Karena makan dan minum adalah hak segala bangsa

7
295
views

Tumben-tumbenan siang itu, sekitar pertengahan pekan lalu, pasca demo 4 November 2016, seorang pejabat teras dan tokoh senior kantor mengajak saya makan siang di luar. Siapa mereka, pada dasarnya, tak penting untuk dijelaskan namun karena satu dan lain hal, saya pun akan mengenalkan dua pahlawan saya di siang itu.

Yang pertama bernama Lida, dari Direktorat Komunikasi Publik, Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP). Beliau begitu cerah sumringah menyambangi saya dan tokoh senior kantor di gedung belakang lantai 2, dan mengajak untuk bergegas karena waktu makan siang yang terbatas, katanya. Ini mengherankan tapi saya ikuti saja sebab urusan perut harus diutamakan terlebih dahulu dibandingkan membaca postingan Di Media Sosial Juga Ada Etikanya.

Tokoh senior kantor yang saya maksud adalah Filmon, dari sudut pojok tenggara yang telah mengawal dua periode pejabat Eselon I Ditjen IKP Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Beliau yang satu ini juga tengah gencar mengumpulkan angka kredit dan juga membesarkan sebuah group Whatsapp yang konon dapat menampung seluruh kontak nomor telepon seluler pegawai Ditjen IKP. Konon, Filmon gemar pula ke perpustakaan Kominfo.

“Ke mana kita?” tanya Filmon kepada Lida dan saya yang sontak mengangkat bahu, sekalian melemparkan beban jawaban atas pertanyaan lokasi maksibar kepada sang ibu pejabat teras itu.

“Ada warung bakso yang enak banget di belakang,” kata Lida.

Yang dimaksud belakang adalah sepotong jalan Abdul Muis dengan panjang kurang lebih 5 kilometer (silakan diukur kalau tidak percaya) dari ujung ke ujung. Haqulyakinsaya, di belakang tidak ada warung bakso karena selama lima tahun terakhir ini, saya meniti jalan itu dengan penuh hikmat dan cermat dan tidak ada jejak aroma gurih dan harum khas kuah bakso.

Pengetahuan kuliner saya mungkin kalah telak dibandingkan dengan kebijaksanaan gastronomi molekuler Lida, tapi tetap saja di belakang itu hanya ada kantin swasta, mie ayam, ketoprak, bubur ayam (hanya pagi hari sd. pkl 08.30 WIB), mie aceh, warung manado, rujak dan buah segar (ada dua bapak-bapak), dan barisan perkantoran perbankan saja. Mungkin tempat baru, batin saya menggema.

Cuaca cerah cenderung api jahanam neraka ketika Filmon mulai mengeluh kepada Lida karena warung yang dimaksud belum jelas keberadaannya. Peluh juga mulai mengembun di dahi dan kening saya. Namun demi rasa hormat kepada kedua senior, saya memilih misuh-misuh dalam keheningan jalanan Ibukota.

Sebagai catatan, keheningan adalah hil yang mustahal diperoleh di Jakarta, apalagi di tengah siang bolong ketika setiap insan manusia berbondong-bondong mencari sesuap nasi, betul-betul mencari nasi lauk pauk dan minumannya sembari berebut meja dan kursi untuk menghindari standing party lunch atau modus dibungkus.

Jakarta bukan kota yang hening. Demonstrasi unjuk rasa atas ketidakpuasan jalannya roda pemerintahan hampir setiap hari melewati jalan Medan Merdeka Barat — entah menuju Mahkamah Konstitusi atau sudut selatan Istana — sehingga seluruh arus lalu lintas dari Gambir dan Thamrin dialihkan melalui jalan Abdul Muis. Hening sekali kan?

Seorang kawan pernah berujar, bahwa keheningan manusia didapatkan di tempat-tempat tak terduga, misalnya toilet. Cct!

