.

Rosarita Niken Widiastuti selaku Dirjen IKP dalam dialog interaktif menitipkan pesan kepada sang maestro Ki Manteb Soedharsono untuk meneruskan pesan tersebut dalam penampilannya bahwa kegiatan ini memiliki tema “Kita Berubah Untuk Indonesia” dan menitikberatkan pada Revolusi Mental yang memiliki tiga kunci utama dalam mengubah karakter bangsa dengan sikap integritas, gotong royong dan etos kerja.

Berbicara tentang integritas, Bu Niken mencontohkan dalam cakupan sehari-hari jika menjual sembako harus jujur dalam melayani, kalau di lingkup sekolah jika ujian tidak boleh mencontek.

Kesimpulan yang saya ambil adalah upaya pengubahan mental dan pola pikir serta karakter bangsa harus melibatkan semua pihak, dari pemimpin negara, pejabat negara, masyarakat hingga semua orang.

Selamat menikmati pagelaran wayang kulit. Kopi menemani di saat kantuk menghampiri.

1 COMMENT

  1. sedari kecil saya tak pernah tuntas menonton pertunjukan wayang kulit, entah ketiduran atau hengkang di pertengahan ehehehe

    tapi pernah satu kali, saya berkesempatan menonton di desa dan justru diajak duduk di balik layar sehingga benar-benar menyaksikan “bayangan” wayang kulit … sungguh berkesan dan bagi saya lebih indah

    thanks kak Hendi, ora lali jajan nasi gandul to?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here