Ini Alasan Pranata Humas Perlu Belajar Story Telling

3
355
views
Peserta Diklat Pranata Humas memaparkan program di instansinya (Foto: Lida Noor)

Sebanyak 25 orang calon pejabat fungsional pranata humas mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Fungsional Pranata Humas Tingkat Keahlian Angkatan VIII di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada tanggal 31 Agustus – 22 November 2016.

Peserta berasal dari Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Kesehatan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah Kota Semarang.

Diklat pembentukan ini merupakan syarat pengangkatan ke dalam jabatan fungsional Pranata Humas sesuai Peraturan Menteri Kominfo Nomor 31 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Fungsional Pranata Hubungan Masyarakat.

Pada hari Jumat, tanggal 11 November 2016, salah satu praktisi komunikasi dan dosen di sebuah perguruan tinggi swasta, Dian Anggraeni Umar, mengajar mata diklat Manajemen Media Kehumasan Pemerintah yang totalnya berlangsung selama 15 jam pelajaran atau 675 menit. Mata diklat ini membahas jenis dan karakteristik media kehumasan, perencanaan media kehumasan, organisasi media kehumasan, desain dan produksi media kehumasan, mengelola distribusi media kehumasan dan evaluasi efektivitas media kehumasan.

Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk kemudian memaparkan media kehumasan yang digunakan di instansinya. Peserta dari Pemerintah Kota Semarang mempresentasikan program Lapor Hendi, layanan penghubung warga Kota Semarang dengan Walikota Semarang, Hendrar Prihadi. Sejak program ini diluncurkan pada tanggal 3 Mei 2016, warga Kota Semarang melaporkan aduan melalui SMS dan surel. Salah satu publikasi program ini adalah dengan memasang baliho di kawasan teramai di Kota Semarang, yakni Simpang Lima.

Dian menilai presentasi mengenai program ini cukup komprehensif namun belum terukur berapa banyak warga yang memanfaatkannya.

Selanjutnya, peserta dari Kementerian Kesehatan mempresentasikan program CERDIK yang merupakan program internal Kementerian Kesehatan dan eksternal berskala nasional. CERDIK merupakan singkatan dari Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stress.

Dian menilai video CERDIK yang ditayangkan peserta masih terlalu sederhana untuk skala nasional. Dian menekankan untuk mengukur dampak dari setiap program pemerintah, seperti berapa banyak masyarakat yang cek kesehatan, berapa banyak masyarakat perokok yang konsultasi berhenti merokok.

Dian berpesan kepada peserta untuk memahami konsep komunikasi secara luas. Saat ini para praktisi sudah mulai segmented. Misalnya ada komunikasi kesehatan, komunikasi pendidikan, dengan pendekatan berbeda. Berbeda pula dengan komunikasi lingkungan, komunikasi energi. Pranata Humas harus menajamkan konsep strategi komunikasi, bukan lagi strategi komunikasi umum.

Contohnya pada program Lapor Hendi. Apakah tujuan akhir dari program ini pada keamanan atau yang lainnya. Dian juga mengkritisi branding program ini pada walikota. Hal ini dinilai Dian akan menyulitkan humas Pemerintah Kota Semarang jika yang bersangkutan tidak lagi menjabat sebagai Walikota Semarang. Lima tahun kedepan, Humas Kota Semarang akan kerepotan mengedukasi warganya yang telah cukup mengenal program Lapor Hendi.

CERDIK, pendekatannya adalah sosial marketing. Pranata Humas harus mampu mengemas story telling dan menjadi story teller. Dian memberikan contoh salah satu produk susu formula terkenal memberikan hadiah CD cerita rakyat. Sasaran produknya adalah anak-anak. Ibu-ibu yang membeli produk susu formula tersebut senang jika membeli produk dapat hadiah, dan mengandung nilai edukasi. CD cerita rakyat itu, mengajarkan anak-anak yang baik dan yang salah.

“Tradisi bedtime story di Indonesia kini sudah mulai menipis. Di luar negeri masih ada. Kementerian Kesehatan harus ada. Dengan story telling, lebih mudah mengedukasi publik,” kata Dian.

Dalam menyampaikan informasi, penting diperhatikan konten, medium dan komunikator.

“Geserlah mindset pemerintah yang berpikir bahwa regulator adalah yang bermain. Buat industri berpikir bahwa inisiatif datangnya dari pemerintah,” kata Dian. Paling mudah pemerintah bekerja sama dengan industri. Contohnya CERDIK, R adalah Rajin berolahraga. Pemerintah bisa bekerja sama dengan fitness center. D adalah Dian Diet. Pemerintah bisa bekerja sama dengan banyak program diet. Industri akan sedang seperti mengalami endorsement.

Setelah kembali ke instansinya masing-masing, peserta diklat akan menerapkan yang telah dipelajari antara lain dengan membuat stakeholders mapping, pembenahan database, media relations dengan wartawan, survey, monitoring media dan audit komunikasi.

3 COMMENTS

  1. Sepakat sekali kakak Lida, metode story telling sangat ampuh untuk berbagi gagasan dan semangat agar program kerja didukung oleh publik yg merasa dilibatkan

    Proficiat!

    • lha bukannya kakak Lida udah ikutan diklat story telling … eh judul diklatnya apaan? oia .. diklat pranata humas … harusnya ada diklat story telling dong kakak ahahahaha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here