OK, kembali ke Lida. Benar saja, kami bertiga menyusuri trotoar jalan Abdul Muis sampai ke ujung utara, di pertigaan lampu merah Tanah Abang 1. Syukur alhamdulillah kami tidak menyeberang ke utara, bisa-bisa sampai Harmoni – Kota Tua! Tapi saya yakin di sana pasti ada warung bakso. Coba saja. Ehehehe

Di sudut selatan-barat lampu merah itu, ada rumah makan Karya Minang Jaya; tentu tak ada bakso di kuliner Padang. Lanjut. Lalu kami melewati warung mie ayam dan bakso Cha-Cha. Lida acuh tak acuh sok ga butuh dan terus melangkah meninggalkan saya dalam kekosongan batiniah manusia postmodern yang digambarkan dengan ciamik oleh Knut Hamsun dalam novelnya: Lapar! Saya ingin berteriak kepada perempuan pejabat teras itu bahwasanya ada bakso di Cha-Cha. Senioritas menghimpit beban dan hambatan struktural. Saya membisu. Lanjut.

Berikutnya kami melewati kepulan asap sate kambing dan uap kuah sop kambing di ujung depan gang buntu, tepat sebelum warung Minang Sepakat Jaya yang tentunya menjual masakan Padang yang pastinya nirbakso. Oia, warung kambing tadi lumayan segar jeruk panasnya. Bisa pesan jeruk panas manis tanpa gula. So mouth watering. Keren.

Lanjut, kami melewati Pondok Pas’on yang saya tak tahu jualan menu makan minum apa karena memang belum pernah menjajal kehebatan sang juru masaknya. Next time, beib, batin saya. Sebelum pondok, ada satu tempat makan yang saya lupa namanya, tapi sepertinya jualan nuansa dan romansa atas kenangan masa lalu bersama mantan atasan. Menyakitkan. Lupakan. Lanjut.

Filmon sepertinya sudah masuk trance mode karena beliau berjalan tanpa roh dan membebek Lida tanpa syarat. Jangan tanya keringat yang menderas dan daki yang menebal. Setali tiga uang lah dengan saya. Tolong jangan khawatir dengan Lida karena beliau itu saya paham sekali, butuh membakar beberapa juta kilo kalori per hari. Hahaha *pisss Lida

Akhirnya kami tiba di ujung jalan Tanah Abang 1 yang ditandai dengan restoran kecil Gudeg Kandjeng yang menurut saya bersih nan higienis. Soal rasa jangan tanya, saya belum pernah. Agak picky kalo menu gudeg. Tentu tak ada bakso di sana.

Dari koordinat itu, sejujurnya kami bertiga sedang menatap gedung Walikota Jakarta Pusat yang alhamdulillah terletak di jalan Kebon Jahe Kober yang sangat legendaris. Bukan karena ada Museum Taman Prasasti melainkan nilai historis Kebon Jahe Kober sebagai eks situs pemakaman modern tertua di dunia! Kerkhof Laan antara Rijswik dan Tenabang Straat. Ga percaya, baca saja laporan ini.

Mulailah kami menyusuri jalan yang menyempit itu. Sepelemparan tombak kemudian, Lida berteriak, eureka! Aku menemukan warung bakso Sony Tanosa 10, kata Lida. Rupanya, itulah yang menjadi tujuan maksibar kami bertiga. Agak sepi. Saya duduk, pesan bakso, minum air putih, bayar, trus pulang. Sekian.

Jadi tolong dicatat, wahai sidang pembaca, dari jalan Abdul Muis ke jalan Tanah Abang 1 ke jalan Kebon Jahe Kober. Belum selesai karena perjalanan pulang pergi. Rute kembali adalah jalan Kebon Jahe Kober ke jalan Tanah Abang 1 ke jalan Abdul Muis. Berasa keliling mengitari Monas tiga kali.

Kalau ditanya mau ga ke sana lagi, pasti saya menolak kecuali dibayarin dan boleh nambah air putih baksonya.

Mau?

7 COMMENTS

  1. Capek ya Pak jalannya? Hahaha. Tapi lain kali bisalah tim KP diajak maksibar disana Pak 😀 Link blog ini saya sebar di grup portal ya Pak biar banyak yang mampir hahaha 🙂

  2. Trus testimoni tentang baksonya mana,kaka?coba tanya ke mas Filmon,enak ga?klo ada perbedaan rasa,mungkin karena yg satu rasa ‘bayar’

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here